Arsip untuk ‘Tantangan’ Kategori

h1

Eshe

Februari 14, 2012

Eshe menyukai tari. Ia dilahirkan untuk itu. Dibesarkan untuk mengabdi dan menjadi sebenar-benarnya manusia dalam tarian. Sejak awal sekali, saat ia dapat merasakan seluruh semesta merasuk dalam darahnya, Eshe merasakan kekacauan yang tak terkira. Ia tak dapat mengendalikan semua di dalam dirinya. Semesta terlalu kuat dan besar. Emosi bumi berkelindan antara manis tak tertahankan hingga rasa pahit yang memabukkan. Eshe tersesat di masa kanaknya.

Lalu, gelombang djembe menariknya keluar.

Gerakan kaki yang menghentak ke bumi, membuat tubuhnya tenang. Liukan angin yang memainkan dahan-dahan muda diikuti tubuhnya. Telinganya bersuka dengan rima mantra dan jeritan permohonan. Semakin ramai, tubuhnya semakin ringan. Kepalanya bergerak meleburkan semua ungkapan yang bahkan tidak bisa terucapkan. Ia menari pertama kali. Melakukan tarian pelepasan sesuai mantra dan permohonan. Tarian yang sudah lama sekali tidak bisa dilakukan orang-orang dengan sempurna. Eshe mencapai takdirnya.

Eshe lah sang penari.

Tak ada yang tak tersembuhkan dengan tarian Eshe. Ia mengenali setiap titik di tubuhnya sebagai pintu-pintu semesta. Liukan tubuhnya memaksa setiap rapalan mantra para dukun untuk masuk dan dikabulkan. Terkadang ia menjadi sang dukun yang merapal. Ada saatnya ia menjadi penguasa yang dipuja. Tapi ia lebih menyukai sebagai penari. Ia dapat mencicipi rasa hidup dan terpuaskan.

“Tanganmu diukir?”

Itu kalimat pertama yang didengar Eshe, di tengah-tengah puasa indera yang dilakukannya selama tiga hari.

Laki-laki bertopi bisbol menatap lengan Eshe yang digurati Betsheva. Tangannya telah diukir dengan Sasyiana Tulumbeka. Darah dari pohon tempat nyawanya disimpan. Pengetahuan yang oleh orang lain tidak akan pernah dipercayai, tapi Eshe sudah lama tidak memperdebatkannya. Ia juga tidak lagi mempertanyakan kehadiran laki-laki dengan topi bisbol yang selalu muncul di waktu-waktu ganjil. Seperti saat ini.

Di luar, nada tinggi dari djembe yang dipukul menandakan persiapan para tetua adat telah selesai. Mereka menunggu Eshe keluar untuk memberikan salam kepada bumi, memanggil angin untuk dikuasai dan mengeluarkan air dari langit sebagai tanda pelepasan yang enggan. Waktunya telah tiba, mereka tidak bisa menunggu lebih lama dari satu menit. Hanya saja, waktu sedang tunduk pada pemilik topi bisbol itu. Jadi, tidak ada masalah.

Eshe menyentuh biji gelangnya dengan pelan. Suara gemerincing ringan keluar dari sana. Pemanggil roh yang lembut. Biji gelangnya berasal dari lempeng besi muda yang ditempa selama empatpuluh malam. Selama roh kematian mengadakan tur terakhir di bumi.

“Jangan bunyikan apa-apa, dulu!” Laki-laki itu menghentikan gerincing paling lembut dalam seketika. Tangan Eshe dalam genggamannya. Telapak tangan yang besar menekan seluruh telapak tangan Eshe. Beberapa saat setelahnya, dengan pelan laki-laki itu memisahkan kedua telapak tangan mereka. Eshe melenguh keras begitu merasakan dingin yang membebat dari ujung jari hingga pangkal lengannya. Lalu hampir bersamaan rasa panas yang membakar menderanya, mengalir dari ubun-ubun menuju titik pusat tubuh.

Eshe melihat setiap guratan Betsheva di tubuhnya meluruh jatuh seperti bunga akasia yang gugur. Setiap kata yang sudah di ujung lidahnya tak pernah benar-benar bisa diucapkan. Karena rasa itu. Bahagia, diberkati sekaligus perasaan berkhianat yang menderanya dari sisi yang entah di bagian mana.

Peluruhan itu berjalan sebentar saja. Sinar matahari yang masuk melalui celah kusen kamar Eshe bahkan belum bergerak dari posisinya.

Pintu kamarnya dibuka dari luar. “Eshe.”

