h1

el Vittae

Januari 3, 2009

Selamat datang di tempatku. Silahkan menjelajah dan meninggalkan jejak. Setiap kunjungan adalah serbuk-serbuk kebahagiaan yang memberikan kesuburan pada tanah mimpi di sini. Kegembiraan adalah perayaan-perayaan yang dituai dari rangkaian diskusi dan jalinan komentar. Semoga cinta selalu membersamai. amien.

———————————————————————————-

Mari menghidupkan mimpi, menambah energi di bumi (elbintang)

h1

Emeth (POV Chiko)

Agustus 11, 2009

EMETH

Bantu aku menuliskannya, yah?

[aku tahu jika aku percaya pada kemampuanku untuk menyembuhkan diri sendiri dari dalam, mungkin aku bisa tertolong. Tapi energi dari metabolisme memori air ketuban ini sangat terbatas. Lagipula aku tidak begitu mahir tentang ini. Aku melakukan apa yang harus kulakukan]

Kau pernah merasakan salah satu anggota tubuhmu mati rasa? Maksudku, orang lain mencubitmu hingga memar namun kau tidak merasakan apa-apa di tempat yang dicubit. Pernah? Atau kau pernah dibius? Atau pingsan? Itu 1000x lebih baik dari pada orang lain mengira kau mati rasa, pingsan atau dalam pengaruh bius tapi sebenarnya kau masih bisa mendengar, merasakan bahkan melihat apa yang mereka lakukan. Ya. Dalam kasusku sih, tidak benar-benar melihat. Kau tahu bagaimana seorang paticka menyebut hal itu.

Oh ya, aku berharap kau memiliki cukup banyak waktu dan tempat untuk menyimpan kisah ini. Karena aku akan bercerita cukup panjang dan… mungkin setelah membaca kisah ini, aku membutuhkan pertolonganmu.

Mungkin juga tidak.

Paling tidak aku sudah memperingatkanmu.

Namaku Chiko Qortina. Paticka Sheevh level 4, atau kau bisa menyebutku paticka penyembuh. Semua orang memanggilku Chiko. Kini aku dan seorang Sulemn, neural tingkat dua tertinggi, berada dalam ruangan bercat biru pupus yang entah di mana, terbujur kaku, berdarah-darah dengan luka dan robek di sekujur tubuh. Menuju mati.


h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (6/6)

Agustus 11, 2009

”Mari kita mulai,”

Lia meletakkan keduatangannya di lembar yang berbeda. Angin besar bergelung seolah dipaksa keluar dari buku, bunyinya berdesing membelah udara. Menjaga agar tetap terkendali, Lia berdiri dengan konsentrasi penuh.

Tiba-tiba, Alle menarik tangan gadis itu kuat-kuat dan sigap menutup bukunya sebelum terjadi sesuatu. Ruang perpustakaan menjadi hening dan sangat sunyi.

”Ada apa? Mengapa menghentikan aku?”ujar Lia gusar.

Ada yang belum kita ketahui,”jawab Alle dengan nada datar yang tidak mau dibantah.

Pemuda itu menekan kristal hijau dan memasukkan kode perpustakaan. Sinar kristal tidak membentuk hologram. Tidak ada orang di bagian pusat informasi.

Alle mendengus jengkel,”Kristal pada data khusus perpustakaan”Alle meminta terhubung dengan data khusus. Kepala Alle diselubungi cahaya hijau pupus. Kelebatan informasi memasuki ingatannya, otaknya memilih, menyimpan dan mengabaikan beberapa informasi,”Cukup!” perintah Alle setengah berteriak. Wajahnya terlihat sangat bingung.

Setelah agak lama berdiam diri, Alle menatap Lia dengan senyum lebar. Ia terkekeh geli hingga membuat Lia ikut tersenyum. Kemudian pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Lia menatapnya dan tak tahan untuk ikut tertawa. Mereka berdua tertawa. Alle terus tertawa hingga bening di matanya mengalir satu-satu. Alle menangis. Pelan, diantara tawanya.

Ada apa?”parau suara Lia tercekat.

“Ayahku menyebutnya siklus kehidupan, pion dan ibuku tidak mengerti itu. Namun tetap mengingatnya,” Alle menghapus hingusnya dengan kasar.

Ibu menyebut kami berdua Wan dan kau di panggil Na oleh Bronch Wandu. Padahal orang lain hanya menyebut nama. Itu karena mereka tidak mengerti,”

Senyum mengejek berkembang di wajah Alle,”Kapan kau dilahirkan, Lia?”

Kau bisa mengingatnya?”ajuk Alle. Wajahnya tiba-tiba berubah lebih tua puluhan tahun.

Aku punya ingatan yang ajaib. Kadang-kadang aku bisa ingat, seringkali aku sama sekali lupa,”jawab Lia lugas.

”Kita juga tidak pernah tahu warna langit sesungguhnya dan rasa sengatan matahari yang aseli,”Alle berbicara tanpa maksud yang jelas.

”Semua orang di sini tidak pernah melihat pepohonan dan hewan yang sebenar-benarnya,”tiba-tiba Alle berdiri dan berjalan mondar-mandir.

Pemuda berambut hitam cepak itu mengetuk meja,”besi, berwajah kayu,”ia menuju lemari,”lagi-lagi besi,”tawanya miris.

