<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pembaca Dongeng</title>
	<atom:link href="http://pembacadongeng.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pembacadongeng.wordpress.com</link>
	<description>Perayaan sulur-sulur mimpi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Jan 2012 13:13:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pembacadongeng.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pembaca Dongeng</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pembacadongeng.wordpress.com/osd.xml" title="Pembaca Dongeng" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pembacadongeng.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Butterfly effect &#8211; Jika Kalian Tahu Siapa</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2012/01/01/butterfly-effect-jika-kalian-tahu-siapa/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2012/01/01/butterfly-effect-jika-kalian-tahu-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:13:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Semua kami berjejer merapat atas-bawah, berdiri-duduk, di kursi-melantai. Penuh. Sebenarnya tidak juga. Hanya kami harus menempel di dinding untuk menyisakan ruangan yang lumayan luas untuknya. Sudah hampir setengah jam ia berjalan hilir mudik untuk mempersiapkan segalanya. Tak ada satu pun yang boleh membantu. Limpi di sebelahku mencubit-cubit pahanya. Ia berusaha menahan diri tidak berlari menjulurkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=273&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua kami berjejer merapat atas-bawah, berdiri-duduk, di kursi-melantai. Penuh. Sebenarnya tidak juga. Hanya kami harus menempel di dinding untuk menyisakan ruangan yang lumayan luas untuknya. Sudah hampir setengah jam ia berjalan hilir mudik untuk mempersiapkan segalanya. Tak ada satu pun yang boleh membantu. Limpi di sebelahku mencubit-cubit pahanya. Ia berusaha menahan diri tidak berlari menjulurkan kaki dan tangannya untuk menawarkan mengangkat sesuatu atau menjelma menjadi sesuatu. Dorta dan lainnya tadi terlihat tenang dengan biskuit kemasan yang mereka makan pelan-pelan.</p>
<p>Kini kemasannya seolah berisi cerita dongeng paling menarik karena berpindah-pindah dan dibaca dengan penuh perhatian. Yah, tidak ada yang ingin melewatkan detail cerita dongeng paling menarik, kan? Hal itu akan menjadi aib karena tidak ada yang perlu disampaikan pada anak-cucu selain cerita dongeng paling menarik yang kau baca. Tentu kemasan biskuit yang berwarna biru-kuning-merah seperti warna isi printer tidak berisi cerita dongeng paling menarik. Tapi membaca-mengedarkannya dan menunggu kemasan itu sampai di tangan, lumayan cukup mengalihkan dari apa yang sedang terjadi di tengah-tengah ruangan.</p>
<p>”Baiklah.”</p>
<p>Suara itu berhasil membuat semuanya sejenak berhenti bernafas. Memusatkan perhatian ke arahnya. Dan serentak membuat cengiran pemandu sorak.</p>
<p>Ia tersenyum lega dengan wajah merona.</p>
<p>“Sims ala sims ala bim!”</p>
<p>Ketukkan tiga kali di atas roti isi yang sebesar piring makan. Kepulan asap keluar dari tongkat berujung bintang. Mula-mula tipis kemudian menjadi lebih pekat. Lingkaran paling depan terdekat tersedak asap dan terbatuk-batuk. Beberapa menit diperlukan untuk menghilangkan asap. Semuanya kembali menahan nafas. Roti isi sebesar piring itu masih di sana. Menatap balik ke arah kami. Ah, hanya kiasan.</p>
<p>“Sims ala sims ala bim!” Ia mengulangnya sekali lagi.</p>
<p>Kali ini tidak hanya asap tapi ada bunyi letupan yang menyertai. Batuk-batuk terjadi lagi. Perlu beberapa menit lagi.</p>
<p>Roti isi sebesar piring itu benar-benar bebal.</p>
<p>Ia mulai menggigit-gigit kuku. Titik-titik keringat membuat dahinya mengkilap basah.</p>
<p>“Sims ala sims ala bim!” Ia belum menyerah.</p>
<p>Batuk semakin ramai, bersahut-sahutan dengan letupan yang sepertinya tidak akan berhenti.</p>
<p>Pertama kali yang terlihat adalah senyum lebar dan tetesan air matanya. Lalu ada Dorta, Limpi, Numan, Feti dan aku. Di sana. Di tengah-tengah ruangan. Berpegangan tangan, membungkuk dan memberi hormat layaknya pemain opera.</p>
<p>”Ap-a&#8230;” Sebelum selesai ujaran protes, para makhluk jelmaan menghilang dengan bunyi yang mengingatkan pada jagung yang dipanggang.</p>
<p>Semuanya bertepuk tangan. Si pesulap melompat-lompat liar. Limpi berlari ke tengah mengambil roti isi sebesar piring dan membagi-bagikan pada semuanya. Kecuali aku. Rasanya menjijikkan memakan sesuatu yang dapat menjelma menjadi sosok sepertimu.</p>
<p>”Itu tadi keren sekali,”ujar Dorta. Tubuh besarnya mengambil separuh bagian tempat duduk.</p>
<p>”Merapal tiga kali dan membuat jelmaan yang tidak bisa bernapas lebih dari lima menit. Itu kemunduran untuk ukurannya,” sela Limpi dengan mulut meneteskan minyak keju dari roti yang sedang dimakan. Ia baru selesai membagikan roti isi yang diambilnya dari dapur. Melihat tempat duduknya dikuasai Dorta ia mengalah dan duduk di lantai.</p>
<p>”Ia juga tidak melayang seperti biasanya,” sambung yang lain.</p>
<p>”Menjadi Ibu Peri tidak harus selalu melayang,”jawab Limpi cepat</p>
<p>”Akhir-akhir ini, ia juga selalu terlihat gemuk. Padahal ia paling bosan dengan model itu-itu saja.” Limpi mengangguk setuju. Dorta memutar kedua bola matanya.</p>
<p>”Apakah dia sakit? Tadi kulihat dahinya mandi keringat.”</p>
<p>”Jangan bercanda! Tidak ada Ibu Peri yang bisa merapal saat sakit,”tukas Limpi cepat. Beberapa suara dan anggukkan menyetujui.</p>
<p>”Tapi untuk apa ia membuat jelmaan kalian berlima?”</p>
<p>Nah. Itu juga yang menjadi pertanyaanku pada Ibu Peri. Ah, maksudku pada si tukang sulap. Selain membuat jelmaan adalah ilmu sihir tingkat tinggi yang dapat mengancam jiwa. Jiwa si tukang sulap, tentunya. Juga melakukan sihir-sihir semacam itu bisa menarik perhatian Kalangan Atas. Dan tidak ada yang ingin didatangi oleh salah satu dari mereka saat ini. Tidak aku atau Dorta atau Numan yang sedang memberi tanda yang entah apa pada kami.</p>
<p>”Aku ingin kau ukur lagi,” tepuk Dorta di bahuku. Ia memegang pinggangnya yang bertambah besar. Ia baru makan jadi wajar saja kalau menjadi besar.</p>
<p>”Caw, kau akan tampil lagi Dorta? Sebagai apa? Boneka beruang yang lucu itu?”</p>
<p>Dorta tertawa. ”Aku tidak akan bisa lebih lucu lagi kalau Limpi menghidangkan kita makanan-makanan yang enak setiap hari.”</p>
<p>Limpi tersenyum lebar.</p>
<p>”Caw, Limpi&#8230;aku ingin menanyakan resep kripik pisang keju yang kemarin itu&#8230;”</p>
<p>Dan semua hampir bersuara bersamaan menuntut perhatian Limpi dengan resepnya.</p>
<p>Cicit dan tubuh Limpi tenggelam di tengah kerumunan.</p>
<p>Tepat guna. Dorta dan aku pergi dalam diam.</p>
<p>Numan menantikan kami dengan kaki yang tidak berhenti mengetuk lantai. Mungkin ada lagi lagu baru yang harus kami pelajari jika ketukan kakinya menemukan bunyi yang indah.</p>
<p>”Cepat sedikit,” ujarnya menyambar tangan Dorta. Langkah kaki Numan terlalu cepat untuk diimbangi. Dorta berlari-lari kecil di sampingnya.</p>
<p>Kami berhenti di depan pintu berwarna merah emas. Dorta belum sempat mengatur nafasnya ketika pintu itu terbuka dan mengisap, memaksa kami untuk masuk.</p>
<p>Lalu ada laki-laki yang hanya kami kenal dari foto. Duduk di sebelah tempat tidur Ibu Peri dengan wajah yang muram. Siapa dia tidak ada yang pernah bertanya pada Ibu Peri. Anaknya, bapaknya, suaminya, ekhm, apakah pasangan itu disebut sebagai suami untuk peri? Ternyata ada banyak yang kami tidak ketahui tentang peri. Terlebih lagi tentang orang ini. Entah apa wajah dan postur tubuhnya selalu begini atau seperti Ibu Peri kami.</p>
