Eshe menyukai tari. Ia dilahirkan untuk itu. Dibesarkan untuk mengabdi dan menjadi sebenar-benarnya manusia dalam tarian. Sejak awal sekali, saat ia dapat merasakan seluruh semesta merasuk dalam darahnya, Eshe merasakan kekacauan yang tak terkira. Ia tak dapat mengendalikan semua di dalam dirinya. Semesta terlalu kuat dan besar. Emosi bumi berkelindan antara manis tak tertahankan hingga rasa pahit yang memabukkan. Eshe tersesat di masa kanaknya.
Lalu, gelombang djembe menariknya keluar.
Gerakan kaki yang menghentak ke bumi, membuat tubuhnya tenang. Liukan angin yang memainkan dahan-dahan muda diikuti tubuhnya. Telinganya bersuka dengan rima mantra dan jeritan permohonan. Semakin ramai, tubuhnya semakin ringan. Kepalanya bergerak meleburkan semua ungkapan yang bahkan tidak bisa terucapkan. Ia menari pertama kali. Melakukan tarian pelepasan sesuai mantra dan permohonan. Tarian yang sudah lama sekali tidak bisa dilakukan orang-orang dengan sempurna. Eshe mencapai takdirnya.
Eshe lah sang penari.
Tak ada yang tak tersembuhkan dengan tarian Eshe. Ia mengenali setiap titik di tubuhnya sebagai pintu-pintu semesta. Liukan tubuhnya memaksa setiap rapalan mantra para dukun untuk masuk dan dikabulkan. Terkadang ia menjadi sang dukun yang merapal. Ada saatnya ia menjadi penguasa yang dipuja. Tapi ia lebih menyukai sebagai penari. Ia dapat mencicipi rasa hidup dan terpuaskan.
“Tanganmu diukir?”
Itu kalimat pertama yang didengar Eshe, di tengah-tengah puasa indera yang dilakukannya selama tiga hari.
Laki-laki bertopi bisbol menatap lengan Eshe yang digurati Betsheva. Tangannya telah diukir dengan Sasyiana Tulumbeka. Darah dari pohon tempat nyawanya disimpan. Pengetahuan yang oleh orang lain tidak akan pernah dipercayai, tapi Eshe sudah lama tidak memperdebatkannya. Ia juga tidak lagi mempertanyakan kehadiran laki-laki dengan topi bisbol yang selalu muncul di waktu-waktu ganjil. Seperti saat ini.
Di luar, nada tinggi dari djembe yang dipukul menandakan persiapan para tetua adat telah selesai. Mereka menunggu Eshe keluar untuk memberikan salam kepada bumi, memanggil angin untuk dikuasai dan mengeluarkan air dari langit sebagai tanda pelepasan yang enggan. Waktunya telah tiba, mereka tidak bisa menunggu lebih lama dari satu menit. Hanya saja, waktu sedang tunduk pada pemilik topi bisbol itu. Jadi, tidak ada masalah.
Eshe menyentuh biji gelangnya dengan pelan. Suara gemerincing ringan keluar dari sana. Pemanggil roh yang lembut. Biji gelangnya berasal dari lempeng besi muda yang ditempa selama empatpuluh malam. Selama roh kematian mengadakan tur terakhir di bumi.
“Jangan bunyikan apa-apa, dulu!” Laki-laki itu menghentikan gerincing paling lembut dalam seketika. Tangan Eshe dalam genggamannya. Telapak tangan yang besar menekan seluruh telapak tangan Eshe. Beberapa saat setelahnya, dengan pelan laki-laki itu memisahkan kedua telapak tangan mereka. Eshe melenguh keras begitu merasakan dingin yang membebat dari ujung jari hingga pangkal lengannya. Lalu hampir bersamaan rasa panas yang membakar menderanya, mengalir dari ubun-ubun menuju titik pusat tubuh.
Eshe melihat setiap guratan Betsheva di tubuhnya meluruh jatuh seperti bunga akasia yang gugur. Setiap kata yang sudah di ujung lidahnya tak pernah benar-benar bisa diucapkan. Karena rasa itu. Bahagia, diberkati sekaligus perasaan berkhianat yang menderanya dari sisi yang entah di bagian mana.
Peluruhan itu berjalan sebentar saja. Sinar matahari yang masuk melalui celah kusen kamar Eshe bahkan belum bergerak dari posisinya.
Pintu kamarnya dibuka dari luar. “Eshe.”
Gadis itu melonjak bangkit dari duduknya. “Uma?” bisiknya dengan heran. Lalu melaju ke dalam pelukan perempuan bertubuh gempal yang tersedak dalam tangisnya. Mereka rindu. Eshe lupa ia selalu merasakan kerinduan ini dalam tariannya. Dekapan Uma, seperti tarian abadi.
Hanya ilusi, bisik suara laki-laki bertopi bisbol di telinganya. Eshe benci diberitahu. Ia telah mendengar rapalan mantra saat pintu kamarnya dibuka. Tubuhnya telah meliuk, meneriakkan kerinduan yang baru saja ia temukan. Tak ada Uma, tak ada pelukan dan tubuh gempal yang berisi penuh cinta. Hanya ada tarian. Ia akan melepaskan roh Uma-nya walau enggan.
Gelombang djembe melengking memasuki semestanya.