Hanya Wan dan Na yang tidak nyaman hidup di sini,”

Lia mengangkat alisnya sebelah. Hanya mengingat kondisi Alle yang seperti orang gila saja membuat gadis itu menahan diri. Ia ingin sekali memukul kepala Alle keras-keras dengan buku ajaib itu. Ia bukan tipe gadis yang bisa lama-lama mendengar orang berceramah.

Aku bisa mendengar pikiranmu,”tukas Alle mengejek.

”Kita tidak pernah ada di dunia ini, Lia. Kita hanya pion sang penulis yang bisa dihapus saat ia tidak suka,” Alle melirik wajah Lia yang tidak berekspresi.

”Ah, kau tidak percaya?”Alle menarik Lia mendekat dan membuka buku ajaib dengan sangat hati-hati.

Lima belas halaman pertama tentang permulaan siklus kehidupan manusia. Lahir, bayi, anak kecil, remaja, dewasa, menikah, mengandung, melahirkan, tua, sakit dan mati,”Lia melihat gambar-gambar yang tidak pernah ia lihat seumur hidupnya. Gambar dirinya.

”Halaman selanjutnya tentang kebiasaan-kebiasaan manusia. Makan, minum, berpakaian, bersekolah, bercinta, marahan, membunuh, dan banyak lagi. Kita hanya mengenal beberapa,”Alle menggeram gundah.

”Kita tidak pernah menguburkan orang mati,”ucap Lia masih dengan nada datar tak percaya.

Alle memegang kedua tangan Lia dan meletakkan di ubun-ubunnya.

”Kau bisa menangkap gelombangku?”

Lia menganggukkan kepala mengiyakan.

Cari tau apa yang bisa kau liat di kepalaku,”

Seandainya Lia bukan penerjemah gelombang mungkin ia hanya bisa menerima kode-kode yang tidak bisa dimengerti apalagi dilihat. Namun gadis bermata hazel itu memiliki kemampuan menerjemahkan gelombang. Dan ia melihat apa yang diingat di masa lalu Alle. Apa yang benar-benar tidak terlupa walau gambarnya samar-samar.

Itu ayah dan ibunya. Mereka mengantarkan dirinya dengan airmobile ke perpustakaan Bronch Wandu. Dua hari lalu. Ayahnya menggunakan seragam oranye-biru-merah yang super norak itu untuk pertunjukan di kota. Sedangkan ibunya terlihat bahagia dengan baju terusan pendek selutut berwarna pastel.

Lia melepaskan tangannya di ubun-ubun Alle.

”Jika kita ini pion, sekedar cerita yang boleh dihapus, mengapa mereka membolehkan kita tahu?”protes Lia tersedak tangis rindu yang sangat pada orangtuanya.

”Karena hanya darah Wan dan Na yang mampu menggerakkan cerita,”jawab Alle mendengus geli.

”Aku tidak benar-benar mengerti,”ucap Lia diantara isaknya.

Ieunji pencipta alat, Bronch penggerak plot dan Wan serta Na adalah lakonnya,”Alle tertawa mengejek dirinya.

”Buku ini,”Lia menunjuk buku ajaib yang mengeluarkan petir, kilat dan angin yang mengiris udara,”untuk apa?”

”Menyimpan ingatan kita dan orang-orang yang telah dihapus”

”Aku tidak mengerti,”

Alle menganggukkan kepalanya menyetujui,”Aku juga. Mungkin karena kita tidak pernah punya kesempatan untuk menulis dengan buku dan tinta,”

”Apakah kita juga akan dihapusnya?”

”Mungkin. Kalau ia sudah menemukan Wan dan Na yang lain,”

”Tega sekali!”

”Ya.”

(tulisan ini ikut meramaikan sayembara cerpen fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (5/6)

Agustus 11, 2009

Jadi begitu.

Walau membuka hari dengan kenyataan yang aneh, Alle tetap bergegas pergi mengambil buku di rumah Bronch Wandu. Entah mengapa ia beranggapan buku itu sangat berhubungan dengan kenyataan aneh di pemukiman dan bisa menjelaskan hilangnya ayah serta beberapa orang selama ini. Ia juga percaya, kekuatan Na Harlia Syakil membuat buku itu bisa jadi benar-benar istimewa.

Di pintu gerbang ia bertemu dengan Lia. Rambut ikalnya kusut, seolah buru-buru keluar rumah dan rautnya menyimpan banyak tanya. Ia mungkin mengalami pengalaman yang mengerikan. Rumahnya berada di kawasan yang cukup lega dan menyenangkan sebelum tiba-tiba berada di wilayah pemukiman padat yang sangat bising. Dalam semalam.

Namun wajah gadis itu berubah cerah begitu ia melihat sosok Alle.”Kita bertetangga, sekarang,”sapanya riang dari atas sepeda. Wajahnya mengulas senyum lebar.

Alle mengangguk,”kau tidak lupa,”jawabnya pelan.

”Aku lupa sebelum sejam yang lalu,”

Mata Alle membulat kaget,”bagaimana kau lupa dan bagaimana kau ingat?”

Seperti terbangun dari mimpi. Lupa sedang mimpi apa kemudian pelan-pelan ingat. Bedanya…aku tahu itu bukan mimpi,”

Alle ingat sesuatu,”Kau ingat ayahku?”

eh?”Lia menempelkan kartu parkir setengah hari di sepedanya,”Apa kau pernah menceritakannya padaku?”tanya gadis itu, balik.

Alle menggelengkan kepalanya.

”Bagaimana dengan ayah dan ibumu?”

