
Rasya -Ode Ruh 3-
Januari 14, 2010Tubuhku sudah tidak begitu panas. Energi kehidupan ini belum bisa kukendalikan sepenuhnya. Kadang-kadang ada waktunya tubuhku kalah dan harus menderita demam tinggi selama sehari penuh. Seperti hari ini.
”Den…Aden…Den Irvan…”suara ketukan Pak Agah membuatku bingung. Maksudnya apa mengetuk pintu? Ingin pintunya dibuka? Yang benar saja!
”Aden Irvan…”suara Pak Agah memanggil dari lithyphone di samping pintu.
Nah! Itu baru benar.
”Kulan…?”
”Den Irgi pingsan. Saya nemu di depan pintu. Di bawa ke rumah sakit atau bagaimana?”Pak Agah menjelaskan dengan sedikit bingung.
Aneh. Pak Agah telah lama mengenal keluarga kami. Dia tahu…
“Pak Agah dengan siapa di luar?”
“Aden…maap. Ini ada temannya Den Irgi. Namanya Non Rara…”
Hum. Pantas Pak Agah terdengar bingung. Rara? Siapa teman sekolah yang bernama Rara? Di kelas 6 tidak ada. Mungkin adik kelas? Uhm, menyebut teman-teman yang lebih tua atau sebaya denganku sebagai adik kelas lumayan menyenangkan juga. He.he…
”Pak Agah tolong ajak Rara ke ruang perpustakaan dulu, boleh? Saya periksa Irgi dulu. Kalau parah biar dibawa ke rumah sakit saja,”
Kami berdua tidak pernah ke rumah sakit.
”Iya, den. Sekalian saya cari sopir dulu,”
Pak Agah, sopir kami.
Langkah Pak Agah dan seorang lagi menjauh dari kamarku. Begitu tidak lagi terdengar aku membuka pintu dan…itu tubuh Irgi.
Jelas saja Irgi pingsan, ia sepertinya kehilangan banyak darah dari…luka potong di hampir seluruh ruas yang ada di tubuhnya? Rambut halus di kudukku meremang. Ada yang membunuh Irgi, tadinya, namun ada yang menolongnya. Siapa? Siapa yang membunuhnya dan siapa yang menolongnya?Aaah! ini terlalu menjengkelkan bagi anak yang akan berumur sepuluh tahun sekalipun ia punya kekuatan mengganti ruh, seperti aku.
”Kau hanya bisa duduk diam seperti itu atau akan melakukan apa? Kekuatan penyembuhku hanya bisa menahan ruhnya sementara,”
Oh, jadi anak perempuan ini yang menolong Irgi? Tapi kenapa? Eeeh? Menolong Irgi?
Mataku memberi pandangan menyelidik yang curiga padanya. Namanya Rara. Dan ia terlihat tidak mencurigakan kecuali, tentu, pengakuannya.
“Oke, kau kuselidiki nanti saja,”putusku memberitahunya. Ia mencibirkan bibirnya tak peduli. Wajahnya terlihat sedikit sangar dan cemas. Campuran yang menggelikan.
“Kau menunggu apa sih? Warna bayangmu menunjukkan kau punya kekuatan pemanggil yang sangat kuat. Tunggu apa lagi?”Rara berdiri menggoyang-goyangkan kaki kanannya dengan tidak sabar.
Haaah!Aku sedang tidak oke untuk menjelaskan proses pemanggilan ruh Irgi. Aku sedang menunggu seseorang yang dicarikan Pak Agah. Energiku untuk Irgi dan energi ‘seseorang’ untuk aku. Memikirkan saja membuat perutku bergejolak. Aku tidak pernah ingin menggunakan kekuatan pemanggilan ini.
“Hei! Kamu…”
“Aden Irvan ini Pak Cahyo…”suara Pak Agah dari ruang depan, menghentikan suara kesal si perempuan.
Aku muntah. Benar-benar muntah. Semua makanan tadi pagi dan siang tumpah keluar dari mulutku. Perempuan yang bernama Rara itu memberi tatapan jijiknya. Yeah! Memangnya aku memintamu ke sini?
Bapak Cahyo Darmanto. Isterinya sudah meninggal dan tidak punya anak. Tinggal di jalanan. Sehari-hari kerja serabutan di pasar dari tukang bersih, jualan tas kresek, kuli angkat belanjaan para ibu-ibu atau jadi asisten yang bertugas ngipasin lalat para tukang jual ikan. Tapi sudah sebulan lebih terkapar digubuknya di bawah jembatan karena sakit. Pak Agah memberi detail kehidupan sang korban yang dibawanya dengan kursi roda. Pak Cahyo terlihat tidak sadar akan sekelilingnya. Ia menikmati rasa sakit.
Pelan ku merapal, memanggil energi kehidupan yang masih tersisa di tubuh Irgi dan menggantinya.
Dalam hitungan menit kurasakan sensasi berat yang tak tertahankan kemudian rasa sakit itu memukul setiap ruas tubuhku. Seperti tidak ada jalan keluar. Aku tidak bisa bernafas. Kakek Arto, aku melihat bayangannya melayang dengan cepat di depanku. Tidak menoleh. Panas tiba-tiba menyerbuku seperti lingkaran api. Aku merasa dagingku terbakar meleleh perlahan. Aku harus keluar!
”Aden Irvan…”kudengar suara memanggil dari kejauhan.
”Aden, jangan pergi…ini ada Pak Cahyo…”itu suara Pak Agah.
“Dia lari ke belakang pak Agah!”suara perempuan terdengar.
”Bukan, dia ada di kamarnya,”Irgi terdengar lebih sehat dari sebelumnya.
”Tidak! Aku melihatnya lari ke belakang. Itu dia! Sekarang ia lari ke luar rumah…Irvaaan!”teriakan anak perempuan itu cempreng sekali. Ufff.
“Inginkan kehidupan Cahyo Darmanto, Pan,”suara Irgi menuntunku untuk ingat.
Lalu begitu saja, seperti sudah seharusnya, aku tahu semuanya telah lewat. Dan aku ingin muntah. Lagi.
***
Like this:
Ditulis dalam Menulis |