Arsip untuk ‘1 hari 1 tulisan’ Kategori

h1

Emeth (POV Chiko)

Agustus 11, 2009

EMETH

Bantu aku menuliskannya, yah?

[aku tahu jika aku percaya pada kemampuanku untuk menyembuhkan diri sendiri dari dalam, mungkin aku bisa tertolong. Tapi energi dari metabolisme memori air ketuban ini sangat terbatas. Lagipula aku tidak begitu mahir tentang ini. Aku melakukan apa yang harus kulakukan]

Kau pernah merasakan salah satu anggota tubuhmu mati rasa? Maksudku, orang lain mencubitmu hingga memar namun kau tidak merasakan apa-apa di tempat yang dicubit. Pernah? Atau kau pernah dibius? Atau pingsan? Itu 1000x lebih baik dari pada orang lain mengira kau mati rasa, pingsan atau dalam pengaruh bius tapi sebenarnya kau masih bisa mendengar, merasakan bahkan melihat apa yang mereka lakukan. Ya. Dalam kasusku sih, tidak benar-benar melihat. Kau tahu bagaimana seorang paticka menyebut hal itu.

Oh ya, aku berharap kau memiliki cukup banyak waktu dan tempat untuk menyimpan kisah ini. Karena aku akan bercerita cukup panjang dan… mungkin setelah membaca kisah ini, aku membutuhkan pertolonganmu.

Mungkin juga tidak.

Paling tidak aku sudah memperingatkanmu.

Namaku Chiko Qortina. Paticka Sheevh level 4, atau kau bisa menyebutku paticka penyembuh. Semua orang memanggilku Chiko. Kini aku dan seorang Sulemn, neural tingkat dua tertinggi, berada dalam ruangan bercat biru pupus yang entah di mana, terbujur kaku, berdarah-darah dengan luka dan robek di sekujur tubuh. Menuju mati.


h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (1/6)

Agustus 11, 2009

Pemenang lomba cerpen Fantasi : Fantasy Fiesta 2009

Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.

Mohon do’anya

elbintang ^_^

h1

Putri Api

Maret 21, 2009

“Kamu harus benar-benar yakin untuk melakukan ini semua, Michael,”

“Aku yakin, mom. Trust me,”

“And what the hell next? you’ll die?

“Mom, kau mengumpat,”

“Mengapa tidak kita biarkan saja dia yang menemukan, kau?”

princess1“…maka mungkin saja Gabe yang akan mencarinya,”

“…”

“Im not gonna die, mom. Not now. Not in your time limitted,”

” i know that…”

h1

Pemapas Ruh (The Thief of Soul)

Maret 20, 2009

darkofthief

Biasanya aku tidak serepot ini menyelesaikan kontrak yang sudah kuterima. Ia bukan orang pertama yang kukerjai. Ia juga bukan calon Nivki pertama yang kuhadapi. Setidaknya beberapa Calon Nivki yang kuhadapi menunjukkan standar kemampuan mereka yang sesuai. Tidak seperti makhluk ini.

“Apa yang ingin kau lakukan jika tujuh menit lagi kau akan mati?”

Pemuda bertubuh kurus tanpa tonjolan otot dan mata merah karena begadang menatapku dengan wajah setengah tolol miliknya.

Entah karena dorongan apa, aku ingin bernegoisasi dengan targetku kali ini.

”atau…mungkin aku bisa memperpanjang bagianmu hingga seminggu. Tidak lebih,”

Tawa kecil terdengar melintas di tenggorokannya menampilkan seringai menyebalkan di sudut-sudut bibir. Ia mendengus keras-keras, menguarkan napas baunya ke arahku dan berlalu dengan langkah sempoyongan. Tidak peduli. Tipikal manusia kebanyakan yang sulit sekali menerima pertanyaan tentang kematian di tempat seperti ini.

Memangnya apa yang kuharapkan darinya? Ia mungkin saja benar-benar orang biasa yang tidak bisa langsung mengenaliku. Tidak seperti calon-calon Nivki sebelumnya. Begitu aku bersuara mereka langsung melakukan tindakan-tindakan antisipatif yang tidak biasa.

Yah, paling tidak dari pengalamanku, ada saja calon Nivki yang tega menamparku hingga rahangku lepas dan telingaku berdenging selama tiga hari. Ia membayar tindakannya itu dengan pengabdian beberapa tahun padaku. Calon Nivki lain memiliki kemampuan hebat hingga membuat tubuhku terpotong-potong secara acak. Yang menyebalkan dari kejadian itu adalah ia bukan targetku dan aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Begitu aku pulih, dengan terpaksa calon Nivki sialan itu kubiarkan hidup selamanya. Tenteram dan panjang. Satu hal yang berbeda adalah selera makannya. Ia hanya bisa kenyang dan hidup dengan memakan apa-apa yang dibuang manusia dan hewan dari dubur mereka. Katakan aku jorok. Tapi ia benar-benar membuat sengsara hidupku lebih dari cukup.