Lia menatap Alle dengan pandangan menuduh,”Kau ini kenapa? Ayah dan ibuku kan sudah lama meninggal. Aku tinggal dengan paman dan bibiku, ingat?”

Alle merasakan kengerian dalam hatinya. Kemarin ia masih sarapan dengan makanan rantang hasil masakan ibu Lia.

Kuharap kau akan ingat nanti.

Dengan kartu chip yang diberikan Bronch Wandu, mereka berdua menuju ruang perpustakaan yang bersuhu dingin. Tak ada yang memperhatikan kamuflase pemandangan taman berisi bunga-bunga di musim semi menggantikan hutan tropis yang mereka lewati kemarin. Alle masih terkejut dengan kenyataan hidup yang baru saja ia sadari, sedangkan Lia sesekali melirik ke arah Alle, merasa ada yang salah hari ini.

Apa ini?”desis Alle tak percaya. Ia bergelung duduk menahan dinginnya ruangan sambil membaca buku pilihannya di salah satu kursi panjang yang tersedia.

Ia baru saja sampai ke halaman dua puluh tiga ketika lembaran buku itu terpapar kosong. Ia membuka lembaran selanjutnya…kosong. meneruskan ke halaman berikutnya, kosong dan terus hingga buku itu selesai. Buku berukuran 40×10x27 cm itu seolah mengejeknya.

Lia mendekati Alle yang dengan hati-hati membolak-balik lembaran kosong buku itu.

Buku apa ini?”Lia meletakkan kedua tangannya di atas satu lembaran kosong yang terbuka dan tak menyangka gelombang buku itu melemparnya keras ke dinding ruangan.

Lia!”seru Alle, spontan melompat ke arah dinding. Kepala Lia terantuk dadanya sebelum jatuh lemas.

Dari buku itu keluar kerjapan cahaya putih yang sangat menyilaukan. Satu kali kerjapan, dua…kemudian gelegar suara yang memecahkan gendang telinga itu menghantam dinding perpustakaan. Lemari besi bergetar. Atap ruangan otomatis membuka. Langit menerima amukan petir yang susul menyusul. Alle merapatkan tubuhnya ke lantai, menyelubungi Lia yang tak sadar.

Setelah beberapa menit berlalu yang hampir tak kunjung selesai, Alle tidak mendengar apa-apa. Telinganya masih sakit dan berdenging. Ia beringsut, menegakkan tubuhnya dengan payah untuk duduk.

Alle, bukunya,”desis Lia. Wajahnya pasi dan matanya masih tertutup rapat

Alle melirik ke buku aneh itu dan hampir berharap ia memiliki api untuk membakarnya.

“Ibumu tidak ada,”gumam Lia tak jelas.

”Apa?”

Ibumu…getaran ibumu menghilang!”sontak Lia bangun dan mengerang sakit. Kepalanya sakit dan tubuhnya lemas.

Alle memusatkan pikirannya, mencari jejak gambar ibunya. Tidak ada.

”Siapa nama ibuku, Lia?”

Niulan Ni’u,”Lia memandang Alle cemas,”rekam dalam ingatanmu, jangan sampai lupa,”

Niulan Ni’u. Di mana aku membacanya?

Alle melirik Lia dengan enggan.”Aku ingin mencobanya sekali lagi, Lia. Kau bersedia?”

Tawa halus setengah mengejek keluar dari mulut gadis bermata hazel,”Kau kira aku akan mati hanya dengan kerjapan kilat itu?” Lia bangkit dari duduknya dengan seringai kesakitan.

”Tadi aku tidak siap. Sekarang kita liat bagaimana kali ini ia melemparku,”Lia duduk di atas kursi, melebur dengan gelombang buku dan mengisolasi dirinya dari gelombang-gelombang lain.

(tulisan ini ikut meramaikan sayembara cerpen fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Wan dan Na – Kerinduan Buku- (4/6)

Agustus 11, 2009

Rumah Alle terletak di pemukiman padat penduduk. Bangunan berbentuk kotak yang seragam dengan penduduk yang lain, memiliki dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu ruang tamu tanpa hiasan apa-apa.

Cukup sebagai tempat istirahat dan melepas lelah. Itu jika tidak mempunyai seorang adik yang suka sekali mengganggu dan ibu yang terlalu gampang cemas.

Seperti, ”Ouch!”mata Alle terbuka dengan paksa, adiknya menghentikan kondisi tidur dari dalam otaknya. Ia memang memiliki kemampuan menyusup ke dalam kondisi tidur seseorang. Dan itu tindakan yang sangat kurang ajar.

”Ada apa?”serunya tertahan begitu matanya menangkap wajah ibunya yang mencemaskan sesuatu.

”Keluarga Pak Bhirawa, hilang,”lapor ibu.

”Mungkin mereka pindah ke pemukiman lain, bu,”

Berikut rumahnya?”potong Rega, adiknya, cepat.

Mereka tadi sore masih ada, rumahnya masih ada. Biyan, masih bermain petak umpet denganku. Mana bisa mereka pindah seperti bayangan,”adik perempuan satu-satunya itu menatap Alle dengan sengit.

Alle mengeluh dalam hatinya. Ia tidur belum lebih dari dua jam. Ia berjanji akan menukarkan tulisannya dengan tulisan Lia, besok. Alle bangkit dari tidurnya dan melongokkan pandangan ke luar jendela. Sudah hampir pagi. Harusnya ia dapat melihat menara air milik keluarga Bhirawa. Sekarang ia hanya melihat…

”Rumah bundar milik keluarga Harlia pindah ke situ?”ucapnya tak percaya.

