
Fantasy Fiesta 2011- Sebuah Cerita
Juni 27, 2011Hal paling sulit menjadi manusia adalah memaafkan di saat kau mampu membuat balasan yang setimpal. (Fantasy Fiesta 2011)
LEYL – HASRAT BEBAS
Pe
milik Kemarahan itu harus dijaga oleh Pemilik Penyesalan dan Maaf. Jika tidak, kita semua akan hancur. Kidung khidmat tidak akan sanggup menyelamatkan hunian ini selamanya. Maka berjanjilah untuk menjadi penjaga yang sesungguhnya. Bahkan jika itu akan mengubah hasrat bebas.
Cerpen ini dapat di baca lengkap di
Fantasy Fiesta 2011 – Antologi Cerita Fantasi Terbaik 20
11
Penulis: R.D. Villam (Kembali ke Morova), Klaudiani (E[epsilon]), Bonmedo Tambunan (Petra), Cloverwitch (Hari Terakhir Ishan), Elbintang (Leyl – Hasrat Bebas), Erwin Adriansyah (Tukang Sapu), Fachrul R.U.N. (Selamanya Bersamamu), Feby Anggra (Noel), Fredrik Nael (Bentala – Imaji), F.A. Purawan (Hikayat Pungguk Merindukan Bulan), I.B.G. Wiraga (Oris), Kristy S. Tjong (Selamat Datang di Wonderland), Luz Balthasaar (Dongeng Kanvas), Magdalena M. Amanda (NeiL//LieN), Rickman Roedavan (Misteri Pulau Goudian), Salvirius Sandy (Bhupendra Gagan), Serpentwitch (Kisah Sang Kerudung Merah), Shao An (Enam Belas Menit), Shienny M.S. (Menuju Akhir Masa), Xeno (Wanita Pembisik)
Penerbit: Adhika Pustaka (Desember 2011)
Tebal: 325 halaman
Harga: Rp 59.500,-
Like this:
Ditulis dalam Menulis |
Hi, El. Langsung aja ya.
Wah, kisahnya seru lho. Tentang seorang gadis yang sedang memilih jalan hidupnya. Meski sayang dia harus terpaksa menjadi sesuatu yang bukan pilihan awalnya. Yang ternyata jauh lebih baik. Cool.
Niat El memberi kesan halus dalam cerita udah lumayan dapet koq. Walau mulai dari saat Leyl berusaha pergi dari hunian kesannya berubah menjadi tegang. Tapi ini jadinya asik.
Ada perkataan Leyl yang kurasa janggal saat bercakap-cakap dengan Minna. Soalnya, kenapa Leyl seperti baru menyadari ada yang aneh dengan kata “kami” dari ucapan Minna jika sebelumnya dia berkata “kalian” padanya? Kedua kata ganti jamak itu memiliki tujuan berbeda kah?
Deskripsi tokoh Minna saat itu pun agak rasanya agak kurang, El. Minna masih berwujud separuh unta ya?
Pula, saat Leyl berubah wujudnya menjadi hewan di bagian klimaks. Dia kau gambarkan bercakar, berekor dan mengaum. Tapi dia juga bersayap. Apakah dia berubah menjadi semacam Griffith, atau hanya manusia-burung tuh? -_____-”
Jebakan yang dibuat Leyl semalaman juga berkesan sia-sia lho. Ah, aku mengira lebah-lebah itu akan merepotkan paling tidak babi hutan atau serigala. Mungkin bakal lebih seru.
Oh, satu lagi. Niat Leyl untuk menjadi manusia-biasa dan menentang Tetua sekuat naga itu belum cukup meyakinkan jika hanya untuk mengendalikan sifat maaf dalam dirinya. Mungkin bisa diberi alasan dramatis, seperti pesan dari almarhum Sang Ayah. Atau yang lain, mungkin?
Meski beberapa narasi terkesan rumit (mungkin ini hanya masalah selera aja sih
), overall cerpenmu cukup seru, El. Bagian terkuat yang aku lihat di sini–selain ide ceritanya tentang usaha seorang gadis menentang kekuatan adat demi idelismenya–adalah dunia buatan yang kamu angkat. Mulai dari penggambaran lokasi (deskripsi soal rerumputan tempat pesta itu asik lho), lalu perhitungan waktu (yang sepertinya satu purnama bagi manusia-binatang setara dengan satu tahun dunia nyata), hingga tata budaya manusia-binatang berasa baru. Ini menarik. Endingnya pun sempat membuatku salah duga, karena kau memilih mengakhirinya dengan solusi tangah. Kupikir Leyl bakal berhasil menjadi manusia-biasa–tetap dengan kemampuan pictomancer-nya. Tapi ternyata dia berubah menjadi manusia-hewan dengan kemampuan memaafkan. Oh, siip dah.