Gadis itu melonjak bangkit dari duduknya. “Uma?” bisiknya dengan heran. Lalu melaju ke dalam pelukan perempuan bertubuh gempal yang tersedak dalam tangisnya. Mereka rindu. Eshe lupa ia selalu merasakan kerinduan ini dalam tariannya. Dekapan Uma, seperti tarian abadi.

Hanya ilusi, bisik suara laki-laki bertopi bisbol di telinganya. Eshe benci diberitahu. Ia telah mendengar rapalan mantra saat pintu kamarnya dibuka. Tubuhnya telah meliuk, meneriakkan kerinduan yang baru saja ia temukan. Tak ada Uma, tak ada pelukan dan tubuh gempal yang berisi penuh cinta. Hanya ada tarian. Ia akan melepaskan roh Uma-nya walau enggan.

Gelombang djembe melengking memasuki semestanya.

Eshe berdiri lurus, tegak menuju matahari, lengannya menjulang di atas kepala. Kilau gurat sepanjang kedua lengannya membuat gadis itu terhenyak kaget. Masih di sana, ukiran darah Sasyiana Tulumbeka. Tak sempat berpikir lebih lama lagi, arak-arakan di depannya meneriakkan pilu perpisahan yang paling menyayat. Djembe mengiringi, susul menyusul dengan lengking seruling.

Eshe menggerakkan kepalanya berlawanan arah jarum jam. Matanya tidak tertutup. Ia tidak ingin melihat kepergian roh hari ini. Jika ia menutupkan matanya, semesta akan memperjelas penglihatannya. Kesedihan akan datang membebani langkah tariannya. Tidak patut untuk pelepasan Uma-nya.

Bumi!

Panggil Eshe dengan hentakan kakinya.

Bumi.

Panggil Eshe lagi. Kakinya membelai lembut perut bumi. Menggodanya.

Bumi.

Tumit dan ujung kakinya bergantian membuat lingkaran-lingkaran mimpi dan harapan.
Gelombang djembe menghentaknya. Pinggiran kaki Eshe menjejak kuat lalu seiring tiupan angin, gadis itu menghempaskan debu pekat. Angin!

Angin.

Debu-debu beterbangan berpilin dengan do’a-do’a yang keluar dari mulut Eshe.
Marak suara dan rapalan yang sahut menyahut, menggetarkan tubuh Eshe. Tubuhnya berputar, orang-orang berputar. Mereka menjadi gelombang yang memanjang hingga ke pemakaman.

Pemindahan jasad Uma dari tempat bumi ke tempat keabadian.

Teriakan bibinya melengking sepenuh jiwa. Ia membawakan penuh-penuh mantra kehidupan. Semua pelayat menimpalinya dengan jeritan perkabulan. Sahut-menyahut, semua berteriak hingga sampai kekuatan suara yang paling akhir.

Swa ti yakhta …

Kaki Eshe bergeming. Ia mengingat mantra itu. Tubuhnya kaku.

Swa ti yakhta nun julai de kya

Ia merasakan tangan Uma mendekap jantungnya.

Na, Wa, Si, julai de kya

Ia mengingat laki-laki bertopi bisbol itu.

Swa ti yakhta nun julai de kya, na, wa, si, julai de kya

Kuberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa
Kekuatan, kecerdasan, kuasa mencipta
Kehidupan memberikan kekuatanku untuk menukar nyawa dengan nyawa

Eshe melemparkan tangannya tinggi-tinggi. Ia menderas, tenggelam pada mantra.

Ya, Qaboe. Jeritnya memohon perkabulan.

Tangisnya menggerung.

Eshe menjelma dukun, menjelma semesta, menjelma kuasa. Namun tetap saja ia dapat merasakan, semua itu tak cukup untuk perkabulan. Ia menjeritkan lagi permohonan perkabulan.

Ia ingin menjadi yang terpilih dalam pertukaran.

Ya, Qaboe.

Mengapa ia lupa tentang kuasa ini?

Hidupkanlah Uma! Kuberikan nyawaku untuk pertukaran. Eshe, Na, Wa, Si, julai de kya. Kuberikan namaku.

Eshe menari, berputar, meliuk mengalahkan dahan muda. Hilang dalam debu angin. Menjejak setiap bumi, meneriakkan namanya sebagai ikrar pertukaran. Uma sumber kebijakan Swalih, ketiadaan Uma membuat mereka berceceran seperti kerikil dimakan badai. Eshe memantrai dirinya, meneriakkan permohonan pada seluruh semesta. Hingga senja menutup prosesi itu dengan gelap.