<p>Perempuan itu bisa tampil dengan sosok gendut yang menggelung rambut pirang madunya rapih ke atas. Memamerkan leher katanya. Apanya yang perlu dipamerkan! Atau sosok ramping dipenuhi tulang dengan rambut pirang ikal sepinggang. Atau sosok indah yang berlekuk-lekuk dengan kaki jenjang dan rambut pirang sebahu yang halus acak. Yah, satu hal yang selalu sama, ia selalu berambut pirang. Entah pirang kemerahan, pirang madu, pirang jerami, pirang emas, segala pirang yang bisa membuat salon-salon berebut ingin tahu bagaimana caranya. Ia marah besar saat aku menyarankan ia tampil sesekali dengan rambut hitam bergelombang. Seperti seseorang dalam mimpiku. Bukannya aku ingin jatuh cinta pada Ibu Peri, tapi apa masalahnya sih? Ia toh selalu berganti-ganti bentuk tubuh, kulit dan wajah. Tetap saja kami mengenalinya sebagai Ibu Peri. Tak akan tertukar, sumpah!</p>
<p>”Mendekatlah ke ranjang, Ibu ingin meminta bantuanmu.” Laki-laki yang entah siapa itu menatapku. Maksudnya meminta bantuanku? Aku perlu didorong keras oleh entah Dorta atau Numan. Kakiku harus mencengkram kuat lantai hingga terdengar seakan menggoresnya. Tubuhku terlalu besar untuk sebuah ranjang peri. Bisa-bisa Ibu Peri tumpah dari ranjangnya akibat senggolan lututku.</p>
<p>Tapi tetap saja aku menyenggolnya. Tidak sengaja. Sungguh. Hanya saja. Sebentar. Udara di sekitarku terasa berkurang hingga tidak cukup lagi kuhirup. Sebentar. Mengapa Ibu Peri tertidur dengan sosok seperti itu? Satu dari yang kami ketahui, peri tidur dengan sosok aslinya. Dadaku sesak. Peri hanya tidur jika masanya hampir habis. Itu dua hal. Kepalaku berdenging. Setelah menyenggol ranjang Ibu Peri yang ternyata sangat kuat, tubuhku terduduk ke belakang.</p>
<p>Banyak kata yang ingin aku ucapkan. Tidak ada satu pun yang tepat untuk menjadi awal aku bersuara. Laki-laki yang-entah-siapa perlu mengeluarkan tongkat sihirnya ke arahku. Otak dan jantungku bergerak selaras, akhirnya. Ia membantuku seimbang.</p>
<p>”Ibu Peri membutuhkanmu,”ulang laki-laki itu..</p>
<p>Curang. Ibu Peri ternyata memiliki rambut yang lebih gelap dari malam. Ia cantik sekali dengan sosok aslinya.</p>
<p>Ibu Peri memanggil namaku pelan. Aku beringsut memanjangkan kepala. Wajahku terasa panas melihat sosoknya seperti itu. Juga merasa sesuatu jauh di dalam dadaku mulai berdarah. Rasanya perih.</p>
<p>”Tidak!” suaraku lebih keras dari yang kumaksudkan. Ibu Peri meminta hal yang tidak mungkin kulakukan.</p>
<p>Numan menampar belakang kepalaku. Dorta membelalakkan matanya yang telah penuh airmata. Pendamping laki-laki, begitu saja ia kusebut, diam tanpa ekspresi apa-apa.</p>
<p>”Aku bukan Kel.”</p>
<p>Laba-laba itu menjulurkan kakinya dari atas kepalaku. Aku bersin-bersin. Tidak berhenti hingga salah satu dari Numan atau Dorta berbelaskasihan mengangkat turunan dewa iseng itu dari atas kepalaku.</p>
<p>”Kau membantu atau kita berlima diminta bertemu Kalangan Atas,” erang Numan.</p>
<p>”Tentu Ibu Peri yang akan mendapat hukuman yang berat. Di masa akhirnya, kau tahu,” sungut Dorta menambahkan dengan cepat.</p>
<p>”Kenapa bukan Kel saja? Ia sudah belajar sulap sejak memerankan Ibu Peri?”</p>
<p>”Apa kau tidak bisa liat pantat besarku dan semua tangan-kaki yang kumiliki?” tuntut Kel geram. Ia tidak menyebut kemampuan sulapnya yang payah.</p>
<p>Otakku berputar. Tidak mungkin musibah ini terjadi pada diriku. ”Kita tidak akan dituntut karena membantu tugas Kalangan Atas. Kalau Kel tidak merupa Ibu Peri akhir-akhir ini, teman-teman bisa jadi gila. Kekacauan besar-besaran akan terjadi.” Semua mendengarkanku. Bahkan Ibu Peri membuka matanya yang sejak tadi tertutup. Kecuali saat ia berbicara denganku tadi.</p>
<p>”Kalangan Atas tidak bisa menghukum yang berbuat baik. Betul, kan?”tatapku pada si laki-laki pendamping.</p>
<p>”Tidak juga. Kau tahu hukum alam yang bernama butterfly effect?”</p>
<p>Dengusanku mengangkat ujung selimut Ibu Peri. Inginnya kukatakan tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia sebutkan. Tapi daripada begitu, ”Kau tidak dapat memastikan hal itu,” elakku.</p>
<p>”Tentu saja ia bisa,” Numan lagi-lagi menamparku. Kali ini di bagian telinga. Walau aku selalu kalah jika berkelahi dengannya tetap saja rasanya aku ingin sekali mengajaknya berkelahi saat ini.</p>
<p>”Dia&#8230;anggota Kalangan Atas,”desis Dorta. Pelan namun cukup membuat jantungku berhenti. Persendianku melemas dan mataku berharap bisa berkedip. Cerita dongeng memberitahu kami bahwa paling tinggi kekuasaan sesuatu paling sederhana tampilannya. Kecuali pengarangnya norak. Si laki-laki pendamping ralat Si anggota Kalangan Atas ini berpenampilan seperti cerita-cerita dongeng itu. Sangat sederhana.</p>
<p>”Tidak ada jalan keluar. Mari kita lakukan.”</p>
<p>Turunan dewa sialan. Dorta memelukku. Numan membungkuk takzim, lagi-lagi sikapnya yang aneh itu. Anggota Kalangan Atas mengangguk padaku. Ibu Peri, sosok Ibu Periku tersenyum.</p>
<p>Baiklah. Mau bagaimana lagi?</p>
<p>Lalu hari-hari kami penuh dengan agenda-agenda tersembunyi. Teman-teman tidak curiga saat kami beritahu bahwa kami akan berlatih merupa dengan Ibu Peri. Semua dibagi dalam kelompok-kelompok. Ya, pada prakteknya kelompok-kelompok itu berlatih dengan Kel. Aku, Dorta dan Numan berlatih dengan si anggota Kangan Atas, kami belum diberitahu siapa namanya atau sebutannya. Bahwa sebelumnya dalam dongeng nenek moyang kami pernah melakukannya itu sungguh mempermudah. Bedanya, oh seandainya mereka tahu apa yang akan kami lakukan. Tepatnya yang akan aku lakukan. Entah apa yang akan terjadi dengan butterfly effectnya si anggota Kalangan Atas itu.</p>
<p>Waktu berjalan seakan sudah bertahun-tahun yang tidak ingin kuakhiri dengan hari ini. Hanya saja bukan seperti itu maksud bumi berputar, bukan?</p>
<p>Kami diantar ke atas sebelum kelompok-kelompok yang sudah dilatih Kel. Apakah perlu kuingatkan Kel merupa Ibu Peri jika berhadapan dengan teman-teman? Ya, itu dia. Menuju ke arahku dengan cara melayang. Oh, aku belum pernah melihatnya setinggi itu. Ia merapal. Lalu sekelompok teman-teman berubah menjadi kuda gagah rupawan. Merapal lagi. Mengubah labu menjadi kereta. Numan merupa kusir yang tangkas dan berwibawa. Boneka beruang Dorta telah bersamaku. Lalu Ibu Peri membuat sentuhan-sentuhan memukau untuk perhiasan kuda, perhiasan kereta, gaun yang cemerlang tidak ada duanya hingga sepatu kaca. Semua berlangsung lancar. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas lega dari boneka beruang Dorta. Dan garis lega di pipi Numan.</p>
<p>Kami pergi menuju pesta. Ya, apa kau bisa mengingat cerita dongeng yang seperti ini? Laju kereta sangat nyaman di jalan berbatu. Memang beda jalan menuju istana dan jalan di daerah pedesaan. Walau bebatuannya berasal dari sungai yang sama. Aku hampir tertidur saat suara Numan memberitahuku telah sampai.</p>
<p>Aku menuruni kereta dibantu Numan. Seolah aku seorang yang tua renta. Bahkan anak-anak akan senang hati melompat dari kereta yang setinggi ini. Numan mengingatkan diriku untuk tersenyum. Butterfly effect. Aku memperbaiki peranku.</p>
