Arsip untuk ‘Dongeng’ Kategori

h1

Eshe

Februari 14, 2012

Eshe menyukai tari. Ia dilahirkan untuk itu. Dibesarkan untuk mengabdi dan menjadi sebenar-benarnya manusia dalam tarian. Sejak awal sekali, saat ia dapat merasakan seluruh semesta merasuk dalam darahnya, Eshe merasakan kekacauan yang tak terkira. Ia tak dapat mengendalikan semua di dalam dirinya. Semesta terlalu kuat dan besar. Emosi bumi berkelindan antara manis tak tertahankan hingga rasa pahit yang memabukkan. Eshe tersesat di masa kanaknya.

Lalu, gelombang djembe menariknya keluar.

Gerakan kaki yang menghentak ke bumi, membuat tubuhnya tenang. Liukan angin yang memainkan dahan-dahan muda diikuti tubuhnya. Telinganya bersuka dengan rima mantra dan jeritan permohonan. Semakin ramai, tubuhnya semakin ringan. Kepalanya bergerak meleburkan semua ungkapan yang bahkan tidak bisa terucapkan. Ia menari pertama kali. Melakukan tarian pelepasan sesuai mantra dan permohonan. Tarian yang sudah lama sekali tidak bisa dilakukan orang-orang dengan sempurna. Eshe mencapai takdirnya.

Eshe lah sang penari.

Tak ada yang tak tersembuhkan dengan tarian Eshe. Ia mengenali setiap titik di tubuhnya sebagai pintu-pintu semesta. Liukan tubuhnya memaksa setiap rapalan mantra para dukun untuk masuk dan dikabulkan. Terkadang ia menjadi sang dukun yang merapal. Ada saatnya ia menjadi penguasa yang dipuja. Tapi ia lebih menyukai sebagai penari. Ia dapat mencicipi rasa hidup dan terpuaskan.

“Tanganmu diukir?”

Itu kalimat pertama yang didengar Eshe, di tengah-tengah puasa indera yang dilakukannya selama tiga hari.

Laki-laki bertopi bisbol menatap lengan Eshe yang digurati Betsheva. Tangannya telah diukir dengan Sasyiana Tulumbeka. Darah dari pohon tempat nyawanya disimpan. Pengetahuan yang oleh orang lain tidak akan pernah dipercayai, tapi Eshe sudah lama tidak memperdebatkannya. Ia juga tidak lagi mempertanyakan kehadiran laki-laki dengan topi bisbol yang selalu muncul di waktu-waktu ganjil. Seperti saat ini.

Di luar, nada tinggi dari djembe yang dipukul menandakan persiapan para tetua adat telah selesai. Mereka menunggu Eshe keluar untuk memberikan salam kepada bumi, memanggil angin untuk dikuasai dan mengeluarkan air dari langit sebagai tanda pelepasan yang enggan. Waktunya telah tiba, mereka tidak bisa menunggu lebih lama dari satu menit. Hanya saja, waktu sedang tunduk pada pemilik topi bisbol itu. Jadi, tidak ada masalah.

Eshe menyentuh biji gelangnya dengan pelan. Suara gemerincing ringan keluar dari sana. Pemanggil roh yang lembut. Biji gelangnya berasal dari lempeng besi muda yang ditempa selama empatpuluh malam. Selama roh kematian mengadakan tur terakhir di bumi.

“Jangan bunyikan apa-apa, dulu!” Laki-laki itu menghentikan gerincing paling lembut dalam seketika. Tangan Eshe dalam genggamannya. Telapak tangan yang besar menekan seluruh telapak tangan Eshe. Beberapa saat setelahnya, dengan pelan laki-laki itu memisahkan kedua telapak tangan mereka. Eshe melenguh keras begitu merasakan dingin yang membebat dari ujung jari hingga pangkal lengannya. Lalu hampir bersamaan rasa panas yang membakar menderanya, mengalir dari ubun-ubun menuju titik pusat tubuh.

Eshe melihat setiap guratan Betsheva di tubuhnya meluruh jatuh seperti bunga akasia yang gugur. Setiap kata yang sudah di ujung lidahnya tak pernah benar-benar bisa diucapkan. Karena rasa itu. Bahagia, diberkati sekaligus perasaan berkhianat yang menderanya dari sisi yang entah di bagian mana.

Peluruhan itu berjalan sebentar saja. Sinar matahari yang masuk melalui celah kusen kamar Eshe bahkan belum bergerak dari posisinya.

Pintu kamarnya dibuka dari luar. “Eshe.”