Calon Nivki lainnya? Yah, beberapa dari mereka tidak bertemu denganku dan hidup menerima tongkat estafet kekuasaan Nivki, penjaga kematian. Tidak banyak mempengaruhi hidupku. Namun yang pasti, banyak mempengaruhi hidup makhluk-makhluk yang senang memberiku pekerjaan.

Kembali pada pemuda bau yang dikabarkan calon Nivki ini. Jika diingat-ingat mengapa aku tertarik memperhatikan dirinya alih-alih langsung menyerangnya adalah …aku tidak tahu. Ia begitu tidak berharga sebagai manusia.

Atau memang seharusnya begitu?

Ah. Tunggu sebentar. Ini hal baru. Aku merasakan geliat kehidupan memancar kuat dari diri pemuda bau berkepala perak yang berdiri tidak jauh dariku. Calon Nivki seharusnya tidak memilikinya. Aku memang bukan pakar kehidupan walaupun aku lebih lama hidup dari beberapa Nivki. Tapi seharusnya…yap! mungkin ini yang kucari-cari. Kemampuan istimewanya yang membuat ia terpilih menjadi calon Nivki.

Ada yang terjadi dalam ruangan ini yang tidak bisa ku lihat. Namun aku bisa merasakan perubahan suasananya. Tidak mengancam keberadaanku tapi cukup membuatku merasa tidak nyaman. Kira-kira seperti kau sedang berjalan di dalam kamarmu saat lampu telah dimatikan. Kau hapal benar letak barang-barang di kamarmu namun itu tidak cukup membuatmu nyaman bergerak.

Detak jantungku mengantisipasi sesuatu. Pemuda berkepala perak itu! Ha. Seperti tidak sengaja, ia menyenggol tangan seorang pelayan cafe yang lewat di sampingnya. Dan langsung membuat efek domino. Pelayan cafe yang nahas itu meliuk-liukan tubuhnya menahan baki agar tetap di atas tangannya namun tetap saja dua gelas besar minuman berwarna hijau dan merah terang meluncur tak tertahan. Seorang laki-laki dari arah yang berbeda menangkap kilat cairan berwarna merah dan hijau, ia menghindarinya dengan cukup cepat. Tapi gerakannya menimbulkan ketidak seimbangan pada tubuhnya dan refleks ia mencari pegangan agar tidak jatuh. Sialnya ia berpegangan pada sesuatu yang bukan benda mati.

Whoa! ini dia.

Gadis itu menjerit kaget dan melontarkan rentetan kata-kata sampah yang dapat kau pungut di setiap sudut di mana saja di cafe ini. Berikut telapak tangan miliknya yang tidak seberapa besar mengarah ke wajah laki-laki sial itu. Bunyi tamparannya cukup keras hingga terdengar ke panggung, menyelip tepat diantara selesainya sang diva panggung bergaun merah sepotong bernyanyi dan para penonton yang belum sempat bertepuk tangan. Tamparan itu mengalihkan perhatian semuanya. Seperti ada lampu sorot panggung yang mengarah pada mereka berdua, kali ini semua mata menatap ingin tahu.

Tangan laki-laki itu masih berpegangan pada dada si gadis, keduanya berdiri sangat dekat. Hingga hampir saling bersandar.

”James!”orang-orang mengenali laki-laki itu.

”Eh, James?”seruan-seruan itu terdengar geli

”Meeen… dapat perempuan sulit, ha?”kekeh geli mulai keras terdengar menjelma tawa seperti virus.

”James, jika ingin melakukannya, pergilah ke motel di sebelah atau lakukan dengan tanpa berisik. Bisa, kan?”teriak seseorang disambut suitan, ledakan tawa serta –entah untuk apa- tepuk tangan tak jelas membuat suasana hingar seperti sebelumnya. Dan seperti hanyalah sebuah adegan pembuka sebuah lagu, dari panggung terdengar menghentak musik country percintaan yang panas. Semuanya melanjutkan bertepuk tangan, menari dan meneriakkan kata-kata cabul menyambung setiap syair lagu.

”Beraninya kau menggerayangiku!”geram gadis itu berusaha melepaskan dirinya dari James.

Bukan maksudku!” ujar James kesal dan seolah baru sadar dari mimpi ia melepaskan tangannya yang masih menempel di depan dada sang gadis dan dengan cepat ia mundur beberapa langkah.

Keadaan mereka memang seperti yang disebutkan si gadis. Saat hampir jatuh tadi, James menarik tubuh gadis itu untuk menahan tubuhnya. Ia mencari-cari pegangan dan sepertinya itu terlihat seperti meraba-raba tubuh sang gadis. Belum lagi setelah mendapatkan tamparan, tangan James malah memilih berdiam di atas dadanya. Ia tidak bermaksud demikian.

”Maaf, tadi aku hampir jatuh karena menghindar dari…,” dari apa tadi? James melirik ke belakang gadis itu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi seperti yang ada dalam bayangannya.