<p>Tersenyum. Bersuara merdu dan mengagumkan setiap orang. Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana caranya aku mengenal dua orang saudara dan ibu tiriku di tengah-tengah para gadis cantik-cantik dan berkilau seperti ini? Ternyata mudah. Mata adalah jendela hati, kata manusia. Dari mata mereka kulihat kekosongan hati. Kuputuskan tidak perlu menyapa mereka. Lagipula mereka tidak mengenal diriku, kan?</p>
<p>Denting piano menghentikan acara minum-makan dan kelompok-kelompok bergosip. Seseorang dengan pakaian penuh tanda jasa mengumumkan acara dansa. Lalu mulailah laki-laki yang tidak begitu tampan berdansa di tengah-tengah ruangan dengan putri yang dipilihnya. Dialah pengeran. Setiap dua baris lagu, pangeran mengulurkan tangannya atau memindahkan pasangan dansanya ke laki-laki yang siap sedia di sampingnya. Begitu terus yang terjadi. Lagunya berganti namun tetap saja waktu pergantiannya tiap dua baris. Lalu tepat jam dua belas kurang sepuluh menit, pangeran menuju jajaranku. Dua baris-berganti. Ia menatapku. Dua baris-berganti. Pangeran tersenyum padaku. Mengapa ilmu sihir anggota Kalangan Atas itu tidak bisa mengubah jiwaku menjadi jiwa putri? Aku merinding melihat senyum pangeran itu. Dua baris-berganti. Masih dua putri lagi. Aku ingin pergi menghindar. Dua baris-berganti. Putri di sampingku menatap sang pangeran dengan kerlip memuja.</p>
<p>Dua baris telah lewat. Oh? Kali ini aku yang panik. Apa yang terjadi? Apakah wajahku dipenuhi bulu-bulu? Dua baris lagi. Para ibu mulai mendesah kecewa. Ibu di belakangku menahan kikik bahagia. Mungkin ibu sang putri yang sedang berdansa lebih dari dua baris dengan sang pangeran. Waktu terus berjalan. Hingga jam dua belas tinggal beberapa menit lagi. Aku mendongak melihat jam besar itu. Ada sesuatu yang kulupa.</p>
<p>”Tidak kali ini.”Suara berat dan wajah senyum sang pangeran terpisah beberapa senti saja dari wajahku.</p>
<p>”Apa?” tanyaku kaget.</p>
<p>Ia mengulurkan tangannya untuk berdansa. Aku menerimanya setengah linglung. Berusaha mengingat sesuatu yang ada hubungannya dengan jam.</p>
<p>”Tidak pergi lagi dariku, Putri,” ujarnya dengan senyum kemenangan.</p>
<p>Dentang jam besar itu membuatku terkejut. Pangeran menatapku lama.</p>
<p>”Ah, ternyata aku melakukannya dengan benar.” Ia mengangkat sebelah tanganku dan memutar tubuhku pelan. Ada yang mengatakan begitu cara pangeran menyatakan telah memilih sang putri pasangan hidupnya.</p>
<p>Aku berputar.</p>
<p>Jam berdentang hingga kali yang ke duabelas.</p>
<p>Aku menyadarinya. Kel! Ia lupa merapal sampai batas kapan aku merupa.</p>
<p>Semua orang bertepuk tangan memberi selamat pada pangeran.</p>
<p>Kel! Oh, Kel!</p>
<p>Lalu orang yang memakai beragam tanda jasa itu mengumumkan hal yang paling menjijikkan sedunia.</p>
<p>Pangeran boleh mencium pasangannya.</p>
<p>Oh, jika saja ia tahu.</p>
<p>Pangeran memeluk tubuhku erat. Kel! Dasar turunan dewa yang tidak berguna!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/273/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/273/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=273&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2012/01/01/butterfly-effect-jika-kalian-tahu-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fantasy Fiesta 2011- Sebuah Cerita</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/27/fantasy-fiesta-2011-sebuah-cerita/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/27/fantasy-fiesta-2011-sebuah-cerita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 11:13:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Hal paling sulit menjadi manusia adalah memaafkan di saat kau mampu membuat balasan yang setimpal. (Fantasy Fiesta 2011) LEYL – HASRAT BEBAS   Pemilik Kemarahan itu harus dijaga oleh Pemilik Penyesalan dan Maaf. Jika tidak, kita semua akan hancur. Kidung khidmat tidak akan sanggup menyelamatkan hunian ini selamanya. Maka berjanjilah untuk menjadi penjaga yang sesungguhnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=259&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Hal paling sulit menjadi manusia adalah memaafkan di saat kau mampu membuat balasan yang setimpal. (Fantasy Fiesta 2011</em><em></em>)</p>
<p><strong>LEYL – HASRAT BEBAS</strong><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Pe<img class="alignleft" title="Leyl" src="http://pembacadongeng.files.wordpress.com/2011/06/leyl.jpg?w=110&#038;h=133" alt="" width="110" height="133" />milik Kemarahan itu harus dijaga oleh Pemilik Penyesalan dan Maaf. Jika tidak, kita semua akan hancur. Kidung khidmat tidak akan sanggup menyelamatkan hunian ini selamanya. Maka berjanjilah untuk menjadi penjaga yang sesungguhnya. Bahkan jika itu akan mengubah hasrat bebas.</p>
<p>Cerpen ini dapat di baca lengkap di</p>
<p><strong>Fantasy Fiesta 2011 – Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2</strong><strong>0</strong><a href="http://pembacadongeng.files.wordpress.com/2011/06/fantasyfiesta2011.jpg"><img class="wp-image-267 alignright" title="fantasyfiesta2011" src="http://pembacadongeng.files.wordpress.com/2011/06/fantasyfiesta2011.jpg?w=214&#038;h=295" alt="" width="214" height="295" /></a><strong>11</strong></p>
<p>Penulis: R.D. Villam (<em>Kembali ke Morova</em>), Klaudiani (<em>E[epsilon]</em>)<em>, </em>Bonmedo Tambunan (<em>Petra</em>), Cloverwitch (<em>Hari Terakhir Ishan</em>), Elbintang (<em>Leyl – Hasrat Bebas</em>), Erwin Adriansyah (<em>Tukang Sapu</em>), Fachrul R.U.N. (<em>Selamanya Bersamamu</em>), Feby Anggra (<em>Noel</em>), Fredrik Nael (<em>Bentala – Imaji</em>), F.A. Purawan (<em>Hikayat Pungguk Merindukan Bulan</em>), I.B.G. Wiraga (<em>Oris</em>), Kristy S. Tjong (<em>Selamat Datang di Wonderland</em>), Luz Balthasaar (<em>Dongeng Kanvas</em>), Magdalena M. Amanda (<em>NeiL//LieN</em>), Rickman Roedavan (<em>Misteri Pulau Goudian</em>), Salvirius Sandy (<em>Bhupendra Gagan</em>), Serpentwitch (<em>Kisah Sang Kerudung Merah</em>), Shao An (<em>Enam Belas Menit</em>), Shienny M.S. (<em>Menuju Akhir Masa</em>), Xeno (<em>Wanita Pembisik</em>)</p>
<p>Penerbit: Adhika Pustaka (Desember 2011)</p>
<p>Tebal: 325 halaman</p>
<p>Harga: Rp 59.500,-</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=259&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/27/fantasy-fiesta-2011-sebuah-cerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembacadongeng.files.wordpress.com/2011/06/leyl.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Leyl</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pembacadongeng.files.wordpress.com/2011/06/fantasyfiesta2011.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">fantasyfiesta2011</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fantasy Fiesta 2011 &#8211; Pesta Idealisme</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/24/fantasy-fiesta-2011-pesta-idealisme/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/24/fantasy-fiesta-2011-pesta-idealisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jun 2011 12:09:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Tahun ini pesta penulis fantasy lebih dipercepat dari dua tahun sebelumnya. Liat http://kastilfantasi.com/2011/04/pengumuman-fantasy-fiesta-2011-dimulai/ Ya, Fantasy Fiesta adalah ajang lomba menulis cerpen fantasy yang benar-benar beraroma pesta seperti namanya. Lihat http://kastilfantasi.com/ bagi yang belum tahu ^_^ Saya termasuk salah satu dari peserta yang ikut sejak pesta ini pertama kali diadakan. Dari 16 peserta terus melonjak 74 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=247&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun ini pesta penulis fantasy lebih dipercepat dari dua tahun sebelumnya. Liat http://kastilfantasi.com/2011/04/pengumuman-fantasy-fiesta-2011-dimulai/</p>