Gadis itu melonjak bangkit dari duduknya. “Uma?” bisiknya dengan heran. Lalu melaju ke dalam pelukan perempuan bertubuh gempal yang tersedak dalam tangisnya. Mereka rindu. Eshe lupa ia selalu merasakan kerinduan ini dalam tariannya. Dekapan Uma, seperti tarian abadi.

Hanya ilusi, bisik suara laki-laki bertopi bisbol di telinganya. Eshe benci diberitahu. Ia telah mendengar rapalan mantra saat pintu kamarnya dibuka. Tubuhnya telah meliuk, meneriakkan kerinduan yang baru saja ia temukan. Tak ada Uma, tak ada pelukan dan tubuh gempal yang berisi penuh cinta. Hanya ada tarian. Ia akan melepaskan roh Uma-nya walau enggan.

Gelombang djembe melengking memasuki semestanya.

Eshe berdiri lurus, tegak menuju matahari, lengannya menjulang di atas kepala. Kilau gurat sepanjang kedua lengannya membuat gadis itu terhenyak kaget. Masih di sana, ukiran darah Sasyiana Tulumbeka. Tak sempat berpikir lebih lama lagi, arak-arakan di depannya meneriakkan pilu perpisahan yang paling menyayat. Djembe mengiringi, susul menyusul dengan lengking seruling.

Eshe menggerakkan kepalanya berlawanan arah jarum jam. Matanya tidak tertutup. Ia tidak ingin melihat kepergian roh hari ini. Jika ia menutupkan matanya, semesta akan memperjelas penglihatannya. Kesedihan akan datang membebani langkah tariannya. Tidak patut untuk pelepasan Uma-nya.

Bumi!

Panggil Eshe dengan hentakan kakinya.

Bumi.

Panggil Eshe lagi. Kakinya membelai lembut perut bumi. Menggodanya.

Bumi.

Tumit dan ujung kakinya bergantian membuat lingkaran-lingkaran mimpi dan harapan.
Gelombang djembe menghentaknya. Pinggiran kaki Eshe menjejak kuat lalu seiring tiupan angin, gadis itu menghempaskan debu pekat. Angin!

Angin.

Debu-debu beterbangan berpilin dengan do’a-do’a yang keluar dari mulut Eshe.
Marak suara dan rapalan yang sahut menyahut, menggetarkan tubuh Eshe. Tubuhnya berputar, orang-orang berputar. Mereka menjadi gelombang yang memanjang hingga ke pemakaman.

Pemindahan jasad Uma dari tempat bumi ke tempat keabadian.

Teriakan bibinya melengking sepenuh jiwa. Ia membawakan penuh-penuh mantra kehidupan. Semua pelayat menimpalinya dengan jeritan perkabulan. Sahut-menyahut, semua berteriak hingga sampai kekuatan suara yang paling akhir.

Swa ti yakhta …

Kaki Eshe bergeming. Ia mengingat mantra itu. Tubuhnya kaku.

Swa ti yakhta nun julai de kya

Ia merasakan tangan Uma mendekap jantungnya.

Na, Wa, Si, julai de kya

Ia mengingat laki-laki bertopi bisbol itu.

Swa ti yakhta nun julai de kya, na, wa, si, julai de kya

Kuberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa
Kekuatan, kecerdasan, kuasa mencipta
Kehidupan memberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa

Eshe melemparkan tangannya tinggi-tinggi. Ia menderas, tenggelam pada mantra.

Ya, Qaboe. Jeritnya memohon perkabulan.

Tangisnya menggerung.

Eshe menjelma dukun, menjelma semesta, menjelma kuasa. Namun tetap saja ia dapat merasakan, semua itu tak cukup untuk perkabulan. Ia menjeritkan lagi permohonan perkabulan.

Ia ingin menjadi yang terpilih dalam pertukaran.

Ya, Qaboe.

Mengapa ia lupa tentang kuasa ini?

Hidupkanlah Uma! Kuberikan nyawaku untuk pertukaran. Eshe, Na, Wa, Si, julai de kya. Kuberikan namaku.

Eshe menari, berputar, meliuk mengalahkan dahan muda. Hilang dalam debu angin. Menjejak setiap bumi, meneriakkan namanya sebagai ikrar pertukaran. Uma sumber kebijakan Swalih, ketiadaan Uma membuat mereka berceceran seperti kerikil dimakan badai. Eshe memantrai dirinya, meneriakkan permohonan pada seluruh semesta. Hingga senja menutup prosesi itu dengan gelap.