Jasad Uma ditutup dalam peti keabadian. Tak ada yang menumpahkan tanah di atasnya. Semua telah mengharap besar pada pertukaran. Sanak famili terpilih berjaga hingga pertukaran jelas terkabul tidaknya. Bibi, adik Uma, pergi tanpa menoleh ke arah Eshe. Orang-orang bubar tanpa bicara. Senyap menemani setiap gerak.
Eshe mendongakkan kepalanya. Ia menemukan kegelapan yang tak berujung.

“Eshe…”

***

Dalam ribuan kehidupan ia menjanjikan banyak kenikmatan pertukaran. Nyawa dengan nyawa. Kesedihan dengan kesedihan yang meradang. Tapi tidak ada pertukaran yang sehebat ini.

Kematian yang hidup.

“Jika saja kau memiliki keinginan, apa yang kau bayangkan?” Laki-laki bertopi bisbol itu menyapa sosok yang membersamainya. Mereka berada di penyeberangan kehidupan.

Saat biasanya manusia dicekam kesenyapan dan penyesalan yang tak berujung, laki-laki bertopi bisbol itu malah mengajaknya bercengkrama seperti dua kawan lama.

“Kehidupan,” jawab sosok itu tanpa tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

Laki-laki bertopi bisbol itu menatap sosok itu dalam-dalam.

“Maka jadilah kau anakku. Kehidupan. Eshe.”

 

===============================

ide tulisan ini dituangkan dalam 2 cerpen yang berpasangan. Eshe -nya elbintang dan Chatha-nya Albert Wirya Suryanata *bisa diliat di SINI

h1

CORN SOUP CUBE

Februari 13, 2012
h1

SURGA BUKU SURGA

Februari 12, 2012

Hari ini Bu Sofia masuk bersama awan-awan berwarna oranye dan pink yang melayang-layang di sekitarnya. Kemudian menebar ke seantero kelas sembilan.

“Rasanya manis dan segar!” seru Bima yang menjumput segenggam awan oranye di tangannya.

“Bu Sofiaaa,” teriak Laras. “Awan pink punyaku kok rasanya duren?” protesnya melepehkan awan pink dari mulutnya.

Awan itu berubah bentuk.

“Aysss, awannya menjadi kuda putih yang gagah,” seru Laras takjub.

Salah satu teman cowoknya melompat menaiki kuda itu dan pakaiannya berubah menjadi ksatria. Wajah Laras merona merah saat ksatria itu menatapnya. Teman-temannya yang lain bertepuk tangan menggoda.

Lalu tiba-tiba selarik api melesat melalui sekumpulan awan oranye-pink. Suasana kelas menjadi hening.

“JANGAN GANGGU MAMA!” Sebentuk awan pink berubah menjadi anak kecil dengan tato Rangda di keningnya. Matanya mengeluarkan api.

Kuku-kuku jemari Nisa menancap tegang di tangan Tia.

“Kekuatannya belum terkendali. Apa ia akan dibunuh?” tanya Galang tatapannya mengarah pada bocah yang mengeluarkan api.

“Mengapa harus dibunuh?” balas Tia bertanya sambil berbisik. Ia tidak menghiraukan tangannya yang dicengkeram Nisa. Sementara, sang bocah kini mengejar seorang wanita yang berlari sekuat tenaga di depannya.

“Dia sudah membunuh tim sihir pemerintah,” jawab Galang sesekali menghindar dari larikan api yang kesasar.

“Naik ke pelangi…” seru anak-anak lain memberitahu sosok perempuan yang sedang dikejar bocah bermata api.

“Pelangi? Mana pelangi?”

Gerald naik di atas bangku dan menarik sebentuk awan oranye yang berubah menjadi lengkung pelangi.

Jembatan yang menghubungkan segala yang di langit dengan semua yang di bumi.

“Ayo naik!” ajak Gerald penuh semangat.

Jalan pelangi seperti bubur, lunak dan hangat. Tapi tidak akan membuat satu orang pun terjungkal atau jatuh. Setiap ada anak yang naik, lebar jalannya bertambah. Aroma manis-pedas-menyegarkan tercium sepanjang lengkung pelangi.

“Berhenti!” suara lembut seperti lonceng kecil terdengar.

“Berhenti-berhenti-berhenti-berhenti…” suara itu jadi sangat ribut hingga membuat mereka akhirnya berhenti.

“Peri yang nakal!” kekeh Ayu, begitu ia melihat awan-awan berubah menjadi tubuh-tubuh sangat kecil serupa lebah.

Para peri menjawab dengan tawa yang terdengar seperti sebuah lagu.