<p>Ya, Fantasy Fiesta adalah ajang lomba menulis cerpen fantasy yang benar-benar beraroma pesta seperti namanya.</p>
<p>Lihat http://kastilfantasi.com/ bagi yang belum tahu ^_^</p>
<p>Saya termasuk salah satu dari peserta yang ikut sejak pesta ini pertama kali diadakan. Dari 16 peserta terus melonjak 74 peserta dan tahun ini di perkirakan 350-an peserta yang lolos (dari 500-an naskah yang masuk).</p>
<p>Kekuatan besar dari lomba ini adalah:</p>
<p>1. Ulasan singkat dari para juri terhadap naskah yang ikut.</p>
<p>Kelemahan, kekurangan, kekuatan dari tiap tulisan diperlihatkan oleh para juri. Hal ini menjadikan ajang lomba bukan hanya tempat unjuk gigi. Lebih dari itu sebagai sharing kemajuan atau kemandegan skill menulis yang dimiliki oleh masing-masing.</p>
<p>2. Naskah yang bisa dibaca oleh semua orang sebelum penjurian di mulai</p>
<p>Masing-masing peserta dapat menikmati tulisan peserta lomba yang lain. Ada yang enggan untuk mengatakan naskah jelek sebagai naskah jelek. Tapi lebih banyak lagi yang mampu memberikan penilaian tentang apa yang disuka dan apa yang tidak disukai dari naskah tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Belajar untuk berdiskusi dengan kepala dingin atau bisa saja saling melemparkan kursi (virtual) lalu kembali saling berpelukan memberi semangat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa orang pada akhirnya keterusan menjadi reviewer yang baik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>oh, ya, bagian saling lempar pujian dan cacian ini juga dicurigai bisa mempengaruhi para juri. Tapi sepanjang dua kali perhelatan pesta ini kecurigaan itu terbukti tidak benar. Banyak yang diperkirakan oleh pembaca adalah naskah bagus dan mengagumkan ternyata tidak menjadi pemenang. Sebaliknya naskah yang tidak begitu diunggulkan ternyata mendapat tempat di hati juri. Semoga saja ini bukan idiom pemenang sayembara entah itu cerpen, novel atau film bukan peraih best seller atau box office.</p>
<p>3. Interaksi para juri, duo dahsyat penggagas lomba, Villam dan Dian K  juga Bonmedo.</p>
<p>Selama pendaftaran, saat penjurian bahkan setelah pesta sayembara ini lama selesai, tiga penulis muda yang hebat-hebat ini merawat dengan baik interaksi sesama penulis fantasy.</p>
<p>Para peserta membentuk komunitas yang saling menyemangati menulis. Bukan hanya sekedar kata tapi juga bersemangat untuk membeli buku-buku fantasy hasil perjuangan teman sendiri. Ya, saya menyebutnya teman sendiri. Beli dulu, giliran bagus bakal dipuja-puji, giliran jelek&#8230;subjektif sih, tapi selalu ada review yang bagus untuk perbaikan.</p>
<p>Komunitas ini juga menarik para pembaca fantasi berkumpul atau para penulis genre lain mencoba banting stir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Errr, sebelum lomba ini diadakan komunitas penulis fantasi tersebar di mana-mana.</p>
<p>Pembacanya bahkan berjalan tanpa mendapatkan peta yang baik di belantara perbukuan.</p>
<p>Lomba ini semacam reuni, perluasan jaringan sebagaimana pesta ini dimaksudkan.</p>
<p>Menyemai benih tulisan fantasi di negeri sendiri.</p>
<p>*ditulis sambil menunggu tanggal 1 Juli 2011 saat naskah semua peserta (yang jumlah 350-an) dibuka per 5 menit*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mari  Berpesta!</p>
<p>Cheers!</p>
<p>*elbintang*</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/247/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/247/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=247&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2011/06/24/fantasy-fiesta-2011-pesta-idealisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ikutan Nanowrimo, Jadi?</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/11/07/ikutan-nanowrimo-jadi/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/11/07/ikutan-nanowrimo-jadi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 08:10:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[elbintang]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Setelah daftar di tahun 2008. Setor judul doang di tahun 2009. Kini bener-bener niat mau ikut &#8220;Uji Sabar Melatih Beruang dalam 30 hari&#8221; Ah ya, tepatnya tidak 30 hari sih. Karena baru mulai tadi siang dan akan disetorkan&#8230;mungkin besok tanggal 8? Semoga kali ini lebih serius usahanya. Cheers!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=240&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah daftar di tahun 2008. Setor judul doang di tahun 2009. Kini bener-bener niat mau ikut &#8220;Uji Sabar Melatih Beruang dalam 30 hari&#8221;</p>
<p>Ah ya, tepatnya tidak 30 hari sih. Karena baru mulai tadi siang dan akan disetorkan&#8230;mungkin besok tanggal 8?</p>
<p>Semoga kali ini lebih serius usahanya.</p>
<p>Cheers!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/240/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/240/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=240&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/11/07/ikutan-nanowrimo-jadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kucing Kecil</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/10/01/236/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/10/01/236/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Oct 2010 06:28:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Udara siang yang panas. Terasa lebih panas karena belum makan seharian. Tubuhku bau, kotor dan ada beberapa luka cakar. Ini jauh sekali apa yang disebut dengan petualangan. Tidak. Aku tidak sengaja berpetualangan. Dulu aku kucing rumahan. Pemilikku yang dulu tiba-tiba mengidap alergi. Bulu-buluku membuatnya sakit. Ya, aku jenis kucing kampung tanpa nama -ah kau mau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=236&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Udara siang yang panas. Terasa lebih panas karena belum makan seharian. Tubuhku bau, kotor dan ada beberapa luka cakar. Ini jauh sekali apa yang disebut dengan petualangan. Tidak. Aku tidak sengaja berpetualangan. Dulu aku kucing rumahan. Pemilikku yang dulu tiba-tiba mengidap alergi. Bulu-buluku membuatnya sakit.</p>
<p>Ya, aku jenis kucing kampung tanpa nama -ah kau mau memberiku nama?-. Pemilikku yang dulu melepaskan aku di pasar. Mungkin ia bermaksud baik. Ia tidak ingin aku kelaparan. Pasar. Tempat semua makanan di jual. Tempat ikan dan daging.</p>
<div>
<p>Tapi manusia tidak tahu. Pasar punya kebiasaan. Kucing-kucing pasar punya aturan. Jadi untuk ukuran kucing rumah sepertiku, pasar bukan tempat yang baik.</p>
<p>Sebagai contoh agar kalian mengerti apa yang kumaksudkan, begitu aku dilepaskan di pasar dengan berat hati aku mencari tempat teduh untuk bermalas-malasan. Perutku sudah kenyang sebelum dipaksa tangkap dan di bawa ke pasar. Jadi aku tidak begitu tertarik dengan bau ikan mentah dan daging segar. Lagi pula aku tidak terbiasa makanan mentah. Belum satu menit aku melingkarkan tubuh di bawah meja tukang jual sayur, tubuhku terlempar dengan keras ke dekat selokan.</p>
<p>”Uh kucing bau! Pergi sana!” kaki kecil penuh luka garuk menendangku.</p>