Jasad Uma ditutup dalam peti keabadian. Tak ada yang menumpahkan tanah di atasnya. Semua telah mengharap besar pada pertukaran. Sanak famili terpilih berjaga hingga pertukaran jelas terkabul tidaknya. Bibi, adik Uma, pergi tanpa menoleh ke arah Eshe. Orang-orang bubar tanpa bicara. Senyap menemani setiap gerak.
Eshe mendongakkan kepalanya. Ia menemukan kegelapan yang tak berujung.

“Eshe…”

***

Dalam ribuan kehidupan ia menjanjikan banyak kenikmatan pertukaran. Nyawa dengan nyawa. Kesedihan dengan kesedihan yang meradang. Tapi tidak ada pertukaran yang sehebat ini.

Kematian yang hidup.

“Jika saja kau memiliki keinginan, apa yang kau bayangkan?” Laki-laki bertopi bisbol itu menyapa sosok yang membersamainya. Mereka berada di penyeberangan kehidupan.

Saat biasanya manusia dicekam kesenyapan dan penyesalan yang tak berujung, laki-laki bertopi bisbol itu malah mengajaknya bercengkrama seperti dua kawan lama.

“Kehidupan,” jawab sosok itu tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Laki-laki bertopi bisbol itu menatap sosok itu dalam-dalam.

“Maka jadilah kau anakku. Kehidupan. Eshe.”

 

===============================

ide tulisan ini dituangkan dalam 2 cerpen yang berpasangan. Eshe -nya elbintang dan Chatha-nya Albert Wirya Suryanata *bisa diliat di SINI

h1

SURGA BUKU SURGA

Februari 12, 2012

Hari ini Bu Sofia masuk bersama awan-awan berwarna oranye dan pink yang melayang-layang di sekitarnya. Kemudian menebar ke seantero kelas sembilan.

“Rasanya manis dan segar!” seru Bima yang menjumput segenggam awan oranye di tangannya.

“Bu Sofiaaa,” teriak Laras. “Awan pink punyaku kok rasanya duren?” protesnya melepehkan awan pink dari mulutnya.

Awan itu berubah bentuk.

“Aysss, awannya menjadi kuda putih yang gagah,” seru Laras takjub.

Salah satu teman cowoknya melompat menaiki kuda itu dan pakaiannya berubah menjadi ksatria. Wajah Laras merona merah saat ksatria itu menatapnya. Teman-temannya yang lain bertepuk tangan menggoda.

Lalu tiba-tiba selarik api melesat melalui sekumpulan awan oranye-pink. Suasana kelas menjadi hening.

“JANGAN GANGGU MAMA!” Sebentuk awan pink berubah menjadi anak kecil dengan tato Rangda di keningnya. Matanya mengeluarkan api.

Kuku-kuku jemari Nisa menancap tegang di tangan Tia.

“Kekuatannya belum terkendali. Apa ia akan dibunuh?” tanya Galang tatapannya mengarah pada bocah yang mengeluarkan api.

“Mengapa harus dibunuh?” balas Tia bertanya sambil berbisik. Ia tidak menghiraukan tangannya yang dicengkeram Nisa. Sementara, sang bocah kini mengejar seorang wanita yang berlari sekuat tenaga di depannya.

“Dia sudah membunuh tim sihir pemerintah,” jawab Galang sesekali menghindar dari larikan api yang kesasar.

“Naik ke pelangi…” seru anak-anak lain memberitahu sosok perempuan yang sedang dikejar bocah bermata api.

“Pelangi? Mana pelangi?”

Gerald naik di atas bangku dan menarik sebentuk awan oranye yang berubah menjadi lengkung pelangi.

Jembatan yang menghubungkan segala yang di langit dengan semua yang di bumi.

“Ayo naik!” ajak Gerald penuh semangat.

Jalan pelangi seperti bubur, lunak dan hangat. Tapi tidak akan membuat satu orang pun terjungkal atau jatuh. Setiap ada anak yang naik, lebar jalannya bertambah. Aroma manis-pedas-menyegarkan tercium sepanjang lengkung pelangi.

“Berhenti!” suara lembut seperti lonceng kecil terdengar.

“Berhenti-berhenti-berhenti-berhenti…” suara itu jadi sangat ribut hingga membuat mereka akhirnya berhenti.

“Peri yang nakal!” kekeh Ayu, begitu ia melihat awan-awan berubah menjadi tubuh-tubuh sangat kecil serupa lebah.

Para peri menjawab dengan tawa yang terdengar seperti sebuah lagu.