Eshe berdiri lurus, tegak menuju matahari, lengannya menjulang di atas kepala. Kilau gurat sepanjang kedua lengannya membuat gadis itu terhenyak kaget. Masih di sana, ukiran darah Sasyiana Tulumbeka. Tak sempat berpikir lebih lama lagi, arak-arakan di depannya meneriakkan pilu perpisahan yang paling menyayat. Djembe mengiringi, susul menyusul dengan lengking seruling.
Eshe menggerakkan kepalanya berlawanan arah jarum jam. Matanya tidak tertutup. Ia tidak ingin melihat kepergian roh hari ini. Jika ia menutupkan matanya, semesta akan memperjelas penglihatannya. Kesedihan akan datang membebani langkah tariannya. Tidak patut untuk pelepasan Uma-nya.
Bumi!
Panggil Eshe dengan hentakan kakinya.
Bumi.
Panggil Eshe lagi. Kakinya membelai lembut perut bumi. Menggodanya.
Bumi.
Tumit dan ujung kakinya bergantian membuat lingkaran-lingkaran mimpi dan harapan.
Gelombang djembe menghentaknya. Pinggiran kaki Eshe menjejak kuat lalu seiring tiupan angin, gadis itu menghempaskan debu pekat. Angin!
Angin.
Debu-debu beterbangan berpilin dengan do’a-do’a yang keluar dari mulut Eshe.
Marak suara dan rapalan yang sahut menyahut, menggetarkan tubuh Eshe. Tubuhnya berputar, orang-orang berputar. Mereka menjadi gelombang yang memanjang hingga ke pemakaman.
Pemindahan jasad Uma dari tempat bumi ke tempat keabadian.
Teriakan bibinya melengking sepenuh jiwa. Ia membawakan penuh-penuh mantra kehidupan. Semua pelayat menimpalinya dengan jeritan perkabulan. Sahut-menyahut, semua berteriak hingga sampai kekuatan suara yang paling akhir.
Swa ti yakhta …
Kaki Eshe bergeming. Ia mengingat mantra itu. Tubuhnya kaku.
Swa ti yakhta nun julai de kya
Ia merasakan tangan Uma mendekap jantungnya.
Na, Wa, Si, julai de kya
Ia mengingat laki-laki bertopi bisbol itu.
Swa ti yakhta nun julai de kya, na, wa, si, julai de kya
Kuberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa
Kekuatan, kecerdasan, kuasa mencipta
Kehidupan memberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa
Eshe melemparkan tangannya tinggi-tinggi. Ia menderas, tenggelam pada mantra.
Ya, Qaboe. Jeritnya memohon perkabulan.
Tangisnya menggerung.
Eshe menjelma dukun, menjelma semesta, menjelma kuasa. Namun tetap saja ia dapat merasakan, semua itu tak cukup untuk perkabulan. Ia menjeritkan lagi permohonan perkabulan.
Ia ingin menjadi yang terpilih dalam pertukaran.
Ya, Qaboe.
Mengapa ia lupa tentang kuasa ini?
Hidupkanlah Uma! Kuberikan nyawaku untuk pertukaran. Eshe, Na, Wa, Si, julai de kya. Kuberikan namaku.
Eshe menari, berputar, meliuk mengalahkan dahan muda. Hilang dalam debu angin. Menjejak setiap bumi, meneriakkan namanya sebagai ikrar pertukaran. Uma sumber kebijakan Swalih, ketiadaan Uma membuat mereka berceceran seperti kerikil dimakan badai. Eshe memantrai dirinya, meneriakkan permohonan pada seluruh semesta. Hingga senja menutup prosesi itu dengan gelap.
Jasad Uma ditutup dalam peti keabadian. Tak ada yang menumpahkan tanah di atasnya. Semua telah mengharap besar pada pertukaran. Sanak famili terpilih berjaga hingga pertukaran jelas terkabul tidaknya. Bibi, adik Uma, pergi tanpa menoleh ke arah Eshe. Orang-orang bubar tanpa bicara. Senyap menemani setiap gerak.
Eshe mendongakkan kepalanya. Ia menemukan kegelapan yang tak berujung.
“Eshe…”
***
Dalam ribuan kehidupan ia menjanjikan banyak kenikmatan pertukaran. Nyawa dengan nyawa. Kesedihan dengan kesedihan yang meradang. Tapi tidak ada pertukaran yang sehebat ini.
Kematian yang hidup.
“Jika saja kau memiliki keinginan, apa yang kau bayangkan?” Laki-laki bertopi bisbol itu menyapa sosok yang membersamainya. Mereka berada di penyeberangan kehidupan.
Saat biasanya manusia dicekam kesenyapan dan penyesalan yang tak berujung, laki-laki bertopi bisbol itu malah mengajaknya bercengkrama seperti dua kawan lama.
“Kehidupan,” jawab sosok itu tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Laki-laki bertopi bisbol itu menatap sosok itu dalam-dalam.
“Maka jadilah kau anakku. Kehidupan. Eshe.”
===============================
ide tulisan ini dituangkan dalam 2 cerpen yang berpasangan. Eshe -nya elbintang dan Chatha-nya Albert Wirya Suryanata *bisa diliat di SINI

“…maka mungkin saja Gabe yang akan mencarinya,”