<p>Ku lihat ia tersenyum lebar dan melanjutkan perjalanannya menjual kantong kresek. Aku mengeluh pelan. Dan beranjak dari sana. Selokan itu penuh campuran bau yang tidak karuan. Lalu aku melihat sekumpulan kucing. Mereka duduk santai di atas meja jualan yang kosong. Aku berlari-lari ke arah mereka. Senang hatiku ingin bergabung bersama. Belum sempat aku sampai tujuan, cakar tajam meninju kepalaku keras.</p>
<p>Aku bersuara marah.</p>
<p>Satu lagi cakar putih mengincar bagian kiri kepalaku, aku mengelak dan balas menerkam si pembuat onar. Ia bertubuh lebih besar dan penuh luka-luka. Segera saja aku kalah dan penuh luka. Akhirnya dengan tertatih-tatih aku menemukan tempat yang sepi.</p>
<p>Namun, baru saja aku meletakkan ekorku, cipratan becek hitam mengenai tubuhku. Itu belum seberapa. Berhari-hari kemudian aku sering sekali kelaparan dan kedinginan karena diguyur orang.</p>
<p>Lalu aku bertekad untuk keluar dari daerah pasar.</p>
<p>Berpetualangan mencari rumah yang mungkin saja mau menerimaku.<br />
Dari cerita-cerita yang kudengar, berpetualangan itu sungguh menakjubkan. Senangnya bertemu dengan orang-orang yang harum dan wangi. Serunya berlari-lari di bawah mobil yang berlari kencang. Kemudian saat lapar mendapatkan belas kasihan dari penjaga rumah makan.</p>
<p>Ternyata tidak semudah itu. Tidak semenarik yang kubayangkan.</p>
<p>Aku sempat di kejar-kejar oleh tikus got yang dua kali lebih besar dari tubuhku. Disiram air panas oleh tukang jaga rumah makan. Bulu-buluku banyak yang rontok. Sepertinya aku mengalami luka bakar ringan.</p>
<p>Belum lagi sengaja dilemparkan ke tengah jalan oleh seorang anak. Ia tak sengaja kucakar. Saat itu ada mobil yang melaju hingga hampir-hampir saja aku ditabrak. Lalu ada sekawanan kucing liar yang suka merebut makanan. Beberapa anjing yang hobinya menyalak. Membuatku gemetar. Juga masalah yang paling utama, rasa lapar dan letih. Aku kepanasan siang dan menggigil saat malam tiba.</p>
<p>Tapi aku tidak mau mati kelaparan. Seekor kucing hanya akan mati karena tua atau ditabrak mobil. Yah, itu yang seringkali terjadi pada kelompok kami. Jadi aku terus berjalan, berlari dan mengeong.</p>
<p>Aku mengendus harumnya makanan dari sebuah rumah berpagar putih. Sejenak aku enggan untuk masuk. Tubuhku masih sakit. Aku tidak kuat jika ada lagi yang berniat menendangku. Namun bau makanan dari dalam rumah itu terus tercium.</p>
<p>Kuputuskan untuk masuk. Paling tidak aku mencoba.</p>
<p>Jarak antara pagar dan rumahnya cukup jauh. Itu membuatku berpikir bahwa jangan-jangan bau makanan tadi hanya imajinasiku saja. Aku memanggil tuan rumah yang tidak kukenal namanya. Aku mengeong. Satu kali, dua kali, berkali-kali&#8230;tidak ada yang menjawab.</p>
<p>Aku berjalan ke belakang mencari pintu rumahnya yang lain. Ada! Aku kembali bersuara. Belum tiga kali aku mengeong, pintu belakangnya terbuka lebar. Seorang ibu-ibu tua yang tidak gemuk memandangku dengan penuh curiga. Aku mengeong sekali lagi. Kali ini selain ibu tua itu, keluar seorang anak kecil dengan rambut keriting tipis yang menjulang ke atas.</p>
<p>”Waaa Kucing Kecil! Kasian ya, Oma. Sebentar-sebentar&#8230;”<br />
Ia berlari ke dalam. Aku berjalan mengikutinya namun ditarik keluar dengan halus oleh Oma.</p>
<p>”Sabar. Tunggu saja Hurina di sini,”senyum Oma padaku.</p>
<p>Oh, nama anak kecil itu Hurina?</p>
<p>”Makan-makan. Ayo Kucing Kecil, makan yang banyak&#8230;”Anak perempuan kecil dengan kulit putih dan rambut keriting jigrak itu meletakkan piring kecil warna hijau di depanku.</p>
<p>Aku mencium bau ikan goreng dicampur nasi panas. Menggiurkan. Tapi aku tidak segera makan. Aku berhati-hati. Aku tidak ingin saat makan dengan lahap, tubuhku tiba-tiba sudah berada di dalam karung. Seperti dulu.</p>
<p>Hurina mengelus kepalaku. Hanya sekali, karena setelah itu tangannya dipegang omanya.</p>
<p>”Tidak pegang-pegang kucing, Hurina. Liat, kucingnya penuh luka,” aku mendengar Oma melarangnya.</p>
<p>Uh. Aku juga tidak suka berpenampilan seperti ini.</p>
<p>”Kucingnya juga bau, Oma, kasian ya?”ujar perempuan kecil itu pelan.</p>
<p>“Iya, mungkin sudah lama di jalan. Kasihan ya, sudah tidak ada mamanya,”jawab Oma dengan penuh sayang.</p>
<p>Aku sudah mulai makan. Hidungku tidak pernah bohong. Makanannya selezat bau yang kucium dari jalan.</p>
<p>Setelah piringnya bersih kujilati, tiba-tiba tubuhku dipegang dengan kuat oleh dua tangan kecil. Aku bersuara kaget. Tubuhku berontak. Kepalaku mencari-cari yang bisa kugigit. Cakarku membuka.</p>
<p>”Awww! Omaaa, kucing kecilnya mencakar aku&#8230;!”jerit Hurina kencang.</p>
<p>Aku tidak bermaksud menyakitinya. Aku hanya tidak suka dipegang kencang-kencang di bagian perutku.</p>
<p>Sebuah tangan besar menjepit kulit bagian atas kepalaku. Dekat leher bagian atas.</p>
<p>”Begini kalau bawa kucing kecil seperti kalau ia dibawa sama mamanya,”Oma membawa aku sebuah tempat yang lebih nyaman.</p>
<p>”Oooh, begitu. Maaf ya kucing kecil,”tepuk-tepuk Hurina di dekat ekorku. Aku menjawabnya. Hurina tertawa kecil.</p>
<p>”Kita mandikan ya, Oma. Biar kucing kecil tidak bau,”<br />
Aku tidak mengerti apa yang dimaksud anak kecil itu. Tapi kembali aku tersontak kaget dan melompat tinggi. Sayangnya tangan besar Oma lebih kuat dari aku. Aku berteriak panik. Suaraku hampir habis kukeluarkan.</p>
<p>Oma membawaku ke tempat berwarna hijau. Aku mencium bau air.</p>
<p>Belum sempat aku beraksi, air membuatku basah kuyup. Tubuhku dipakaikan busa. Baunya seperti manusia. Apa mereka ingin menjadikan aku manusia? Aku tidak suka air! Aku akan kedinginan dan sakit. Apa Oma dan Hurina tidak tahu? Siapa saja tolong hentikan ini!</p>
<p>”Lho? Apa yang sedang Oma dan Hurina lakukan?” sebuah suara berat dan dalam kudengar di antara jeritanku.</p>
<p>”Memandikan kucing kecil, Opa. Badannya bau,”</p>
<p>Suara berat dan dalam itu tertawa hangat. Aku mendengus membuat tanda tidak suka. Berharap mereka mengerti.<br />
”Ayo Hurina, bantu Oma bawakan kain untuk mengeringkan kucingnya. Kali lain, kucing bau jangan dimandikan, nanti kucingnya sakit,”terang suara berat yang dipanggil Opa itu.</p>
<p>Aku terkekeh mendengarnya. Opa ini pintar.</p>
<p>Oma langsung mengangkatku. Semprotan air berhenti. Dan sepertinya Oma cepat-cepat mencari kain.</p>
<p>“Oh, maaf ya kucing kecil. Semoga tadi tidak terlalu dingin. Nanti ada susu hangat untukmu,” suara Oma terdengar menyesal.</p>
<p>Aku berhenti meronta-ronta. Tubuhku berusaha menikmati kain halus hangat yang membuat bulu-buluku segar. Aku memaafkan Hurina dan Oma. Manusia ternyata tidak semua tahu segalanya.</p>
<p>“Oma, aku boleh memeliharanya?”suara Hurina terdengar penuh harap. Telingaku tegak dan berharap sangat.</p>
<p>”Kita tunggu mama dan papamu pulang, yah? Kalau diizinkan, Hurina boleh bawa ke rumah. Tapi kalau tidak, biar kucing kecil ini tinggal dengan opa dan oma. Hurina nanti bisa sekali-sekali melihatnya,”</p>
<p>Oooh. Aku mendesah lega. Di sini atau di rumah Hurina yang kutahu telah kutemukan rumah yang nyaman. Kucing memang tidak boleh mati kelaparan, bisikku penuh senyum. Kardus yang nyaman membuat kuapanku lepas bebas. Kardus yang diberikan khusus untukku. Sepertinya petualangan memang menyenangkan, pada akhirnya. Bagaimana menurutmu?</p>
<p>“Oma, kucing kecil mendengkur,”bisik suara kecil dalam mimpiku.</p>
<p>Kucing bisa bermimpi? Ah, itu cerita lain yang nanti kuceritakan padamu. Lain waktu. Lain kesempatan.</p>
</div>
<fieldset><a href="http://www.kemudian.com/node/247218#"></a></p>