“Kami butuh…”

“Bantuan kalian…”

“Hanya kalian…”

“Para penunggang pelangi…”

Ayu dan teman-temannya mendengarkan para peri yang berbicara sambung-menyambung. Para peri  itu ingin Ayu dan teman-teman, membantu mereka menyampaikan pesan, pada dua hobit pemegang cincin bertuah.

“Penyihir Sauron…”

“Akan segera bangkit…”

“Pasukan mereka…”

“Akan melewati jalan Frodo…”

“Itu nama salah satu hobit…”

“…”

Yah, intinya, para peri ingin mereka pergi melintasi hutan tadah hujan, melewati tebing jurang, untuk menyampaikan pesan pada dua hobbit itu.

“Bagaimana caranya?” tanya Ayu tidak mengerti.

“Pakai pesawat?” usul Gerald. Semua mendenguskan kata percuma.

“Pakai awan…”hampir bersamaan semua mencetuskan dan baru menyadari sesuatu.

Awan-awan Bu Sofia, semuanya telah menghilang.

Di bawah mereka, membentang hutan yang sangat lebat, berpohon besar-besar dan tinggi.

“Apakah kalian akan meminjamkan serbuk sihir?” tanya Fadel pada seorang peri yang menggunakan mahkota bunga-bunga di kepalanya.

“Betul sekali…”

“Tapi serbuk kami…”

“Hanya cukup…”

“Untuk lima orang…”

Lagi-lagi para peri berbicara dengan sambung-menyambung.

“Tenang saja,” potong Gerald. “Yang lain akan terbang dengan balon-balon gas dan menunggangi kuda dan naga.”

Gemuruh tanda setuju membuat ombak pelan pada lengkung pelangi.

Fadel memimpin rombongan yang diselubungi serbuk ajaib para peri. Gerald menunggangi naga terbang dan Ayu tertawa-tawa bahagia di atas balon gas yang mulai bergerak.

“Mula-mula kita akan berhadapan dengan Kapten Mata-Satu,”

Lalu tiba-tiba semuanya lenyap. Gelap meliputi semua pandangan.

Tepuk lima yang diulang dua kali membuat suara bak dengungan lebah.

“Anak-anak sudah waktunya istirahat.” Suara itu terdengar mendahului pijar nyala lampu.

“Baiklah, tapi besok, buku Peter Pan tetap giliranku, Bunda,” pinta Fadel menarik tubuhnya beringsut naik ke kursi roda.

“Aku punya bubuk ajaib dari peri. Besok aku dan teman-teman akan terbang bertemu Kapten Mata-Satu,” sambungnya dengan senyum lebar.

Setiap anak bergegas membereskan masing-masing bawaannya menuju kamar.

Gerald melangkah mantap dengan tongkat. Kini ia dapat memperkirakan jarak antara ruang duduk dan pintu. Jarak antara gerak kursi roda Fadel dan langkah Bunda yang menggendong Ayu.

Seolah mengingat sesuatu, tangan Gerald menggapai ke arah gadis itu. Menyentuh kepalanya. Bunda berhenti untuk memberi Gerald dan Ayu kesempatan.

“Tadi aku naik naga. Binatang hebat. Cukup menyatukan keinginanku dan hatinya, ia bisa melesat ke tempat yang kutuju,” cerita Gerald bersemangat. Tangannya menarik lengan baju Ayu yang kosong.
“Aku juga hebat,” ungkap Ayu tersenyum.

“Zepelin sengaja membuat balon gas untuk orang-orang sepertiku. Biar bunda tidak capek-capek menggendong,” kerlingnya. Dibalas bunda dengan kecupan di kepala.

“Bunda,” panggil Bima di pintu kamarnya. Suaranya mulai berbentuk walau masih samar.
Tangan Bima bergerak berbicara.

[Hari ini kelas kami punya usul. Ada satu do’a di malam nanti. Semoga yang bikin buku selalu bahagia dan penuh berkah Allah. Hari-hari bersama mereka seperti mencium bau surga]

Bunda meletakkan lima jarinya di bibir lalu telunjuk dan jari tengahnya menyentuh dagu sekilas, kemudian menegaskannya dengan anggukan.

[Usul diterima]

Bagaimana menurutmu Sofia? mereka keren, kan? Bunda melirik sosok penjaga perpustakaan yang terlihat dari kaca jendela. Sosok yang selalu siap menerima gerutuan dan celoteh anak-anak spesial itu berkostum dewi awan hari ini.

Manekin itu mengedipkan matanya sebagai jawaban.