“Kami butuh…”

“Bantuan kalian…”

“Hanya kalian…”

“Para penunggang pelangi…”

Ayu dan teman-temannya mendengarkan para peri yang berbicara sambung-menyambung. Para peri  itu ingin Ayu dan teman-teman, membantu mereka menyampaikan pesan, pada dua hobit pemegang cincin bertuah.

“Penyihir Sauron…”

“Akan segera bangkit…”

“Pasukan mereka…”

“Akan melewati jalan Frodo…”

“Itu nama salah satu hobit…”

“…”

Yah, intinya, para peri ingin mereka pergi melintasi hutan tadah hujan, melewati tebing jurang, untuk menyampaikan pesan pada dua hobbit itu.

“Bagaimana caranya?” tanya Ayu tidak mengerti.

“Pakai pesawat?” usul Gerald. Semua mendenguskan kata percuma.

“Pakai awan…”hampir bersamaan semua mencetuskan dan baru menyadari sesuatu.

Awan-awan Bu Sofia, semuanya telah menghilang.

Di bawah mereka, membentang hutan yang sangat lebat, berpohon besar-besar dan tinggi.

“Apakah kalian akan meminjamkan serbuk sihir?” tanya Fadel pada seorang peri yang menggunakan mahkota bunga-bunga di kepalanya.

“Betul sekali…”

“Tapi serbuk kami…”

“Hanya cukup…”

“Untuk lima orang…”

Lagi-lagi para peri berbicara dengan sambung-menyambung.

“Tenang saja,” potong Gerald. “Yang lain akan terbang dengan balon-balon gas dan menunggangi kuda dan naga.”

Gemuruh tanda setuju membuat ombak pelan pada lengkung pelangi.

Fadel memimpin rombongan yang diselubungi serbuk ajaib para peri. Gerald menunggangi naga terbang dan Ayu tertawa-tawa bahagia di atas balon gas yang mulai bergerak.

“Mula-mula kita akan berhadapan dengan Kapten Mata-Satu,”

Lalu tiba-tiba semuanya lenyap. Gelap meliputi semua pandangan.

Tepuk lima yang diulang dua kali membuat suara bak dengungan lebah.

“Anak-anak sudah waktunya istirahat.” Suara itu terdengar mendahului pijar nyala lampu.

“Baiklah, tapi besok, buku Peter Pan tetap giliranku, Bunda,” pinta Fadel menarik tubuhnya beringsut naik ke kursi roda.

“Aku punya bubuk ajaib dari peri. Besok aku dan teman-teman akan terbang bertemu Kapten Mata-Satu,” sambungnya dengan senyum lebar.

Setiap anak bergegas membereskan masing-masing bawaannya menuju kamar.

Gerald melangkah mantap dengan tongkat. Kini ia dapat memperkirakan jarak antara ruang duduk dan pintu. Jarak antara gerak kursi roda Fadel dan langkah Bunda yang menggendong Ayu.

Seolah mengingat sesuatu, tangan Gerald menggapai ke arah gadis itu. Menyentuh kepalanya. Bunda berhenti untuk memberi Gerald dan Ayu kesempatan.

“Tadi aku naik naga. Binatang hebat. Cukup menyatukan keinginanku dan hatinya, ia bisa melesat ke tempat yang kutuju,” cerita Gerald bersemangat. Tangannya menarik lengan baju Ayu yang kosong.
“Aku juga hebat,” ungkap Ayu tersenyum.

“Zepelin sengaja membuat balon gas untuk orang-orang sepertiku. Biar bunda tidak capek-capek menggendong,” kerlingnya. Dibalas bunda dengan kecupan di kepala.

“Bunda,” panggil Bima di pintu kamarnya. Suaranya mulai berbentuk walau masih samar.
Tangan Bima bergerak berbicara.

[Hari ini kelas kami punya usul. Ada satu do’a di malam nanti. Semoga yang bikin buku selalu bahagia dan penuh berkah Allah. Hari-hari bersama mereka seperti mencium bau surga]

Bunda meletakkan lima jarinya di bibir lalu telunjuk dan jari tengahnya menyentuh dagu sekilas, kemudian menegaskannya dengan anggukan.

[Usul diterima]

Bagaimana menurutmu Sofia? mereka keren, kan? Bunda melirik sosok penjaga perpustakaan yang terlihat dari kaca jendela. Sosok yang selalu siap menerima gerutuan dan celoteh anak-anak spesial itu berkostum dewi awan hari ini.

Manekin itu mengedipkan matanya sebagai jawaban.

Eh?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.