Hehehe… itu aja dulu. Maap kalau ada yang kurang. Tetap semangat ya, El.
PS: Kekuatan pictomancer-nya Leyl keren. Owh… :”>
Thank u, Xeno.
Sebenarnya yang gw bilang pengen nulis yang halus tuh bukan di cerita yg ini T_T
duh gw mau bilang apa ya? sebenarnya cerita ini walo idenya sudah ada sejak Villam ngumumin FF2011, tapi yg ini versi iseng.
Versi seriusnya *cerita lain* malah gak bisa gw selesekan kerna geje banget waktu gw maksa berhalus-halus.aaa…mesti banyak belajar lagi.
Soal Minna, bunga dan para tawon itu … ceritanya gak jelas memangTT_TT. Oh, apa kau bisa menangkap kalau manusia-binatang tetap berbentuk seperti manusia biasa kecuali saat mereka sedang cemas atau sedang marah?
*tengkyuh dah mau baca*
ternyata penyakit kalimat gak bisa dipahami teteup saja betebaran, yak?
_Doumo_
Owh… jadi yang halus itu buat cerita lain tho.
Hehehe… Karena udah terlanjur kirim yang ini. Simpan aja klo gitu ceritanya buat FF tahun depan.
Ah, waktu bertemu dengan Leyl itu Minna lagi cemas ya? Hehehe… Maap klo gitu, aku kelepasan baca. >,<
Tapi kelihatan koq, klo perubahan manusia-binatang itu bergantung ama emosinya di dalam cerita. Kan Leyl berubah waktu marah karena lihat Minna terluka. ^^
Btw, aku juga masih belajar meracik narasi yang bagus koq.
Jadi, tetap semangat ya, El. Siip.
Seperti biasa kau selalu berhasil membuat cerita yang membuat parapembaca mengerutkan kening, hehehe.
Tapi yang ini bagus El. Maksudnya, ide ceritanya. Tentang kebimbangan dalam menentukan sebuah pilihan. Secara garis besar saya udah nangkep ide garis besarnya. Cuma di beberapa tempat masih agak bertele-tele. Mungkin karena kebanyakan narasi ya? Dialognya cuma seuprit – jadi ritme penceritannya terasa lambat.
Terus soal endingnya… nah ini dia, nanggung banget. Sayang pas adegan dengan serigala2nya udah oke. Kalao menurut saya sih, mestinya endingnya bisa dibikin lebih memancing emosi lagi (weits, bahasanya). Soalnya cerita ini muatan moralnya udah oke banget. Dan kayaknya akan lebih bagus kalau endingnya itu benar2 menjadi sebuah penutup. Menjadi jawaban atas segala pencarian si El eh…. si Leyl. Jadi pembacanya nggak keder pas baca ending.
Oh ya, ini Mongku sama Barnabas mau ngasih komen:
Mongku: “Menurut aku ceritanya baguuuus banget. Keren. Mantap. Ruarrr biasa!”
Barnabas: “Oh ya? Emangnya kamu ngerti ini cerita soal apa?”
Mongku cengar-cengir terus bilang: “Aku ga tahu ini cerita soal apa. Nggak ngerti malah. Tapi kalau mbak El yang bikin pasti baguuuus.”
Gubrak!
Barnabas: “Kalao menurut aku sih, ide ceritanya oke. Tapi adegan pertempurannya kurang. Mungkin penambahan kata-kata seperti, Ouch! Akh! Awas! atau Ciaaaat! bisa bikin penggambaran pertempuran jadi lebih asyik dan ga melulu narasi.”
Mongku: “Ng… Barnabas, ini kan cerita manusa-binatang. Bukan cerita kung fu. Masa pake Ciaaat?”
Barnabas: “Ini contoh Mongku, contoh!”
Tengkyuh sudah mampir Rickman.
Jujurly, gw maksa banget nulis ini. Kalau gak malu sebagai peserta yang berkoar-koar bakal ikut FF sampai kapanpun, gw sempet mau *angkat tangan* heuheu *curcol*
Yaaa, gw sendiri nggak puas kerna ternyata banyak TYPO, gah meh.
Soal kebanyakan narasi, gw lagi mencoba bikin ginian emang. Kalo rata-rata pembaca bakal bilang membosankan, berarti gw emang harus belajar banyak lagi.
beta reader gw nyaranin untuk pindah POV 1. Cuma gw mrasa POV1-nya gw itu “cerewet” banget.
soal ending…gw emang punya kecenderungan bikin ending dropeed ya? kudu belajar lagi
Mongku : ah, komentar Mongku sama semua tuh di kastil *tertipu*
Barnabas : pada dasarnya saya nggak suka onomatope, Barn. Tapi narasinya kalu kurang-kurang itu emang skillnya belum bagus. he.he
tengkyuh bertiga. mampir-mampir lagi ya.