Ini sudah yang ke empat kali dalam minggu ini, Alle. Lapangan menghilang digantikan pasar, sekolah Rega pindah tempat dari pojok timur ke tengah pemukiman, ketua pemukiman dan keluarganya hilang, rumahnya berubah jadi kantor penitipan sepeda. Semua ini mengerikan,”tubuh ibunya bergetar hebat. Duduk di tempat tidur Alle, ibunya terlihat benar-benar ketakutan.

Apa tidak ada yang melihat iklan akhir-akhir ini? Mungkin saja ini hasil terbaru dari karya para Ieunji itu.”

Beberapa waktu lalu, pemukiman mengalami hal seperti ini dan ibu kehilangan ayah,”rambut hitam lurus sebahu milik Rega dipermainkan angin yang berhembus dari jendela.

Alle ingat ayah mereka yang menghilang tiba-tiba. Semua orang melupakannya kecuali mereka bertiga. Seperti di hapus. Tapi bagaimana peristiwa itu terjadi, ia tidak ingat.

”Aku juga tidak, sampai ibu menceritakannya kembali padaku, tadi,” ucap Rega seolah menjawab pikiran Alle.

”Kalian berdua adalah Wan, makanya ibu khawatir…”

Alle ingat tentang gelar-gelar yang membuat Bronch Wandu gusar tadi sore.

Apa yang harus kami lakukan, menurut ibu?”tangan Rega memeluk ibu yang gemetar. Bocah itu memiliki kekuatan yang menenangkan syaraf.

”Ayah kalian menyebut-nyebut pion. Ibu tidak mengerti itu maksudnya apa,”

Rega memijat pundak ibu dengan lembut. Tidurlah, bu

Pion dan siklus kehidupan,”gumam ibunya samar antara tidur dan jaga.

Rega menatap wajah kakaknya yang berpikir serius. Tidak. Lebih tepatnya Alle sedang menyisir waktu. Memori ibunya.

”Menemukan sesuatu?”sela Rega setelah menit-menit berlalu dalam diam.

”Mungkin kau lebih berguna saat ibu sedang tidur,”

Rega menggelengkan kepalanya dengan sedih.”Aku sudah mencobanya beberapa kali hari ini,”

Kosong?” sergah Alle sakit hati. Rega mengiyakan.

Hanya saja, dua hari yang lalu ibu bertanya-tanya tentang buku yang akan kau pinjam dari Bronch Wandu,”

”Ibu bertanya padamu?”

Rega menggeleng. ”Aku mengintip tidurnya,”

“oh”

(tulisan ini ikut meramaikan sayembara cerpen fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (3/6)

Agustus 11, 2009

”STOP!”hampir bersamaan Alle dan Lia memberi perintah.

”Apa?”lagi-lagi hampir bersamaan.

Lia mengangkat tangannya,”Aku merasa ibumu bertengkar dengan penjual ikan,”

”Bhuf,”Alle bergetar geli. Ia diam sejenak dan mengangguk mengiyakan.

Tukang ikan itu mengirimkan gambar ikan yang berbeda dengan yang dijualnya. Ibu tidak mau membelinya. Tapi tukang ikan tidak percaya, ia butuh saksi,”

Harlia tertawa geli,”Pasti ibumu meneriakkan namamu dalam benaknya keras-keras hingga aku bisa merasakannya,”

Ibu tahu aku sedang bersamamu,”aku Alle dengan nada memuji. ”Dan ia membutuhkan kamera tersembunyi dalam otak anaknya,”sambung Alle mengeluarkan chip dari kantong di atas bahunya.

Mereka telah tiba di pintu gerbang rumah Bronch Wandu. Dari lorong perpustakaan yang dingin dan panjang mereka disambut paparan matahari yang segar, angin sepoi-sepoi, ramainya kicauan burung dan tarian pepohonan yang hijau. Semuanya dirancang semirip mungkin aslinya. Begitu menurut promo yang diliat Alle di dinding-dinding iklan. Bagaimana mereka mengenal citra dan rasa aslinya adalah misteri bagi Alle. Namun bagi orang-orang yang memiliki kekayaan bertumpuk, memiliki itu semua, seperti sebuah status.

Pintu,”pinta Alle. Sebuah sinar biru pupus melintang menembus sebuah pohon besar yang rindang. Keduanya mendekati ujung sinar itu, sebuah kotak kecil mengambang sejajar mata Alle. Dimasukkan chip yang sejak tadi dipegangnya ke dalam kotak. Dalam sekejap mereka berdua telah berada di luar wilayah Bronch Wandu. Papan nama dan rumah kecil berpagar bambu sederhana yang terlihat dari luar merupakan kamuflase rendah hati sang pemilik. Mungkin. Alle tertawa kecil dalam hati.

Apa, besok kita ke sini lagi?”Lia menguncir rambutnya dengan asal. Hari ini, orang-orang memilih mengatur hawa panas di jalan. Terlalu panas.

”Sepertinya, kita baru bisa mendapatkan buku itu, besok. Jadi…ya. besok kita ke sini. Lagi,”

”Hmm…”

”Apa?”

Harlia memiringkan kepala, matanya balik bertanya.

”Apa itu hmm?”tanya Alle terganggu.