Eh?

h1

Rasya -Ode Ruh- (1)

Januari 7, 2010

Hari ini begitu canggung. Mama tak berhenti mengeluarkan airmata walau sesekali tersenyum sedih padaku. Tak ada warna lipstik merah yang cantik di bibirnya. Wajahnya pucat, sepucat orang-orang yang berdiri di sekitarnya, para tante dan om yang entah muncul darimana.

Suasana pagi semakin terang, semakin kelam. Tidak ada suara dan gelak tawa papa yang memecah udara. Tadi, ia pergi sebelum matahari muncul. Tergesa-gesa diiringi pekikan tangis yang membangunkan aku dari tidur. Kira-kira sejam kemudian ia datang bersama beberapa orang. Ia melewatiku tanpa sapa dan membawa-bawa wajahnya ke segala penjuru rumah tanpa senyuman.

Saat semua orang termangu-mangu dengan wajah sedih dan bingung, seseorang duduk di sampingku. Tidak begitu kuperhatikan, sebelumnya. Hanya seorang kakek yang capek berdiri dan ingin duduk saja, mungkin. Pikiranku penuh dengan perasaan tersingkir sejak bangun tadi. Tak ada sapaan, tak ada pelukan ‘selamat bangun tidur’, bahkan tak ada teriakan mama yang menyuruhku cepat-cepat mandi dan berganti baju. Kukira harusnya aku gembira, ternyata tidak. Aku kesal.

Kakek di sampingku menghela nafas panjang berulang-ulang. Makin lama-makin berat seperti gaya Kakek Arto jika sedang berpura-pura sakit. Ah! Aku menoleh dengan cepat. Kakek Arto!

Ia mendesah lagi dan menyandarkan punggungnya ke sofa.

”Tetaplah duduk seperti itu, Pipe, agar aku bisa melihat garismu. Patuhi ucapanku agar kau bisa membuat semua orang di dalam rumah ini tidak bersedih,”Kakek Arto berbicara padaku dengan kalimat tegas yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Entah kenapa aku merasa ia tidak benar-benar melihat padaku. Karenanya kudengarkan dengan patuh kata-kata yang diucapkannya setelah lagi-lagi ia mendesah panjang.

”Kuyakin kau telah terbangun sejak dini hari tadi. Dan berjalan ke sana-kemari dengan bingung. Kau lihat orang-orang yang bersama dengan ayahmu? Pilihlah salah satu dari mereka. Sebutkan namanya dan inginkan kehidupannya,”

”Pipe!”Kakek Arto menyapu ujung piyamaku pelan,”inginkan kehidupannya,”

Aku tidak begitu mengerti dengan ucapan Kakek Arto tapi seperti biasa kulakukan saja, apa susahnya. Lagipula, ia orang pertama yang menayapaku pagi ini.

Begitu aku ingin melakukan apa yang sepertinya diperintahkan Kakek Arto, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan berwajah masam melihat ke arahku hanya beberapa saat yang tidak lama sebelum ia menolehkan wajahnya dipanggil oleh seseorang.

”Pak Tian! Pak Bastian Akhtar?”sapa seseorang.

Aku mengulang menyebut namanya dan tanpa tahu untuk apa, aku ’menginginkan kehidupannya’.

Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.

h1

Emeth (POV Chiko)

Agustus 11, 2009

EMETH

Bantu aku menuliskannya, yah?

[aku tahu jika aku percaya pada kemampuanku untuk menyembuhkan diri sendiri dari dalam, mungkin aku bisa tertolong. Tapi energi dari metabolisme memori air ketuban ini sangat terbatas. Lagipula aku tidak begitu mahir tentang ini. Aku melakukan apa yang harus kulakukan]

Kau pernah merasakan salah satu anggota tubuhmu mati rasa? Maksudku, orang lain mencubitmu hingga memar namun kau tidak merasakan apa-apa di tempat yang dicubit. Pernah? Atau kau pernah dibius? Atau pingsan? Itu 1000x lebih baik dari pada orang lain mengira kau mati rasa, pingsan atau dalam pengaruh bius tapi sebenarnya kau masih bisa mendengar, merasakan bahkan melihat apa yang mereka lakukan. Ya. Dalam kasusku sih, tidak benar-benar melihat. Kau tahu bagaimana seorang paticka menyebut hal itu.

Oh ya, aku berharap kau memiliki cukup banyak waktu dan tempat untuk menyimpan kisah ini. Karena aku akan bercerita cukup panjang dan… mungkin setelah membaca kisah ini, aku membutuhkan pertolonganmu.

Mungkin juga tidak.

Paling tidak aku sudah memperingatkanmu.