<div>Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cerpen Anak September Ceria 2010 yang di adakan oleh Kemudian.com dan bersama-sama 3 pemenang dan 6 cerpen terpilih lainnya diterbitkan dalam bentuk e-book.</div>
</fieldset>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/236/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/236/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=236&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/10/01/236/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasya -Ode Ruh 5-</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-5/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 06:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[”Pan&#8230;” ”Jangan mendekat!” Irgi membuat cengiran lebar,”kau kira aku burung bul-bul yang bisa mendekatimu di puncak pohon seperti itu?” Burung Bul-bul? Elang kek! Pilihan yang aneh. Kenapa juga Burung Bul-bul. ”Karena Burung Bul-bul mirip dengan aku kerennya,”jawab Irgi keras-keras dari bawah. ”Ada telpon dari Naila, katanya kau janji besok mau menyerahkan gambar-gambar ”lucu” untuk acara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=224&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p lang="sv-SE">”Pan&#8230;”</p>
<p lang="sv-SE">”Jangan mendekat!”</p>
<p lang="sv-SE">Irgi membuat cengiran lebar,”kau kira aku burung bul-bul yang bisa mendekatimu di puncak pohon seperti itu?”</p>
<p>Burung Bul-bul? Elang kek! Pilihan yang aneh. Kenapa juga Burung Bul-bul.</p>
<p lang="sv-SE">”Karena Burung Bul-bul mirip dengan aku kerennya,”jawab Irgi keras-keras dari bawah.</p>
<p>”Ada telpon dari Naila, katanya kau janji besok mau menyerahkan gambar-gambar ”lucu” untuk acara perpisahan kelas 6,”Irgi memutar bola matanya pada kata ’lucu’. Iya sih, apanya yang lucu? Si Naila itu.</p>
<p>Aku membunyikan suara deheman yang berarti ’iya aku ingat’.</p>
<p lang="sv-SE">”Jadi kalau besok kau mau menyerahkan, kapan kau akan menggambarnya?”tunjuk-tunjuk Irgi pada batang pohon, seolah itu adalah dahiku, sebagamana biasanya yang ia perbuat padaku.</p>
<p lang="sv-SE">Aku mempertimbangkan untuk menggambarnya nanti-nanti saja. Mungkin aku bisa beralasan lupa atau ketinggalan di rumah jika besok Naila memintanya.</p>
<p>”Kalau kau mau diberitahu dan bosan mengira-ngira, aku sudah menggambar beberapa pemandangan ruang kelas, sekolah dan suasana kantin sekolah untukmu. Berjaga-jaga jika kau ingin berpura-pura jadi monster seperti anggapan orang tentang monster.”Irgi berbicara makin lama makin pelan.</p>
<p lang="sv-SE">”Kau tahu? Monster tidak memerlukan alasan untuk melanggar janjinya. Aku memberitahumu sebagai referensi,”ujarnya berlalu.</p>
<p>Tidak lebih lama dari beberapa detik, suaranya terdengar lagi,”Hei, pan! Sebenarnya monster itu dari asal kata apa sih?”</p>
<p>Oh! Baiklah&#8230;sepertinya lebih aman jika aku turun dan mengerjakan apa yang menurut Irgi harus kukerjakan. Atau ia akan bolak-balik berbicara tentang seluruh alam semesta. Defenisi, asal kata dan bagaimana pendapat seluruh manusia yang terbagi dalam berbagai kelompok tentang kata itu. Dan bagaimana kata itu terhubung dengan kata yang lain, membuat kalimat, menjadi mantra dan &#8230; apa menurut kalian seorang jenius harus begitu?</p>
<p>Kemarahan bukan keahlianku juga bukan keahlian Irgi, jadi menemukan tubuh bocah laki-laki dengan muka penuh senyuman membuat dadaku sakit. Dan rasa sakit itu meledak panas saat kusadari ada orang lain yang berdiri menungguku.</p>
<p lang="pt-BR">“Menyingkir!”</p>
<p>Rasanya kali ini aku benar-benar mengerti dari mana asal kata marah itu.</p>
<p>“Pergi dan jangan muncul di sekitarku,”</p>
<p>”Aku tidak salah!”suaranya bergetar takut tapi wajahnya sepenuh tekad menantang mataku.</p>
<p lang="sv-SE">”Kau nenek yang berusia hampir setua bumi dan muncul di hadapan kami dengan tampang anak umur sepuluh tahun dan tidak bersalah?”aku ketularan Irgi yang suka berpanjang-panjang bicara.</p>
<p lang="sv-SE">”Kau tidak bersalah dan aku bukan monster, euh?”</p>
<p>”Dia wadah,”jelas Irgi. Ia berdiri di samping seperti seorang wasit yang akan memulai pertarungan.</p>
<p lang="pt-BR">”Aku tahu!”</p>
<p>“Dia wadah dan kau tahu. Sejak kapan?”tanya Irgi datar tidak peduli, sambil lalu.</p>
<p>”Tidak benar-benar tahu. Dari awal ia datang mengantarmu. Uhm. Bukan. Sejak kau menelphonku tadi siang&#8230;uhm&#8230;,”aku ragu. Itu susunan kalimat yang kacau tapi bisa dimengerti. Oleh Irgi. Sepertinya.</p>
<p>”Ini kondisi yang tidak biasa,”putus Irgi.</p>
<p lang="nb-NO">Dia tidak mengerti, ternyata.</p>
<p lang="nb-NO">”Ayo duduk, yuk,”</p>
<p lang="nb-NO">”Tidak kalau wadah ini masih di sekitarku,”</p>
<p>Jika keras kepala tidak ada dalam perbuatan baikku, menurutku ini saat yang tepat untuk menambahkannya.</p>
<p>Irgi meleparkan pandangannya ke arah Rara. Perempuan itu menggigit bibirnya menahan airmata.</p>
<p lang="sv-SE">”Neng Rara, mari Pak Agah antar ke kamar,”</p>
<p lang="sv-SE">”Ke kamar?”</p>
<p lang="sv-SE">”Iyah den Irvan. Sekarang sudah jam 2 pagi,”terang Pak Agah datar. Ia membujuk Rara untuk berlalu dari hadapanku.</p>
<p lang="sv-SE">Uhm jam 2 pagi?</p>
<p lang="sv-SE">Irgi menarik tubuhku ke salah satu kursi, meletakkan kertas-kertas berisi coretan yang disebutnya gambar dan mendesah dramatis,”Mulailah menggambar,”</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=224&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasya -Ode Ruh 4-</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-4/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 06:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=222</guid>
		<description><![CDATA[“Jadi siapa yang membunuhku kau bilang tadi?”Suara Irgi yang pertama kali memasuki kesadaranku. Tanpa perlu membuka mata aku bisa mengetahui siapa saja yang ada di sekitarku. Huh! Sepertinya tidak ada yang mencemaskan keadaanku. “Kau menyebut mereka Rasya? Errr&#8230;itu tidak mungkin, benar kan, ayah?” anggukan bingung Om Otto membenarkan pendapat Tante Alin, Mama Irgi. ”Jika kau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=222&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->“Jadi siapa yang membunuhku kau bilang tadi?”Suara Irgi yang pertama kali memasuki kesadaranku. Tanpa perlu membuka mata aku bisa mengetahui siapa saja yang ada di sekitarku. Huh! Sepertinya tidak ada yang mencemaskan keadaanku.</p>
<p>“Kau menyebut mereka Rasya? Errr&#8230;itu tidak mungkin, benar kan, ayah?” anggukan bingung Om Otto membenarkan pendapat Tante Alin, Mama Irgi.</p>
<p>”Jika kau menyebut-nyebut Rasya, kau sedang berhadapan dengan dua anggota terakhirnya. Kelompok itu telah lama punah. Perpecahan kelompok, perang saudara, beda ideologi atau apalah yang disebut oleh sejarah. Jika kau pernah membacanya,”Irgi terdengar seperti orang yang sedang mencela penipu yang tidak berbakat. Ah ya, kami memang sering bertemu dengan penipu-penipu seperti itu. Yang dimaksud Irgi dua anggota terakhir itu tidak lain adalah Om Otto dan Tante Alin. Papa dan mamanya.</p>
<p lang="sv-SE">”Mungkin harusnya begitu&#8230;”</p>
<p>”Tapi?”potong Irgi cepat. Tidak biasanya ia tampil penuh emosian seperti itu.</p>
<p>Rara, anak perempuan yang tadi menolongnya memberi tatapan kesal. Irgi juga sedang kesal, entah mengapa. Tapi mungkin aku bisa mengira sebabnya.</p>
<p lang="sv-SE">”Tidak ada TAPI,”</p>
