h1

TB-Penyusupan

floures1

Di ujung Timur Saafilahaa, tempat burung-burung terbang rendah. Dalam bangunan oktagonal yang mengambang dengan atap mengerucut ke atas, Mya memandang takjub ke arah benda berbentuk telur raksasa. Benda itu tegak dengan aneh di tengah-tengah ruangan.

”Ini tempatnya,” desis Mya dengan nada lega yang terselip diantara giginya. Ditarik nafasnya dalam-dalam dan dihembuskan panjang bersamaan dengan langkah pertamanya untuk mendekat. Hembusan nafas yang cukup keras membuat tubuhnya terdorong lebih cepat daripada yang diinginkannya. Menghasilkan langkah-langkah kecil beruntun yang goyah.

Mya mendengus kesal. Wajahnya pias dan degup jantungnya tidak beraturan. Ia menopangkan keduatangan di atas lutut dan perlahan menegakkan tubuhnya kembali.

Bahaya-bahaya!” bisiknya menyadari sesuatu yang berbeda di ruangan ini. Ada pilinan jaring sutra yang hampir tidak bisa diliat oleh mata menahan telur raksasa tetap di atas lantai, seperti tangan besi. Tidak benar-benar diatas lantai. Tepatnya melayang.

Tekanan gravitasi yang melemah.

Mya melangkahkan kakinya, kali ini dengan penuh pertimbangan.

”…tempat terlarang! Uh! Aku telah memasuki tempat terlarang!” gumamnya setengah jengkel dan setengah cemas. Beberapa kali ia terdiam cukup lama dan terlihat seolah hendak berbalik arah. Namun dengan wajah semakin suram ia memaksa kaki kecilnya melangkah. Lebih dekat.

Berbentuk bulat panjang dengan dinding transparan yang ditutupi kabut tebal akibat perputaran udara dingin di dalamnya membuat mata telanjang tidak akan bisa melihat apa atau siapa yang ada di dalamnya.

Jari-jari Mya perlahan menyentuh dindingnya. Kenyal dan lengket. Dinding itu dilapisi oleh perpaduan kristal cair dan matriks rantai-rantai asam amino yang jika bersentuhan dengan udara dalam tekanan normal menghasilkan galur kental semacam bubur. Kemampuan alami dari sistem pertahanan kepompong hewan berkaki enambelas yang dapat menghilangkan sinyal otak neural. Saat menyentuh lantai, galur bubur itu menjadi tali helikal yang kusut. Menempel kuat pada lantai, berwarna udara namun sangat elastis. Mya berdecak pelan. Alat pemakan neural. Ia pikir itu hanya sebuah cerita kosong. Kepompong pemakan neural.

Sangat halus, Mya merasakan detak mengalir dari dalam kepompong, ”Kau ada di sini, O Tuanku?” tangan Mya menekan pelan dinding kepompong, memastikan kehidupan yang ia rasakan, ”kau di dalam pemusnah, Sayang. Mengapa?” bisik Mya terdengar antara memuja dan mengejek. Tangannya kini menekan kuat-kuat dinding kepompong seperti terpesona akan daya dorong yang menolak gerakannya dengan sama kuatnya. Mya mengerjapkan mata sekali. Sekejap terlihat seringai nakal di wajahnya, samar. Dengan sungguh-sungguh dikepalkan tangannya, diangkat melewati bahunya dan dihantamkan keras ke dinding kepompong. Tindakan yang berakhir dengan percikan lendir ke arah wajah dan tubuhnya. Lendir yang hangat.

Hangat? Sejak kapan?

Sigap, Mya menarik tubuhnya mundur dua langkah dan menyadari jantungnya berdegup lebih cepat. Udara di dalam kepompong bergerak, kabut putih serupa selimut berangsur menipis. Memperlihatkan apa yang ada di dalam kepompong.

Ia benar. Dia berada di sini.

Emna.

Mata Mya membola tidak percaya pada apa yang baru saja disadarinya,

“Kau yang menuntunku ke sini,”

Emna Neural. Sahabatnya, tuannya, sekaligus… Mya menelan ludah. Ia membenci perasaannya yang gundah. Ini tidak mungkin!

Tubuh di dalam kepompong itu terlihat seperti tidur sambil berdiri. Matanya terpejam rapat. Kedua kakinya diikat oleh rantai usus yang terlihat kadang berkedut-kedut santai, kadang membelit tegang. Rambutnya yang berwarna cokelat terang panjang terurai hingga belakang lutut. Kedua tangannya terjulur lemas di kedua sisi tubuhnya. Wajahnya terlihat damai dengan segurat senyum.

Mya merasakan gelombang bahaya menyelimutinya.