Harlia mengedikkan bahunya, ”Bukan apa-apa…”

”Liaaa…”

”Aku akan tanyakan besok saja,”jawab gadis itu dengan senyum lebar, melambaikan tangan dan berlari menuju sepeda yang diparkir tak jauh dari jalan.

Ibumu sudah menunggu di pintu gerbang,” setengah berteriak gadis itu memberitahu dan berlalu dari hadapan Alle.


(tulisan ini ikut meramaikan sayembara cerpen fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (2/6)

Agustus 11, 2009

Perlu beberapa detik untuk menyadari apa yang baru saja terjadi.

Ia belum membuka lemarinya…”bisik Lia pelan di samping Alle.

Aaargh!”Alle mengepalkan kedua tangannya jengkel.

Lia merasakan gelombang pikiran Alle, ”Apa? Kamu memang tidak jelas!”sungut Lia membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah pintu keluar.

Wajah Alle kaget disemprot Lia begitu saja. Namun otaknya cepat menyimpulkan sesuatu,”Hei. Mohon deh, Lia. Jangan membaca getaranku tanpa kuminta,” Alle menyusulnya dengan satu-dua langkah panjang

Kau yang sengaja membuka diri. Memangnya ada lagi cara meminta yang lebih terang-terangan dari itu?”gadis itu berjalan dengan langkah gusar.

Kalau aku sedekat itu, tentu langsung terhubung. Bodoh!” Lia kini berjalan dengan menghentak-hentakkan kaki saking kesalnya. ”Menemani kamu selama tiga hari ini ternyata benar-benar tindakan bodoh!”

”Kenapa sih jadi kau yang marah-marah?”tuntut Alle tidak mengerti. Lia mendengus keras dan berjalan lebih cepat lagi.

Alle berusaha menjajarinya,”Aku jadi membenci kekuatanmu kalau sedang begini”ujar Alle pelan. Lia meliriknya tajam.

Pendekatan yang salah

”Aku benci kekuatanmu yang tidak bisa membaca dengan jelas getaranku,”ucap Alle datar. Ia berhenti menjajari gadis itu.

Tiga hari ini, setiap hari kemari, meninggalkan pekerjaan bertumpuk di rumah. Aku tidak pernah keluar dari jalurku. Hari pertama, aku hampir-hampir tahu, kalau kau akan menemaniku sampai sore. Hari kedua, aku hampir-hampir pasti kalau buku yang kucari akan ada tiga pilihan. Hari ketiga, aku hampir-hampir yakin, kau bantu aku putuskan buku mana yang akan kita pinjam. Hampir-hampir tahu akan bertemu Broch Wandu, hampir-hampir tahu tidak bisa membawa buku itu hari ini. Dan begitu menyesal karena tadi juga…aku hampir-hampir tahu kalau kita akan marahan seperti ini,”

Hampir-hampir adalah cara Alle untuk tidak selalu percaya pada kemampuannya melihat setiap rekam jejak masa depan atau masa lalu. Semua belum pasti sampai hal itu terjadi.

Harlia menghentikan langkah dan berbalik menatap Alle tajam. Wajah Alle pasif dan balas menatapnya. Sedetik-dua detik, sepertinya sedikit lama dari itu, kemudian keduanya tergelak dan tertawa keras-keras.

(tulisan ini ikut meramaikan sayembara cerpen fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (1/6)

Agustus 11, 2009

Di masa kejayaan manusia bumi, buku adalah penjelmaan kecedasan, rahasia dan sejarah penaklukan. Tinta-tinta menari mengusung perlawanan yang diam-diam atau terang-terangan. Rangkaian huruf menyimpan lautan kunci-kunci dunia. Saat seseorang menuliskan kata-katanya dalam lembaran kertas, saat itu juga ia sedang berbicara untuk manusia hingga beratus-ratus juta tahun ke depan. Penaklukan yang tanpa batas waktu bahkan mampu berhadapan dengan wilayah kekuasaan raja-raja lalim.

Alle berdecak kagum melihat jejeran buku yang berbaris manis di dalam lemari bertekanan tinggi. Sebagai seorang penulis biasa, belum pernah sekalipun semasa hidupnya ia bermimpi mendapat kesempatan seperti ini. Melihat dan bisa membaca salah satu buku diantara sekian ratus yang ada. Buku yang sebenarnya! Terdiri dari kertas dan tinta, kayu dan senyawa kimia, pohon dan semesta. Hatinya bernyanyi.

“Kau sudah memilih satu?”

Alle tidak mendengar langkah kaki gadis itu, hingga tubuhnya berjengit mendengar suaranya yang berbisik tepat dibawah telinga.

“Kau senang sekali melihatku terkejut,”tukas Alle terganggu.

Gadis itu tersenyum geli,”apa harus sampai sore lagi? Ini sudah hari ke tiga kau melihat-lihat. Aku bahkan sudah selesai menulis dua bab,”

Alle mengeluh dan menunjuk tiga buku yang berbeda,”aku sulit memutuskan mana dari ketiga buku itu yang ingin aku pinjam,”

Yang bersampul hitam itu saja,”

Alle menaikkan alisnya.

Gadis berambut ikal hitam kecoklatan itu mengedikkan bahunya,”Intuisi,”

Alle memutar bola matanya,”Bhuf,”dengusnya gembira,”bilang saja kau merasakan kekuatan buku itu. Selama ini bukan hanya aku satu-satunya yang percaya pada kemampuanmu,”

Alle menekan kristal hijau di samping lemari buku dan memasukkan kode buku yang dimaksud. Beberapa detik yang tidak lama, kristal itu mengeluarkan cahaya, membentuk hologram.Wajah Broch Wandu, pemilik perpustakaan itu menatapnya dengan sorot ingin tahu. Namun sebelum ia mengucapkan sesuatu, matanya menangkap sosok gadis bermata hazel di samping Alle.