Gadis itu menatap James dengan mata berapi. Wajahnya memerah senada dengan rambut ikal cokelat kemerahan yang ia miliki.

Aku benar-benar tidak sengaja!”tegas James dengan canggung. Tidak pernah seumur hidupnya ia merasa kesal sekaligus bersalah seperti kali ini. Di kotanya, di kota ini, para gadis bukannya marah dan menampar James jika hal seperti ini terjadi pada mereka. Bahkan, mereka akan menerkam dan mengikat dirinya dengan penuh suka cita. Tapi tidak bagi gadis ini.

Dengan mengeluarkan sebuah seruan mirip seseorang yang putus asa, gadis itu menghentakkan kakinya dengan sekuat tenaga ke atas kaki James. Penopang belakang kaki si gadis yang runcing melesak ke dalam sepatu kulitnya. Laki-laki itu kaget, tak bisa bersuara. Namun James masih bisa menahan kepalan kecil tangan yang berayun, sekali lagi, kali ini ke arah perutnya. Mereka kini berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap curiga dan saling menilai.

Seperti yang bisa diduga, Jameslah yang kemudian menarik tangan si gadis. Memaksanya berjalan di belakangnya, keluar dari cafe menuju jalan malam yang semakin sepi.

Akhirnya James menemukan gadisnya dan mereka hidup bahagia hingga akhir hayat,” sebuah tawa riang keluar dari mulut pemuda berkepala perak dengan ringan.

thief-joker

Ia bersandar di sisi kiri tangga menuju pintu keluar dengan kedua tangan menjuntai di kedua sisi tubuhnya.

Posisi yang sangat nyaman.

Tubuhku bergetar merasakan sensasi yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Calon Nivki yang seorang ’pelengkap’? Wow.

Itu tadi ilusi seorang ’pelengkap’ rupanya. Kukira seorang ’pelengkap’ hidup dalam sosok tua dan bijak seperti di film-film bukan pada sosok pemuda tak terurus yang menghabiskan hidupnya pada bir naga, hingar bingar di cafe dan pelukan perempuan. Yang terakhir itu, jika ia beruntung.

Ya. Aku sudah memperhatikannya cukup lama. Ia lebih sering berada di apartment seseorang yang tidak ia kenal. Terbangun di waktu siang hampir selesai. Muntah di kamar mandi. Mengambil atau istilahnya meminjam pakaian dari si pemilik apartment. Berkumur-kumur. Mencari makanan yang ada dalam lemari es dan mengecek rekaman telphone seolah ia tinggal di sana. Jika sudah cukup sadar, ia membawa tubuhnya berjalan ke sana kemari tak jelas arah tujuan. Namun setiap kali sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah nomer telephone dan ucapan terima kasih dalam dua kertas yang berbeda. Ucapan terima kasih di tempelkan di depan lemari es dan nomer telphone di letakkannya di gagang telephone.

Kebiasaan yang unik tapi tidak terhitung luar biasa dari manusia biasa yang hidup di dunia ini tanpa tujuan.

Jika kau membenci gangguan diantara tugas-tugas pentingmu. Aku juga sama. Dan gangguan untuk tugasku kali ini muncul di luar cafe yang semakin sesak. Udara mengganti suasananya sebagai tanda. Angin memberitahu dinding-dinding gedung akan hadirnya helaan nafas membunuh. Aku bisa melihat kumpulan debu yang meletupkan titik nyala dan padam dengan bau busuk yang samar-samar ikut tercium.

Ada seseorang…tidak, tepatnya, ada tiga orang yang bermain-main di wilayahku. Dari dulu sekali, aku tidak tertarik dengan kejutan ala tamu tak diundang. Hingga sekarang pun, tidak.

Kamu punya tempat tidur bersih?”suara malas itu menghentikan langkahku menuju pintu keluar. Si ’pelengkap’ berjalan pelan menaiki tangga. Aku menunggu.

Kamu terlihat seperti orang yang punya tempat tidur bersih” si ’pelengkap’ itu bersuara lagi di depan wajahku. Mulutnya bau got, giginya besar-besar dan menghitam di beberapa tempat. Matanya yang setengah tertidur tetap berwarna merah. Begitu detilnya kuperhatikan ternyata rambut perak kusam sebahu miliknya dan pakaian kumal yang ia kenakan tidak terlalu jelek seperti yang aku bayangkan.

”Ayolah!”desaknya seperti pada teman dekat.

Aku menatapnya lekat dalam beberapa detik dan terpaksa mengakui, aku juga menginginkan dia di apartmentku. Cepat kutulis alamat, kuberikan kunci mobil dan mendorongnya menjauh dariku.

Ia praktis sekali. Tak ada pertanyaan. Tak ada komentar. Ia hanya pergi begitu saja.

Nah, sekarang saatnya membereskan tiga ‘pengutil’ yang menyusup di wilayahku.

***

edit April

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.