h1

Rasya -Ode Ruh 4-

Januari 14, 2010

“Jadi siapa yang membunuhku kau bilang tadi?”Suara Irgi yang pertama kali memasuki kesadaranku. Tanpa perlu membuka mata aku bisa mengetahui siapa saja yang ada di sekitarku. Huh! Sepertinya tidak ada yang mencemaskan keadaanku.

“Kau menyebut mereka Rasya? Errr…itu tidak mungkin, benar kan, ayah?” anggukan bingung Om Otto membenarkan pendapat Tante Alin, Mama Irgi.

”Jika kau menyebut-nyebut Rasya, kau sedang berhadapan dengan dua anggota terakhirnya. Kelompok itu telah lama punah. Perpecahan kelompok, perang saudara, beda ideologi atau apalah yang disebut oleh sejarah. Jika kau pernah membacanya,”Irgi terdengar seperti orang yang sedang mencela penipu yang tidak berbakat. Ah ya, kami memang sering bertemu dengan penipu-penipu seperti itu. Yang dimaksud Irgi dua anggota terakhir itu tidak lain adalah Om Otto dan Tante Alin. Papa dan mamanya.

”Mungkin harusnya begitu…”

”Tapi?”potong Irgi cepat. Tidak biasanya ia tampil penuh emosian seperti itu.

Rara, anak perempuan yang tadi menolongnya memberi tatapan kesal. Irgi juga sedang kesal, entah mengapa. Tapi mungkin aku bisa mengira sebabnya.

”Tidak ada TAPI,”

”Dan bagaimana kau tahu mereka adalah Rasya, jika seharusnya mereka sudah tidak ada?”suara Irgi mulai meninggi.

”Aku tahu saja!”balas Rara dengan nada galak yang hampir sama.

”Kau ingin mati bagaimana?”

Aku menahan tawa mendengar gertakan Irgi

”Aku juga bisa bertanya hal yang sama padamu, anak kecil yang tidak tahu terima kasih!”

”Ha! Aku akan berterima kasih sekali, nona. Kalau saja aku bisa membuktikan bukan kau yang membunuhku,”

Oh, jadi begitu. Irgi merasakan hawa aneh yang sama dari anak perempuan itu.

”Kekuatanku mirip dengan yang kau miliki. Aku tidak bisa tanpa keinginan si korban,”wajah anak perempuan itu berubah pucat saat memberi penjelasan.

Yeah, aku bisa melihat semuanya tanpa membuka mata. Semua. Bahkan jalan gula yang dibuat kelompok semut di dinding barat kamar bisa kulihat dengan jelas. Sensasi ini bisa selesai dalam beberapa menit ke depan atau butuh beberapa minggu.

“Tapi kau kenal siapa yang membunuhku?”

“…”

“Kau tahu apa kekuatan ayah dan ibuku?”

Anak perempuan itu tidak bergeming.

“Jadi kau ingin kami bersusah payah untuk mencari tahu. Tentu kau tahu apa artinya itu bagi ayah dan ibuku?”

Bagus, Irgi! Semoga saja energi Rara dapat mendeteksi kemampuan yang dapat dilakukan Om Otto dan Tante Alin. Dimasuki kedua-duanya atau salah satu bukan pilihan menurutku. Itu kutukan.

Ah, payah! Anak perempuan itu menangis…

Apa yang akan kau dapatkan dengan menangis? Selain…penundaan sementara.

Irgi paling tidak tahan dengan airmata. Ia pasti tidak berani mengganggu anak perempuan itu. Untuk beberapa jeda yang tidak akan lama.

Irgi menendang tubuhku. Ck! Ia punya cara paling buruk sedunia untuk membangunkan orang dari koma. Kupanjangkan. Membangunkan orang dari koma padahal orang itu koma setelah membantunya hidup seperti sedia kala. Uhm, kalian mengerti apa yang kumaksud, kan?

Sekali lagi Irgi menendangku. Tubuhku merespon dengan normal seperti yang sudah seharusnya. Ugh! Aku ini benar-benar monster.