Wajahnya menjadi sengit, ”Kau!” bersama emosi yang meledak-ledak direntangkan tangannya dengan sempurna, telapak tangannya mengarah ke atas. Kaki kirinya menekuk maju satu jengkal. Namun secepat gerakan kuda-kuda yang dilakukannya, secepat itu pula ia kembali berdiri seperti biasa. Ia menggigit bibir bawahnya dan melihat ke arah kepompong seperti kehilangan persepsi.

“Tidak jadi menyerangku, Mya?” Suara Emna yang ringan mengisi udara seperti sebuah nyanyian.

Mya merasakan seluruh tubuhnya merespon dengan getaran rindu.

”Kau masih bisa melakukannya dari dalam sana?”

Bahkan kepompong pemusnah tidak dapat menahan kemampuan seorang neural sepertimu?

Emna tersenyum. Tanpa sedikit pun gerakan menggeliat, tubuhnya kini menjadi sangat hidup.

Mya menatap jeri,”Kau membohongi kami,” desisnya dengan nada tawa kalah yang pasrah.

Emna ikut tertawa. Lamat-lamat tawanya terdengar semakin muram.

Kau salah, Mya. Bukan aku,” warna kulit muka Emna berubah-ubah dari memerah, putih pasi hingga biru, ”Mereka yang membohongi kita. Sejarah telah membohongi kita, Mya,” Emna mengeluarkan geraman halus. Pendar cahaya dari dalam kepompong membungkus tubuh Emna tidak lebih dari sepuluh detik. Seketika membuat Mya jatuh bergulung di lantai. Erangannya lebih keras dari dengusan payah Emna.

Kepompong pemakan neural itu menyerang Emna.

Mya menampar lantai besi dengan kasar sebelum menegak paksa tubuhnya. Keringat dingin berjejer membentuk bola-bola kecil di dahinya, ia tidak mampu berdiri. Dilipat kakinya ke belakang dan duduk diatasnya. Sepertinya kepompong pemusnah sedang mengeluarkan core tee sole, cairan khas yang diproduksi untuk mematikan sel-sel otak seorang neural sebelum menjadikannya sebagai makanan santapan.

Mya meletakkan tangannya di kedua lutut bersiap-siap menghadapi sesuatu yang sama sekali baru baginya. Dengan mata setengah tertutup serta tubuh dan kepala yang condong ke belakang, Mya berkonsentrasi membuka gerbang kesadaran. Namun sebelum berhasil mencapainya, gerakan Emna di dalam kepompong membuatnya tercekat.

Emna baru saja menyelesaikan gerakan mengangkat kedua tangannya setinggi telinga dan meletakkan di atas dada. Gerakan itu terlihat normal dari pada seharusnya. Tangan kanannya menumpang di atas tangan kiri. Kaki kanannya menyilang di depan kaki kiri. Mya mengenali gerakan itu. Ia merasakan kaku dan tegang di sepanjang tulang belakang hingga pangkal leher. Emna menelengkan kepalanya, bibirnya tersenyum. Bahaya yang tak terhindarkan, batin Mya.

Ad vitam paramus,” suara Emna kini seringan kapas, ”Ia kutitipkan padamu. Emitte lucem et veritatem

Memang tak terhindarkan!

Badai memori melewati gerbang kesadarannya yang tiba-tiba terbuka dengan sempurna. Matanya berputar cepat menyaksikan beragam macam kejadian yang melesat dalam sepersekian detik di otaknya. Tubuhnya kejang menerima sensasi rasa yang hampir-hampir tak dapat dikuasai. Di saat yang sama Mya harus menyaksikan tubuh Emna retak seperti sebuah patung. Sangat perlahan tubuh itu pecah satu demi satu, dalam bagian kecil dan besar, tidak beraturan. Bagian-bagian tubuh itu berputar-putar mengambang di tengah-tengah kepompong. Dan masih dalam satu helaan nafas, suara berderak hebat diikuti ledakan besar yang susul menyusul mengguncang seluruh ruangan. Kepompong itu hancur.

***

Kheis Zane terbangun dari mimpi buruknya. Ia duduk dengan tubuh bergetar hebat. Mimpi? Bukan! Seorang neural seperti dirinya tidak bermimpi saat tidur. Gadis itu mengelap pipinya yang basah dengan jengkel, ia merasakan ketegangan yang menyesakkan dan sangat suram. Ada orang di luar sana mengetahui kode triune-nya dan berhasil menyusup dan memanipulasi memori otaknya. Ia diliputi kerinduan yang aneh.

Bunyi ‘bip’ nyaring yang panjang membuat Kheis Zane terlonjak kaget dan membuyarkan ketegangan di sekelilingnya. Dalam detik ia terlihat linglung sebelum kemudian menyadari asal bunyi itu berada. Ia meraih gelang komunikator yang tidak hanya ribut tapi juga berkedip-kedip dengan nyala merah. Usapan ringan pada kristal merah di gelang komunikatornya, menghentikan bunyi ‘bip’. Ia menunggu dan kristalnya bersinar menghadirkan tampilan hologram.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.