Wooo, tidak heran kau memilih buku yang jarang sekali dipinjam orang lain. Ternyata kau ditemani oleh Na Harlia Syakil, penerjemah getaran,”laki-laki paroh baya itu terlihat mengangguk samar pada gadis di sebelah Alle. Wajah gadis itu merona merah.

Alle membuat seringai lebar di wajahnya,”Ia baru empatbelas tahun, Broch,”

Broch Wandu mengernyit bingung, kemudian terbahak menyadari maksud Alle.

Ay…ya-ya. Orang sekarang terlalu mempertimbangkan usia. Kalau menurut mereka, kau pasti belum Wan Allega Raya,”

Bocah laki-laki bermata segelap malam itu mengangguk sekali.

Broch Wandu tertawa lagi.

“Padahal kau penyisir waktu. Bagaimana bisa mereka tidak memanggilmu Wan,”suara kakek itu terdengar gusar walau nadanya tidak naik sedikitpun.

Dan gadis muda ini,”tunjuknya dengan jari gemetar,”ia bahkan puluhan kali berhak dipanggil Na dari pada orang lain yang tidak bisa berbuat apa-apa,”Broch Wandu terbatuk-batuk kecil.

Na, Wan, Ieunji, Broch! Mereka pikir didapat begitu saja karena usia?”ujar Broch Wandu tersengal diantara batuk.

“Apa kalian juga berpikir begitu?”mata Broch Wandu tidak besar tapi sorotnya membuat Alle dan Lia terpaku.

Belum lagi mereka mengucapkan apa-apa, cahaya kristal hilang dan sambungan hologram lenyap.

(tulisan ini ikut meramaikan sayembara fantasy fiesta 2009 di www.kemudian.com)

h1

Putri Api

Maret 21, 2009

“Kamu harus benar-benar yakin untuk melakukan ini semua, Michael,”

“Aku yakin, mom. Trust me,”

“And what the hell next? you’ll die?

“Mom, kau mengumpat,”

“Mengapa tidak kita biarkan saja dia yang menemukan, kau?”

princess1“…maka mungkin saja Gabe yang akan mencarinya,”

“…”

“Im not gonna die, mom. Not now. Not in your time limitted,”

” i know that…”

h1

Pemapas Ruh (The Thief of Soul)

Maret 20, 2009

darkofthief

Biasanya aku tidak serepot ini menyelesaikan kontrak yang sudah kuterima. Ia bukan orang pertama yang kukerjai. Ia juga bukan calon Nivki pertama yang kuhadapi. Setidaknya beberapa Calon Nivki yang kuhadapi menunjukkan standar kemampuan mereka yang sesuai. Tidak seperti makhluk ini.

“Apa yang ingin kau lakukan jika tujuh menit lagi kau akan mati?”

Pemuda bertubuh kurus tanpa tonjolan otot dan mata merah karena begadang menatapku dengan wajah setengah tolol miliknya.

Entah karena dorongan apa, aku ingin bernegoisasi dengan targetku kali ini.

”atau…mungkin aku bisa memperpanjang bagianmu hingga seminggu. Tidak lebih,”

Tawa kecil terdengar melintas di tenggorokannya menampilkan seringai menyebalkan di sudut-sudut bibir. Ia mendengus keras-keras, menguarkan napas baunya ke arahku dan berlalu dengan langkah sempoyongan. Tidak peduli. Tipikal manusia kebanyakan yang sulit sekali menerima pertanyaan tentang kematian di tempat seperti ini.

Memangnya apa yang kuharapkan darinya? Ia mungkin saja benar-benar orang biasa yang tidak bisa langsung mengenaliku. Tidak seperti calon-calon Nivki sebelumnya. Begitu aku bersuara mereka langsung melakukan tindakan-tindakan antisipatif yang tidak biasa.

Yah, paling tidak dari pengalamanku, ada saja calon Nivki yang tega menamparku hingga rahangku lepas dan telingaku berdenging selama tiga hari. Ia membayar tindakannya itu dengan pengabdian beberapa tahun padaku. Calon Nivki lain memiliki kemampuan hebat hingga membuat tubuhku terpotong-potong secara acak. Yang menyebalkan dari kejadian itu adalah ia bukan targetku dan aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Begitu aku pulih, dengan terpaksa calon Nivki sialan itu kubiarkan hidup selamanya. Tenteram dan panjang. Satu hal yang berbeda adalah selera makannya. Ia hanya bisa kenyang dan hidup dengan memakan apa-apa yang dibuang manusia dan hewan dari dubur mereka. Katakan aku jorok. Tapi ia benar-benar membuat sengsara hidupku lebih dari cukup.

Calon Nivki lainnya? Yah, beberapa dari mereka tidak bertemu denganku dan hidup menerima tongkat estafet kekuasaan Nivki, penjaga kematian. Tidak banyak mempengaruhi hidupku. Namun yang pasti, banyak mempengaruhi hidup makhluk-makhluk yang senang memberiku pekerjaan.

Kembali pada pemuda bau yang dikabarkan calon Nivki ini. Jika diingat-ingat mengapa aku tertarik memperhatikan dirinya alih-alih langsung menyerangnya adalah …aku tidak tahu. Ia begitu tidak berharga sebagai manusia.