<p>”Dan bagaimana kau tahu mereka adalah Rasya, jika seharusnya mereka sudah tidak ada?”suara Irgi mulai meninggi.</p>
<p>”Aku tahu saja!”balas Rara dengan nada galak yang hampir sama.</p>
<p lang="sv-SE">”Kau ingin mati bagaimana?”</p>
<p lang="sv-SE">Aku menahan tawa mendengar gertakan Irgi</p>
<p lang="sv-SE">”Aku juga bisa bertanya hal yang sama padamu, anak kecil yang tidak tahu terima kasih!”</p>
<p>”Ha! Aku akan berterima kasih sekali, nona. Kalau saja aku bisa membuktikan bukan kau yang membunuhku,”</p>
<p lang="sv-SE">Oh, jadi begitu. Irgi merasakan hawa aneh yang sama dari anak perempuan itu.</p>
<p>”Kekuatanku mirip dengan yang kau miliki. Aku tidak bisa tanpa keinginan si korban,”wajah anak perempuan itu berubah pucat saat memberi penjelasan.</p>
<p>Yeah, aku bisa melihat semuanya tanpa membuka mata. Semua. Bahkan jalan gula yang dibuat kelompok semut di dinding barat kamar bisa kulihat dengan jelas. Sensasi ini bisa selesai dalam beberapa menit ke depan atau butuh beberapa minggu.</p>
<p lang="pt-BR">“Tapi kau kenal siapa yang membunuhku?”</p>
<p>“&#8230;”</p>
<p lang="es-ES">“Kau tahu apa kekuatan ayah dan ibuku?”</p>
<p lang="es-ES">Anak perempuan itu tidak bergeming.</p>
<p>“Jadi kau ingin kami bersusah payah untuk mencari tahu. Tentu kau tahu apa artinya itu bagi ayah dan ibuku?”</p>
<p>Bagus, Irgi! Semoga saja energi Rara dapat mendeteksi kemampuan yang dapat dilakukan Om Otto dan Tante Alin. Dimasuki kedua-duanya atau salah satu bukan pilihan menurutku. Itu kutukan.</p>
<p lang="sv-SE">Ah, payah! Anak perempuan itu menangis&#8230;</p>
<p>Apa yang akan kau dapatkan dengan menangis? Selain&#8230;penundaan sementara.</p>
<p>Irgi paling tidak tahan dengan airmata. Ia pasti tidak berani mengganggu anak perempuan itu. Untuk beberapa jeda yang tidak akan lama.</p>
<p>Irgi menendang tubuhku. Ck! Ia punya cara paling buruk sedunia untuk membangunkan orang dari koma. Kupanjangkan. Membangunkan orang dari koma padahal orang itu koma setelah membantunya hidup seperti sedia kala. Uhm, kalian mengerti apa yang kumaksud, kan?</p>
<p>Sekali lagi Irgi menendangku. Tubuhku merespon dengan normal seperti yang sudah seharusnya. Ugh! Aku ini benar-benar monster.</p>
<p>“Bangun, jagoan! Kau dari tadi berbicara terus dalam pikiranku,”sungut Irgi terdengar menyebalkan seperti biasanya.</p>
<p>Sebelum ia melayangkan kakinya untuk ketigakalinya, tiga adalah batas negatif terbanyak, kuhentakkan tubuhku untuk menghindari dan &#8230;OH SIAL!</p>
<p>“Sial! Kau benar-benar monster yang keren, Pan!”</p>
<p>Tubuhku berdiri melayang empat meter dari atas tanah. Dan kalau kalian meragukan perhitungan empat meter. Jangan! Aku benar-benar yakin dengan kemampuan tubuhku merasakan jarak. Itu bukan kemampuan yang benar-benar hebat. Tapi yang ini&#8230;MELAYANG, terbang&#8230;bayangkan Superman, Hancock dan semua jenis manusia terbang lainnya yang pernah kalian kenal. Persamaan mereka semua itu adalah fiksi. FIKSI. Alias bohongan, cerita yang dibikin-bikin untuk memancing imajinasi setiap orang agar lebih hidup atau terhibur atau memiliki harapan (bahkan harapan kosong sekalipun) atau&#8230;intinya semua itu bukan manusia betulan yang terdiri dari daging, tulang, darah, syaraf dan otak.</p>
<p>”Hei burung, turun dong&#8230;”Irgi tersenyum lebar, terpesona.</p>
<p>Oh yeah, burung monster.</p>
<p lang="sv-SE">Dan sebuah kesadaran memasuki pikiranku. Sepertinya bersamaan dengan pemahaman yang tiba-tiba menemukan otak Irgi.</p>
<p>”Kau bukan seperti aku!”desis Irgi. Wajahnya memerah menatap Rara, sebal.</p>
<p>Rara menggeleng kuat-kuat, ”Tidak! Kau salah&#8230;”</p>
<p>Ia terkesiap melihat gelap yang merayap naik dengan cepat dari ujung kakinya hingga kepala.</p>
<p>”Terima sambutan selamat datang dari ibuku&#8230;”</p>
<p>Wajah Rara memucat pias. Ia mencoba mengatakan sesuatu namun kegelapan menelannya</p>
<p>Walau sepertinya aku bisa mengira apa sebabnya, aku tidak bisa menahan diri untuk tetap menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.</p>
<p lang="sv-SE">Lengkingan itu!</p>
<p>Suara terkejut yang dipenuhi kengerian yang sangat, keluar dari energi Om Otto. Itu teriakan minta tolong Tante Alin.</p>
<p>Entah bagaimana, kemampuan Tante Alin untuk memantulkan setiap energi orang yang dimasukinya melalui bayangan tertelan masuk ke dalam tubuh Rara.</p>
<p>Tidak ada bayangan. Tidak ada energi. Tante Alin terkulai di atas kursi. Irgi berdiri kaku.</p>
<p>Hanya suara tercekat yang, kalau dipikir saat ini seperti sebuah tangis dari kesadaran paling dalam, keluar dari mulut Irgi dan Om Otto.</p>
<p lang="sv-SE">Kesadaran tentang hal itu.</p>
<p>”Hentikan! Hentikan paman&#8230;”Rara menepuk-nepuk tangan Om Otto yang diletakkan saling tumpang di atas tangan Tante Alin.</p>
<p>”HENTIKAN!” Rara menarik tangan itu dengan putus asa. Energi Om Otto mulai menyatu dengan Tante Alin. Sekelebat seolah energi Tante Alin hadir.</p>
<p lang="sv-SE">”Irgi! Irvan!”</p>
<p lang="sv-SE">Aku tahu energi Om Otto pelan-pelan menghilang dari udara.</p>
<p>”Beuh!”hanya keluh pendek yang keluar dari mulut Irgi. Ia terduduk lemas. Bukan sikap yang wajar dari seorang anak yang kehilangan kedua orangtuanya. Sekaligus. Pada waktu yang hampir bersamaan.</p>
<p lang="sv-SE">”Bagaimana mungkin itu kau?”Irgi bersuara hampir tidak terdengar. Itu ucapan yang sama terlintas di pikiranku.</p>
<p>Tanpa merasa harus menggantinya, aku menatap wajah Rara dalam-dalam dan memaki dalam hati sebelum berteriak dengan sepenuh suara yang aku punya,”BAGAIMANA MUNGKIN ITU KAU!”</p>
<p lang="sv-SE">Irgi meringis</p>
<p lang="sv-SE">”SIALAN!”tambahku dan pergi bergegas ke luar. Sepertinya saat itu aku melayang dengan marah. Pergi dengan terbang. Ha!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/222/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/222/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=222&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasya -Ode Ruh 3-</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-3/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-3/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 06:50:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[Tubuhku sudah tidak begitu panas. Energi kehidupan ini belum bisa kukendalikan sepenuhnya. Kadang-kadang ada waktunya tubuhku kalah dan harus menderita demam tinggi selama sehari penuh. Seperti hari ini. ”Den&#8230;Aden&#8230;Den Irvan&#8230;”suara ketukan Pak Agah membuatku bingung. Maksudnya apa mengetuk pintu? Ingin pintunya dibuka? Yang benar saja! ”Aden Irvan&#8230;”suara Pak Agah memanggil dari lithyphone di samping pintu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=220&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tubuhku sudah tidak begitu panas. Energi kehidupan ini belum bisa kukendalikan sepenuhnya. Kadang-kadang ada waktunya tubuhku kalah dan harus menderita demam tinggi selama sehari penuh. Seperti hari ini.</p>
<p lang="sv-SE">”Den&#8230;Aden&#8230;Den Irvan&#8230;”suara ketukan Pak Agah membuatku bingung. Maksudnya apa mengetuk pintu? Ingin pintunya dibuka? Yang benar saja!</p>
<p>”Aden Irvan&#8230;”suara Pak Agah memanggil dari lithyphone di samping pintu.</p>
<p lang="sv-SE">Nah! Itu baru benar.</p>
<p lang="sv-SE">”Kulan&#8230;?”</p>
<p>”Den Irgi pingsan. Saya nemu di depan pintu. Di bawa ke rumah sakit atau bagaimana?”Pak Agah menjelaskan dengan sedikit bingung.</p>