Namaku Chiko Qortina. Paticka Sheevh level 4, atau kau bisa menyebutku paticka penyembuh. Semua orang memanggilku Chiko. Kini aku dan seorang Sulemn, neural tingkat dua tertinggi, berada dalam ruangan bercat biru pupus yang entah di mana, terbujur kaku, berdarah-darah dengan luka dan robek di sekujur tubuh. Menuju mati.


h1

Wan dan Na -Kerinduan Buku- (1/6)

Agustus 11, 2009

Pemenang lomba cerpen Fantasi : Fantasy Fiesta 2009

Cerita ini telah dihapus tetapi nanti akan bisa dilihat di buku Antologi Cerpen Fantasy Fiesta 2010 yang akan segera terbit.

Mohon do’anya

elbintang ^_^

h1

Putri Api

Maret 21, 2009

“Kamu harus benar-benar yakin untuk melakukan ini semua, Michael,”

“Aku yakin, mom. Trust me,”

“And what the hell next? you’ll die?

“Mom, kau mengumpat,”

“Mengapa tidak kita biarkan saja dia yang menemukan, kau?”

princess1“…maka mungkin saja Gabe yang akan mencarinya,”

“…”

“Im not gonna die, mom. Not now. Not in your time limitted,”

” i know that…”

h1

Pemapas Ruh (The Thief of Soul)

Maret 20, 2009

darkofthief

Biasanya aku tidak serepot ini menyelesaikan kontrak yang sudah kuterima. Ia bukan orang pertama yang kukerjai. Ia juga bukan calon Nivki pertama yang kuhadapi. Setidaknya beberapa Calon Nivki yang kuhadapi menunjukkan standar kemampuan mereka yang sesuai. Tidak seperti makhluk ini.

“Apa yang ingin kau lakukan jika tujuh menit lagi kau akan mati?”

Pemuda bertubuh kurus tanpa tonjolan otot dan mata merah karena begadang menatapku dengan wajah setengah tolol miliknya.

Entah karena dorongan apa, aku ingin bernegoisasi dengan targetku kali ini.

”atau…mungkin aku bisa memperpanjang bagianmu hingga seminggu. Tidak lebih,”

Tawa kecil terdengar melintas di tenggorokannya menampilkan seringai menyebalkan di sudut-sudut bibir. Ia mendengus keras-keras, menguarkan napas baunya ke arahku dan berlalu dengan langkah sempoyongan. Tidak peduli. Tipikal manusia kebanyakan yang sulit sekali menerima pertanyaan tentang kematian di tempat seperti ini.

Memangnya apa yang kuharapkan darinya? Ia mungkin saja benar-benar orang biasa yang tidak bisa langsung mengenaliku. Tidak seperti calon-calon Nivki sebelumnya. Begitu aku bersuara mereka langsung melakukan tindakan-tindakan antisipatif yang tidak biasa.

Yah, paling tidak dari pengalamanku, ada saja calon Nivki yang tega menamparku hingga rahangku lepas dan telingaku berdenging selama tiga hari. Ia membayar tindakannya itu dengan pengabdian beberapa tahun padaku. Calon Nivki lain memiliki kemampuan hebat hingga membuat tubuhku terpotong-potong secara acak. Yang menyebalkan dari kejadian itu adalah ia bukan targetku dan aku bahkan tidak pernah melihat wajahnya sebelumnya. Begitu aku pulih, dengan terpaksa calon Nivki sialan itu kubiarkan hidup selamanya. Tenteram dan panjang. Satu hal yang berbeda adalah selera makannya. Ia hanya bisa kenyang dan hidup dengan memakan apa-apa yang dibuang manusia dan hewan dari dubur mereka. Katakan aku jorok. Tapi ia benar-benar membuat sengsara hidupku lebih dari cukup.

Calon Nivki lainnya? Yah, beberapa dari mereka tidak bertemu denganku dan hidup menerima tongkat estafet kekuasaan Nivki, penjaga kematian. Tidak banyak mempengaruhi hidupku. Namun yang pasti, banyak mempengaruhi hidup makhluk-makhluk yang senang memberiku pekerjaan.

Kembali pada pemuda bau yang dikabarkan calon Nivki ini. Jika diingat-ingat mengapa aku tertarik memperhatikan dirinya alih-alih langsung menyerangnya adalah …aku tidak tahu. Ia begitu tidak berharga sebagai manusia.

Atau memang seharusnya begitu?