Atau memang seharusnya begitu?

Ah. Tunggu sebentar. Ini hal baru. Aku merasakan geliat kehidupan memancar kuat dari diri pemuda bau berkepala perak yang berdiri tidak jauh dariku. Calon Nivki seharusnya tidak memilikinya. Aku memang bukan pakar kehidupan walaupun aku lebih lama hidup dari beberapa Nivki. Tapi seharusnya…yap! mungkin ini yang kucari-cari. Kemampuan istimewanya yang membuat ia terpilih menjadi calon Nivki.

Ada yang terjadi dalam ruangan ini yang tidak bisa ku lihat. Namun aku bisa merasakan perubahan suasananya. Tidak mengancam keberadaanku tapi cukup membuatku merasa tidak nyaman. Kira-kira seperti kau sedang berjalan di dalam kamarmu saat lampu telah dimatikan. Kau hapal benar letak barang-barang di kamarmu namun itu tidak cukup membuatmu nyaman bergerak.

Detak jantungku mengantisipasi sesuatu. Pemuda berkepala perak itu! Ha. Seperti tidak sengaja, ia menyenggol tangan seorang pelayan cafe yang lewat di sampingnya. Dan langsung membuat efek domino. Pelayan cafe yang nahas itu meliuk-liukan tubuhnya menahan baki agar tetap di atas tangannya namun tetap saja dua gelas besar minuman berwarna hijau dan merah terang meluncur tak tertahan. Seorang laki-laki dari arah yang berbeda menangkap kilat cairan berwarna merah dan hijau, ia menghindarinya dengan cukup cepat. Tapi gerakannya menimbulkan ketidak seimbangan pada tubuhnya dan refleks ia mencari pegangan agar tidak jatuh. Sialnya ia berpegangan pada sesuatu yang bukan benda mati.

Whoa! ini dia.

Gadis itu menjerit kaget dan melontarkan rentetan kata-kata sampah yang dapat kau pungut di setiap sudut di mana saja di cafe ini. Berikut telapak tangan miliknya yang tidak seberapa besar mengarah ke wajah laki-laki sial itu. Bunyi tamparannya cukup keras hingga terdengar ke panggung, menyelip tepat diantara selesainya sang diva panggung bergaun merah sepotong bernyanyi dan para penonton yang belum sempat bertepuk tangan. Tamparan itu mengalihkan perhatian semuanya. Seperti ada lampu sorot panggung yang mengarah pada mereka berdua, kali ini semua mata menatap ingin tahu.

Tangan laki-laki itu masih berpegangan pada dada si gadis, keduanya berdiri sangat dekat. Hingga hampir saling bersandar.

”James!”orang-orang mengenali laki-laki itu.

”Eh, James?”seruan-seruan itu terdengar geli

”Meeen… dapat perempuan sulit, ha?”kekeh geli mulai keras terdengar menjelma tawa seperti virus.

”James, jika ingin melakukannya, pergilah ke motel di sebelah atau lakukan dengan tanpa berisik. Bisa, kan?”teriak seseorang disambut suitan, ledakan tawa serta –entah untuk apa- tepuk tangan tak jelas membuat suasana hingar seperti sebelumnya. Dan seperti hanyalah sebuah adegan pembuka sebuah lagu, dari panggung terdengar menghentak musik country percintaan yang panas. Semuanya melanjutkan bertepuk tangan, menari dan meneriakkan kata-kata cabul menyambung setiap syair lagu.

”Beraninya kau menggerayangiku!”geram gadis itu berusaha melepaskan dirinya dari James.

Bukan maksudku!” ujar James kesal dan seolah baru sadar dari mimpi ia melepaskan tangannya yang masih menempel di depan dada sang gadis dan dengan cepat ia mundur beberapa langkah.

Keadaan mereka memang seperti yang disebutkan si gadis. Saat hampir jatuh tadi, James menarik tubuh gadis itu untuk menahan tubuhnya. Ia mencari-cari pegangan dan sepertinya itu terlihat seperti meraba-raba tubuh sang gadis. Belum lagi setelah mendapatkan tamparan, tangan James malah memilih berdiam di atas dadanya. Ia tidak bermaksud demikian.

”Maaf, tadi aku hampir jatuh karena menghindar dari…,” dari apa tadi? James melirik ke belakang gadis itu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi seperti yang ada dalam bayangannya.

Gadis itu menatap James dengan mata berapi. Wajahnya memerah senada dengan rambut ikal cokelat kemerahan yang ia miliki.

Aku benar-benar tidak sengaja!”tegas James dengan canggung. Tidak pernah seumur hidupnya ia merasa kesal sekaligus bersalah seperti kali ini. Di kotanya, di kota ini, para gadis bukannya marah dan menampar James jika hal seperti ini terjadi pada mereka. Bahkan, mereka akan menerkam dan mengikat dirinya dengan penuh suka cita. Tapi tidak bagi gadis ini.

Dengan mengeluarkan sebuah seruan mirip seseorang yang putus asa, gadis itu menghentakkan kakinya dengan sekuat tenaga ke atas kaki James. Penopang belakang kaki si gadis yang runcing melesak ke dalam sepatu kulitnya. Laki-laki itu kaget, tak bisa bersuara. Namun James masih bisa menahan kepalan kecil tangan yang berayun, sekali lagi, kali ini ke arah perutnya. Mereka kini berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap curiga dan saling menilai.

