h1

Rasya -Ode Ruh 5-

Januari 14, 2010

”Pan…”

”Jangan mendekat!”

Irgi membuat cengiran lebar,”kau kira aku burung bul-bul yang bisa mendekatimu di puncak pohon seperti itu?”

Burung Bul-bul? Elang kek! Pilihan yang aneh. Kenapa juga Burung Bul-bul.

”Karena Burung Bul-bul mirip dengan aku kerennya,”jawab Irgi keras-keras dari bawah.

”Ada telpon dari Naila, katanya kau janji besok mau menyerahkan gambar-gambar ”lucu” untuk acara perpisahan kelas 6,”Irgi memutar bola matanya pada kata ’lucu’. Iya sih, apanya yang lucu? Si Naila itu.

Aku membunyikan suara deheman yang berarti ’iya aku ingat’.

”Jadi kalau besok kau mau menyerahkan, kapan kau akan menggambarnya?”tunjuk-tunjuk Irgi pada batang pohon, seolah itu adalah dahiku, sebagamana biasanya yang ia perbuat padaku.

Aku mempertimbangkan untuk menggambarnya nanti-nanti saja. Mungkin aku bisa beralasan lupa atau ketinggalan di rumah jika besok Naila memintanya.

”Kalau kau mau diberitahu dan bosan mengira-ngira, aku sudah menggambar beberapa pemandangan ruang kelas, sekolah dan suasana kantin sekolah untukmu. Berjaga-jaga jika kau ingin berpura-pura jadi monster seperti anggapan orang tentang monster.”Irgi berbicara makin lama makin pelan.

”Kau tahu? Monster tidak memerlukan alasan untuk melanggar janjinya. Aku memberitahumu sebagai referensi,”ujarnya berlalu.

Tidak lebih lama dari beberapa detik, suaranya terdengar lagi,”Hei, pan! Sebenarnya monster itu dari asal kata apa sih?”

Oh! Baiklah…sepertinya lebih aman jika aku turun dan mengerjakan apa yang menurut Irgi harus kukerjakan. Atau ia akan bolak-balik berbicara tentang seluruh alam semesta. Defenisi, asal kata dan bagaimana pendapat seluruh manusia yang terbagi dalam berbagai kelompok tentang kata itu. Dan bagaimana kata itu terhubung dengan kata yang lain, membuat kalimat, menjadi mantra dan … apa menurut kalian seorang jenius harus begitu?

Kemarahan bukan keahlianku juga bukan keahlian Irgi, jadi menemukan tubuh bocah laki-laki dengan muka penuh senyuman membuat dadaku sakit. Dan rasa sakit itu meledak panas saat kusadari ada orang lain yang berdiri menungguku.

“Menyingkir!”

Rasanya kali ini aku benar-benar mengerti dari mana asal kata marah itu.

“Pergi dan jangan muncul di sekitarku,”

”Aku tidak salah!”suaranya bergetar takut tapi wajahnya sepenuh tekad menantang mataku.

”Kau nenek yang berusia hampir setua bumi dan muncul di hadapan kami dengan tampang anak umur sepuluh tahun dan tidak bersalah?”aku ketularan Irgi yang suka berpanjang-panjang bicara.

”Kau tidak bersalah dan aku bukan monster, euh?”

”Dia wadah,”jelas Irgi. Ia berdiri di samping seperti seorang wasit yang akan memulai pertarungan.

”Aku tahu!”

“Dia wadah dan kau tahu. Sejak kapan?”tanya Irgi datar tidak peduli, sambil lalu.

”Tidak benar-benar tahu. Dari awal ia datang mengantarmu. Uhm. Bukan. Sejak kau menelphonku tadi siang…uhm…,”aku ragu. Itu susunan kalimat yang kacau tapi bisa dimengerti. Oleh Irgi. Sepertinya.

”Ini kondisi yang tidak biasa,”putus Irgi.

Dia tidak mengerti, ternyata.

”Ayo duduk, yuk,”

”Tidak kalau wadah ini masih di sekitarku,”

Jika keras kepala tidak ada dalam perbuatan baikku, menurutku ini saat yang tepat untuk menambahkannya.

Irgi meleparkan pandangannya ke arah Rara. Perempuan itu menggigit bibirnya menahan airmata.

”Neng Rara, mari Pak Agah antar ke kamar,”

”Ke kamar?”

”Iyah den Irvan. Sekarang sudah jam 2 pagi,”terang Pak Agah datar. Ia membujuk Rara untuk berlalu dari hadapanku.

Uhm jam 2 pagi?

Irgi menarik tubuhku ke salah satu kursi, meletakkan kertas-kertas berisi coretan yang disebutnya gambar dan mendesah dramatis,”Mulailah menggambar,”

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.