Ah. Tunggu sebentar. Ini hal baru. Aku merasakan geliat kehidupan memancar kuat dari diri pemuda bau berkepala perak yang berdiri tidak jauh dariku. Calon Nivki seharusnya tidak memilikinya. Aku memang bukan pakar kehidupan walaupun aku lebih lama hidup dari beberapa Nivki. Tapi seharusnya…yap! mungkin ini yang kucari-cari. Kemampuan istimewanya yang membuat ia terpilih menjadi calon Nivki.

Ada yang terjadi dalam ruangan ini yang tidak bisa ku lihat. Namun aku bisa merasakan perubahan suasananya. Tidak mengancam keberadaanku tapi cukup membuatku merasa tidak nyaman. Kira-kira seperti kau sedang berjalan di dalam kamarmu saat lampu telah dimatikan. Kau hapal benar letak barang-barang di kamarmu namun itu tidak cukup membuatmu nyaman bergerak.

Detak jantungku mengantisipasi sesuatu. Pemuda berkepala perak itu! Ha. Seperti tidak sengaja, ia menyenggol tangan seorang pelayan cafe yang lewat di sampingnya. Dan langsung membuat efek domino. Pelayan cafe yang nahas itu meliuk-liukan tubuhnya menahan baki agar tetap di atas tangannya namun tetap saja dua gelas besar minuman berwarna hijau dan merah terang meluncur tak tertahan. Seorang laki-laki dari arah yang berbeda menangkap kilat cairan berwarna merah dan hijau, ia menghindarinya dengan cukup cepat. Tapi gerakannya menimbulkan ketidak seimbangan pada tubuhnya dan refleks ia mencari pegangan agar tidak jatuh. Sialnya ia berpegangan pada sesuatu yang bukan benda mati.

Whoa! ini dia.

Gadis itu menjerit kaget dan melontarkan rentetan kata-kata sampah yang dapat kau pungut di setiap sudut di mana saja di cafe ini. Berikut telapak tangan miliknya yang tidak seberapa besar mengarah ke wajah laki-laki sial itu. Bunyi tamparannya cukup keras hingga terdengar ke panggung, menyelip tepat diantara selesainya sang diva panggung bergaun merah sepotong bernyanyi dan para penonton yang belum sempat bertepuk tangan. Tamparan itu mengalihkan perhatian semuanya. Seperti ada lampu sorot panggung yang mengarah pada mereka berdua, kali ini semua mata menatap ingin tahu.

Tangan laki-laki itu masih berpegangan pada dada si gadis, keduanya berdiri sangat dekat. Hingga hampir saling bersandar.

”James!”orang-orang mengenali laki-laki itu.

”Eh, James?”seruan-seruan itu terdengar geli

”Meeen… dapat perempuan sulit, ha?”kekeh geli mulai keras terdengar menjelma tawa seperti virus.

”James, jika ingin melakukannya, pergilah ke motel di sebelah atau lakukan dengan tanpa berisik. Bisa, kan?”teriak seseorang disambut suitan, ledakan tawa serta –entah untuk apa- tepuk tangan tak jelas membuat suasana hingar seperti sebelumnya. Dan seperti hanyalah sebuah adegan pembuka sebuah lagu, dari panggung terdengar menghentak musik country percintaan yang panas. Semuanya melanjutkan bertepuk tangan, menari dan meneriakkan kata-kata cabul menyambung setiap syair lagu.

”Beraninya kau menggerayangiku!”geram gadis itu berusaha melepaskan dirinya dari James.

Bukan maksudku!” ujar James kesal dan seolah baru sadar dari mimpi ia melepaskan tangannya yang masih menempel di depan dada sang gadis dan dengan cepat ia mundur beberapa langkah.

Keadaan mereka memang seperti yang disebutkan si gadis. Saat hampir jatuh tadi, James menarik tubuh gadis itu untuk menahan tubuhnya. Ia mencari-cari pegangan dan sepertinya itu terlihat seperti meraba-raba tubuh sang gadis. Belum lagi setelah mendapatkan tamparan, tangan James malah memilih berdiam di atas dadanya. Ia tidak bermaksud demikian.

”Maaf, tadi aku hampir jatuh karena menghindar dari…,” dari apa tadi? James melirik ke belakang gadis itu. Tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi seperti yang ada dalam bayangannya.

Gadis itu menatap James dengan mata berapi. Wajahnya memerah senada dengan rambut ikal cokelat kemerahan yang ia miliki.

Aku benar-benar tidak sengaja!”tegas James dengan canggung. Tidak pernah seumur hidupnya ia merasa kesal sekaligus bersalah seperti kali ini. Di kotanya, di kota ini, para gadis bukannya marah dan menampar James jika hal seperti ini terjadi pada mereka. Bahkan, mereka akan menerkam dan mengikat dirinya dengan penuh suka cita. Tapi tidak bagi gadis ini.