Seperti yang bisa diduga, Jameslah yang kemudian menarik tangan si gadis. Memaksanya berjalan di belakangnya, keluar dari cafe menuju jalan malam yang semakin sepi.

Akhirnya James menemukan gadisnya dan mereka hidup bahagia hingga akhir hayat,” sebuah tawa riang keluar dari mulut pemuda berkepala perak dengan ringan.

thief-joker

Ia bersandar di sisi kiri tangga menuju pintu keluar dengan kedua tangan menjuntai di kedua sisi tubuhnya.

Posisi yang sangat nyaman.

Tubuhku bergetar merasakan sensasi yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Calon Nivki yang seorang ’pelengkap’? Wow.

Itu tadi ilusi seorang ’pelengkap’ rupanya. Kukira seorang ’pelengkap’ hidup dalam sosok tua dan bijak seperti di film-film bukan pada sosok pemuda tak terurus yang menghabiskan hidupnya pada bir naga, hingar bingar di cafe dan pelukan perempuan. Yang terakhir itu, jika ia beruntung.

Ya. Aku sudah memperhatikannya cukup lama. Ia lebih sering berada di apartment seseorang yang tidak ia kenal. Terbangun di waktu siang hampir selesai. Muntah di kamar mandi. Mengambil atau istilahnya meminjam pakaian dari si pemilik apartment. Berkumur-kumur. Mencari makanan yang ada dalam lemari es dan mengecek rekaman telphone seolah ia tinggal di sana. Jika sudah cukup sadar, ia membawa tubuhnya berjalan ke sana kemari tak jelas arah tujuan. Namun setiap kali sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah nomer telephone dan ucapan terima kasih dalam dua kertas yang berbeda. Ucapan terima kasih di tempelkan di depan lemari es dan nomer telphone di letakkannya di gagang telephone.

Kebiasaan yang unik tapi tidak terhitung luar biasa dari manusia biasa yang hidup di dunia ini tanpa tujuan.

Jika kau membenci gangguan diantara tugas-tugas pentingmu. Aku juga sama. Dan gangguan untuk tugasku kali ini muncul di luar cafe yang semakin sesak. Udara mengganti suasananya sebagai tanda. Angin memberitahu dinding-dinding gedung akan hadirnya helaan nafas membunuh. Aku bisa melihat kumpulan debu yang meletupkan titik nyala dan padam dengan bau busuk yang samar-samar ikut tercium.

Ada seseorang…tidak, tepatnya, ada tiga orang yang bermain-main di wilayahku. Dari dulu sekali, aku tidak tertarik dengan kejutan ala tamu tak diundang. Hingga sekarang pun, tidak.

Kamu punya tempat tidur bersih?”suara malas itu menghentikan langkahku menuju pintu keluar. Si ’pelengkap’ berjalan pelan menaiki tangga. Aku menunggu.

Kamu terlihat seperti orang yang punya tempat tidur bersih” si ’pelengkap’ itu bersuara lagi di depan wajahku. Mulutnya bau got, giginya besar-besar dan menghitam di beberapa tempat. Matanya yang setengah tertidur tetap berwarna merah. Begitu detilnya kuperhatikan ternyata rambut perak kusam sebahu miliknya dan pakaian kumal yang ia kenakan tidak terlalu jelek seperti yang aku bayangkan.

”Ayolah!”desaknya seperti pada teman dekat.

Aku menatapnya lekat dalam beberapa detik dan terpaksa mengakui, aku juga menginginkan dia di apartmentku. Cepat kutulis alamat, kuberikan kunci mobil dan mendorongnya menjauh dariku.

Ia praktis sekali. Tak ada pertanyaan. Tak ada komentar. Ia hanya pergi begitu saja.

Nah, sekarang saatnya membereskan tiga ‘pengutil’ yang menyusup di wilayahku.

***

edit April

h1

BIG, WILD and FUN

Januari 4, 2009
Sebagai seorang yang didaulat sebagai manusia berkecenderungan Acak Konkret[AK] dan Acak Abstrak[AA]-yang mungkin saja salah-, tiba saatnya menyalakan alarm pada jam tangan 2009.

Mengikuti ide gila-gilaan di http://nanowrimo.com dengan menyeringai lebar dan perasaan rindu yang menggebu-gebu, inilah: 2009’s BIG, WILD and FUN

BIG : Menyelesaikan editan BLU, Novel drama-psiko yang sudah lebih dari 4 tahun direvisi bolak-balik dan rela menyerahkannya pada penerbit. Menuntaskan editan TB, novel spekulatif fantasi. Mengembangkan draft MRL. Memenuhi janji untuk bikin kumpulan cerpen bersama FLP Gorontalo. Menuntaskan janji menulis dua buku nonfiksi yang terlalaikan di 2008. Menyelesaikan buku belajar interaktif Elbintang Edu-Center masih 5 jilid lagi untuk Mental Aritmetika dan 3 jilid untuk Bahasa Inggris.

WILD : Memiliki gedung sendiri untuk aktifitas Elbintang Edu Center. Mengadakan Elbintang Edu Center Camp di Bulan Juli.

FUN : Belajar menulis fantasi, belajar piano, rajin lari pagi, tepati jadwal menggambar, mengisi blog elbintang.kemudian.com dan pembacadongeng.wordpress.com

Yea…thatz it! semoga tahun ini sistem AK-AA tetap dalam jalur bahagia mengikuti timelimit -) . Fight!