“Bangun, jagoan! Kau dari tadi berbicara terus dalam pikiranku,”sungut Irgi terdengar menyebalkan seperti biasanya.

Sebelum ia melayangkan kakinya untuk ketigakalinya, tiga adalah batas negatif terbanyak, kuhentakkan tubuhku untuk menghindari dan …OH SIAL!

“Sial! Kau benar-benar monster yang keren, Pan!”

Tubuhku berdiri melayang empat meter dari atas tanah. Dan kalau kalian meragukan perhitungan empat meter. Jangan! Aku benar-benar yakin dengan kemampuan tubuhku merasakan jarak. Itu bukan kemampuan yang benar-benar hebat. Tapi yang ini…MELAYANG, terbang…bayangkan Superman, Hancock dan semua jenis manusia terbang lainnya yang pernah kalian kenal. Persamaan mereka semua itu adalah fiksi. FIKSI. Alias bohongan, cerita yang dibikin-bikin untuk memancing imajinasi setiap orang agar lebih hidup atau terhibur atau memiliki harapan (bahkan harapan kosong sekalipun) atau…intinya semua itu bukan manusia betulan yang terdiri dari daging, tulang, darah, syaraf dan otak.

”Hei burung, turun dong…”Irgi tersenyum lebar, terpesona.

Oh yeah, burung monster.

Dan sebuah kesadaran memasuki pikiranku. Sepertinya bersamaan dengan pemahaman yang tiba-tiba menemukan otak Irgi.

”Kau bukan seperti aku!”desis Irgi. Wajahnya memerah menatap Rara, sebal.

Rara menggeleng kuat-kuat, ”Tidak! Kau salah…”

Ia terkesiap melihat gelap yang merayap naik dengan cepat dari ujung kakinya hingga kepala.

”Terima sambutan selamat datang dari ibuku…”

Wajah Rara memucat pias. Ia mencoba mengatakan sesuatu namun kegelapan menelannya

Walau sepertinya aku bisa mengira apa sebabnya, aku tidak bisa menahan diri untuk tetap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lengkingan itu!

Suara terkejut yang dipenuhi kengerian yang sangat, keluar dari energi Om Otto. Itu teriakan minta tolong Tante Alin.

Entah bagaimana, kemampuan Tante Alin untuk memantulkan setiap energi orang yang dimasukinya melalui bayangan tertelan masuk ke dalam tubuh Rara.

Tidak ada bayangan. Tidak ada energi. Tante Alin terkulai di atas kursi. Irgi berdiri kaku.

Hanya suara tercekat yang, kalau dipikir saat ini seperti sebuah tangis dari kesadaran paling dalam, keluar dari mulut Irgi dan Om Otto.

Kesadaran tentang hal itu.

”Hentikan! Hentikan paman…”Rara menepuk-nepuk tangan Om Otto yang diletakkan saling tumpang di atas tangan Tante Alin.

”HENTIKAN!” Rara menarik tangan itu dengan putus asa. Energi Om Otto mulai menyatu dengan Tante Alin. Sekelebat seolah energi Tante Alin hadir.

”Irgi! Irvan!”

Aku tahu energi Om Otto pelan-pelan menghilang dari udara.

”Beuh!”hanya keluh pendek yang keluar dari mulut Irgi. Ia terduduk lemas. Bukan sikap yang wajar dari seorang anak yang kehilangan kedua orangtuanya. Sekaligus. Pada waktu yang hampir bersamaan.

”Bagaimana mungkin itu kau?”Irgi bersuara hampir tidak terdengar. Itu ucapan yang sama terlintas di pikiranku.

Tanpa merasa harus menggantinya, aku menatap wajah Rara dalam-dalam dan memaki dalam hati sebelum berteriak dengan sepenuh suara yang aku punya,”BAGAIMANA MUNGKIN ITU KAU!”

Irgi meringis

”SIALAN!”tambahku dan pergi bergegas ke luar. Sepertinya saat itu aku melayang dengan marah. Pergi dengan terbang. Ha!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.