Dengan mengeluarkan sebuah seruan mirip seseorang yang putus asa, gadis itu menghentakkan kakinya dengan sekuat tenaga ke atas kaki James. Penopang belakang kaki si gadis yang runcing melesak ke dalam sepatu kulitnya. Laki-laki itu kaget, tak bisa bersuara. Namun James masih bisa menahan kepalan kecil tangan yang berayun, sekali lagi, kali ini ke arah perutnya. Mereka kini berdiri berhadap-hadapan. Saling menatap curiga dan saling menilai.

Seperti yang bisa diduga, Jameslah yang kemudian menarik tangan si gadis. Memaksanya berjalan di belakangnya, keluar dari cafe menuju jalan malam yang semakin sepi.

Akhirnya James menemukan gadisnya dan mereka hidup bahagia hingga akhir hayat,” sebuah tawa riang keluar dari mulut pemuda berkepala perak dengan ringan.

thief-joker

Ia bersandar di sisi kiri tangga menuju pintu keluar dengan kedua tangan menjuntai di kedua sisi tubuhnya.

Posisi yang sangat nyaman.

Tubuhku bergetar merasakan sensasi yang tak pernah kujumpai sebelumnya. Calon Nivki yang seorang ’pelengkap’? Wow.

Itu tadi ilusi seorang ’pelengkap’ rupanya. Kukira seorang ’pelengkap’ hidup dalam sosok tua dan bijak seperti di film-film bukan pada sosok pemuda tak terurus yang menghabiskan hidupnya pada bir naga, hingar bingar di cafe dan pelukan perempuan. Yang terakhir itu, jika ia beruntung.

Ya. Aku sudah memperhatikannya cukup lama. Ia lebih sering berada di apartment seseorang yang tidak ia kenal. Terbangun di waktu siang hampir selesai. Muntah di kamar mandi. Mengambil atau istilahnya meminjam pakaian dari si pemilik apartment. Berkumur-kumur. Mencari makanan yang ada dalam lemari es dan mengecek rekaman telphone seolah ia tinggal di sana. Jika sudah cukup sadar, ia membawa tubuhnya berjalan ke sana kemari tak jelas arah tujuan. Namun setiap kali sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah nomer telephone dan ucapan terima kasih dalam dua kertas yang berbeda. Ucapan terima kasih di tempelkan di depan lemari es dan nomer telphone di letakkannya di gagang telephone.

Kebiasaan yang unik tapi tidak terhitung luar biasa dari manusia biasa yang hidup di dunia ini tanpa tujuan.

Jika kau membenci gangguan diantara tugas-tugas pentingmu. Aku juga sama. Dan gangguan untuk tugasku kali ini muncul di luar cafe yang semakin sesak. Udara mengganti suasananya sebagai tanda. Angin memberitahu dinding-dinding gedung akan hadirnya helaan nafas membunuh. Aku bisa melihat kumpulan debu yang meletupkan titik nyala dan padam dengan bau busuk yang samar-samar ikut tercium.

Ada seseorang…tidak, tepatnya, ada tiga orang yang bermain-main di wilayahku. Dari dulu sekali, aku tidak tertarik dengan kejutan ala tamu tak diundang. Hingga sekarang pun, tidak.

Kamu punya tempat tidur bersih?”suara malas itu menghentikan langkahku menuju pintu keluar. Si ’pelengkap’ berjalan pelan menaiki tangga. Aku menunggu.

Kamu terlihat seperti orang yang punya tempat tidur bersih” si ’pelengkap’ itu bersuara lagi di depan wajahku. Mulutnya bau got, giginya besar-besar dan menghitam di beberapa tempat. Matanya yang setengah tertidur tetap berwarna merah. Begitu detilnya kuperhatikan ternyata rambut perak kusam sebahu miliknya dan pakaian kumal yang ia kenakan tidak terlalu jelek seperti yang aku bayangkan.

”Ayolah!”desaknya seperti pada teman dekat.

Aku menatapnya lekat dalam beberapa detik dan terpaksa mengakui, aku juga menginginkan dia di apartmentku. Cepat kutulis alamat, kuberikan kunci mobil dan mendorongnya menjauh dariku.

Ia praktis sekali. Tak ada pertanyaan. Tak ada komentar. Ia hanya pergi begitu saja.

Nah, sekarang saatnya membereskan tiga ‘pengutil’ yang menyusup di wilayahku.

***

edit April

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.