Di masa kejayaan manusia bumi, buku adalah penjelmaan kecedasan, rahasia dan sejarah penaklukan. Tinta-tinta menari mengusung perlawanan yang diam-diam atau terang-terangan. Rangkaian huruf menyimpan lautan kunci-kunci dunia. Saat seseorang menuliskan kata-katanya dalam lembaran kertas, saat itu juga ia sedang berbicara untuk manusia hingga beratus-ratus juta tahun ke depan. Penaklukan yang tanpa batas waktu bahkan mampu berhadapan dengan wilayah kekuasaan raja-raja lalim.
Alle berdecak kagum melihat jejeran buku yang berbaris manis di dalam lemari bertekanan tinggi. Sebagai seorang penulis biasa, belum pernah sekalipun semasa hidupnya ia bermimpi mendapat kesempatan seperti ini. Melihat dan bisa membaca salah satu buku diantara sekian ratus yang ada. Buku yang sebenarnya! Terdiri dari kertas dan tinta, kayu dan senyawa kimia, pohon dan semesta. Hatinya bernyanyi.
“Kau sudah memilih satu?”
Alle tidak mendengar langkah kaki gadis itu, hingga tubuhnya berjengit mendengar suaranya yang berbisik tepat dibawah telinga.
“Kau senang sekali melihatku terkejut,”tukas Alle terganggu.
Gadis itu tersenyum geli,”apa harus sampai sore lagi? Ini sudah hari ke tiga kau melihat-lihat. Aku bahkan sudah selesai menulis dua bab,”
Alle mengeluh dan menunjuk tiga buku yang berbeda,”aku sulit memutuskan mana dari ketiga buku itu yang ingin aku pinjam,”
“Yang bersampul hitam itu saja,”
Alle menaikkan alisnya.
Gadis berambut ikal hitam kecoklatan itu mengedikkan bahunya,”Intuisi,”
Alle memutar bola matanya,”Bhuf,”dengusnya gembira,”bilang saja kau merasakan kekuatan buku itu. Selama ini bukan hanya aku satu-satunya yang percaya pada kemampuanmu,”
Alle menekan kristal hijau di samping lemari buku dan memasukkan kode buku yang dimaksud. Beberapa detik yang tidak lama, kristal itu mengeluarkan cahaya, membentuk hologram.Wajah Broch Wandu, pemilik perpustakaan itu menatapnya dengan sorot ingin tahu. Namun sebelum ia mengucapkan sesuatu, matanya menangkap sosok gadis bermata hazel di samping Alle.
“Wooo, tidak heran kau memilih buku yang jarang sekali dipinjam orang lain. Ternyata kau ditemani oleh Na Harlia Syakil, penerjemah getaran,”laki-laki paroh baya itu terlihat mengangguk samar pada gadis di sebelah Alle. Wajah gadis itu merona merah.
Alle membuat seringai lebar di wajahnya,”Ia baru empatbelas tahun, Broch,”
Broch Wandu mengernyit bingung, kemudian terbahak menyadari maksud Alle.
“Ay…ya-ya. Orang sekarang terlalu mempertimbangkan usia. Kalau menurut mereka, kau pasti belum Wan Allega Raya,”
Bocah laki-laki bermata segelap malam itu mengangguk sekali.
Broch Wandu tertawa lagi.
“Padahal kau penyisir waktu. Bagaimana bisa mereka tidak memanggilmu Wan,”suara kakek itu terdengar gusar walau nadanya tidak naik sedikitpun.
“Dan gadis muda ini,”tunjuknya dengan jari gemetar,”ia bahkan puluhan kali berhak dipanggil Na dari pada orang lain yang tidak bisa berbuat apa-apa,”Broch Wandu terbatuk-batuk kecil.
“Na, Wan, Ieunji, Broch! Mereka pikir didapat begitu saja karena usia?”ujar Broch Wandu tersengal diantara batuk.
“Apa kalian juga berpikir begitu?”mata Broch Wandu tidak besar tapi sorotnya membuat Alle dan Lia terpaku.
Belum lagi mereka mengucapkan apa-apa, cahaya kristal hilang dan sambungan hologram lenyap.
(tulisan ini ikut meramaikan sayembara fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)