<p lang="es-ES">Aneh. Pak Agah telah lama mengenal keluarga kami. Dia tahu…</p>
<p>“Pak Agah dengan siapa di luar?”</p>
<p>“Aden…maap. Ini ada temannya Den Irgi. Namanya Non Rara&#8230;”</p>
<p>Hum. Pantas Pak Agah terdengar bingung. Rara? Siapa teman sekolah yang bernama Rara? Di kelas 6 tidak ada. Mungkin adik kelas? Uhm, menyebut teman-teman yang lebih tua atau sebaya denganku sebagai adik kelas lumayan menyenangkan juga. He.he&#8230;</p>
<p lang="sv-SE">”Pak Agah tolong ajak Rara ke ruang perpustakaan dulu, boleh? Saya periksa Irgi dulu. Kalau parah biar dibawa ke rumah sakit saja,”</p>
<p lang="sv-SE">Kami berdua tidak pernah ke rumah sakit.</p>
<p lang="sv-SE">”Iya, den. Sekalian saya cari sopir dulu,”</p>
<p lang="sv-SE">Pak Agah, sopir kami.</p>
<p>Langkah Pak Agah dan seorang lagi menjauh dari kamarku. Begitu tidak lagi terdengar aku membuka pintu dan&#8230;itu tubuh Irgi.</p>
<p>Jelas saja Irgi pingsan, ia sepertinya kehilangan banyak darah dari&#8230;luka potong di hampir seluruh ruas yang ada di tubuhnya? Rambut halus di kudukku meremang. Ada yang membunuh Irgi, tadinya, namun ada yang menolongnya. Siapa? Siapa yang membunuhnya dan siapa yang menolongnya?Aaah! ini terlalu menjengkelkan bagi anak yang akan berumur sepuluh tahun sekalipun ia punya kekuatan mengganti ruh, seperti aku.</p>
<p lang="sv-SE">”Kau hanya bisa duduk diam seperti itu atau akan melakukan apa? Kekuatan penyembuhku hanya bisa menahan ruhnya sementara,”</p>
<p>Oh, jadi anak perempuan ini yang menolong Irgi? Tapi kenapa? Eeeh? Menolong Irgi?</p>
<p>Mataku memberi pandangan menyelidik yang curiga padanya. Namanya Rara. Dan ia terlihat tidak mencurigakan kecuali, tentu, pengakuannya.</p>
<p>“Oke, kau kuselidiki nanti saja,”putusku memberitahunya. Ia mencibirkan bibirnya tak peduli. Wajahnya terlihat sedikit sangar dan cemas. Campuran yang menggelikan.</p>
<p>“Kau menunggu apa sih? Warna bayangmu menunjukkan kau punya kekuatan pemanggil yang sangat kuat. Tunggu apa lagi?”Rara berdiri menggoyang-goyangkan kaki kanannya dengan tidak sabar.</p>
<p>Haaah!Aku sedang tidak oke untuk menjelaskan proses pemanggilan ruh Irgi. Aku sedang menunggu seseorang yang dicarikan Pak Agah. Energiku untuk Irgi dan energi ‘seseorang’ untuk aku. Memikirkan saja membuat perutku bergejolak. Aku tidak pernah ingin menggunakan kekuatan pemanggilan ini.</p>
<p lang="pt-BR">“Hei! Kamu&#8230;”</p>
<p>“Aden Irvan ini Pak Cahyo…”suara Pak Agah dari ruang depan, menghentikan suara kesal si perempuan.</p>
<p>Aku muntah. Benar-benar muntah. Semua makanan tadi pagi dan siang tumpah keluar dari mulutku. Perempuan yang bernama Rara itu memberi tatapan jijiknya. Yeah! Memangnya aku memintamu ke sini?</p>
<p>Bapak Cahyo Darmanto. Isterinya sudah meninggal dan tidak punya anak. Tinggal di jalanan. Sehari-hari kerja serabutan di pasar dari tukang bersih, jualan tas kresek, kuli angkat belanjaan para ibu-ibu atau jadi asisten yang bertugas ngipasin lalat para tukang jual ikan. Tapi sudah sebulan lebih terkapar digubuknya di bawah jembatan karena sakit. Pak Agah memberi detail kehidupan sang korban yang dibawanya dengan kursi roda. Pak Cahyo terlihat tidak sadar akan sekelilingnya. Ia menikmati rasa sakit.</p>
<p>Pelan ku merapal, memanggil energi kehidupan yang masih tersisa di tubuh Irgi dan menggantinya.</p>
<p>Dalam hitungan menit kurasakan sensasi berat yang tak tertahankan kemudian rasa sakit itu memukul setiap ruas tubuhku. Seperti tidak ada jalan keluar. Aku tidak bisa bernafas. Kakek Arto, aku melihat bayangannya melayang dengan cepat di depanku. Tidak menoleh. Panas tiba-tiba menyerbuku seperti lingkaran api. Aku merasa dagingku terbakar meleleh perlahan. Aku harus keluar!</p>
<p lang="sv-SE">”Aden Irvan&#8230;”kudengar suara memanggil dari kejauhan.</p>
<p>”Aden, jangan pergi&#8230;ini ada Pak Cahyo&#8230;”itu suara Pak Agah.</p>
<p>“Dia lari ke belakang pak Agah!”suara perempuan terdengar.</p>
<p>”Bukan, dia ada di kamarnya,”Irgi terdengar lebih sehat dari sebelumnya.</p>
<p>”Tidak! Aku melihatnya lari ke belakang. Itu dia! Sekarang ia lari ke luar rumah&#8230;Irvaaan!”teriakan anak perempuan itu cempreng sekali. Ufff.</p>
<p>“Inginkan kehidupan Cahyo Darmanto, Pan,”suara Irgi menuntunku untuk ingat.</p>
<p>Lalu begitu saja, seperti sudah seharusnya, aku tahu semuanya telah lewat. Dan aku ingin muntah. Lagi.</p>
<p lang="pt-BR">***</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/220/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/220/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=220&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasya -Ode Ruh 2-</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-2/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Jan 2010 06:49:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Ada anak pindahan di kelas kami, begitu tadi cerita Irgi di telepon. Anak yang sebaya dengan kami berdua. Jadi lengkaplah ada 3 anak ajaib di kelas 6. Anak ajaib, begitu kami disebut. Pertama kali mendengarnya sih rasa-rasanya mau muntah. Jika saja mereka tahu betapa benar-benar ajaibnya kami berdua. Tapi tentu saja mereka tidak tahu. Teman-teman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=218&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Ada anak pindahan di kelas kami, begitu tadi cerita Irgi di telepon. Anak yang sebaya dengan kami berdua. Jadi lengkaplah ada 3 anak ajaib di kelas 6. Anak ajaib, begitu kami disebut. Pertama kali mendengarnya sih rasa-rasanya mau muntah. Jika saja mereka tahu betapa benar-benar ajaibnya kami berdua. Tapi tentu saja mereka tidak tahu. Teman-teman di kelas 6 menjuluki kami anak ajaib, kerna usia kami yang sangat muda untuk ukuran anak kelas 6 yang rata-rata 11-12 tahun. Irgi pindah ke sekolah ini ketika semester baru saja dimulai, dua bulan sebelum kepindahanku. Saat itu Irgi baru saja berulang tahun yang ke sepuluh sedangkan aku&#8230;masih ada 6 bulan lagi menyusul usia Irgi.</p>
<p>”Kamu sedang ’itu’ ya, Pan?”tanya Irgi di telepon.</p>
<p lang="sv-SE">”He eh,”</p>
<p lang="sv-SE">”Sedang PMS maksudnya?”tanya Irgi kemudian meledak tawa.</p>
<p lang="sv-SE">”He eh,”</p>
<p lang="sv-SE">”Njayahahaa!”tawanya masih kencang,”Serius, pan?”</p>
<p lang="sv-SE">”Iye, ini!”</p>
<p>Irgi diam sesaat, ”Ngaco lu ah!”tukasnya terdengar sedikit kasar.</p>
<p lang="sv-SE">”Ck! PMS yang ntuh&#8230;Pre Monster Syndrome,”</p>
<p lang="nb-NO">Tidak ada tawa Irgi dari seberang telepon.</p>
<p lang="nb-NO">”Gi&#8230;,”</p>
<p lang="nb-NO">Suara telepon terputus. Ugh! Pasti kehabisan koin.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=218&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/14/rasya-ode-ruh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Rasya -Ode Ruh- (1)</title>
		<link>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/07/rasya-ode-ruh-1/</link>
		<comments>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/07/rasya-ode-ruh-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jan 2010 12:21:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>elbintang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dongeng]]></category>
		<category><![CDATA[elbintang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pembacadongeng.wordpress.com/?p=214</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini begitu canggung. Mama tak berhenti mengeluarkan airmata walau sesekali tersenyum sedih padaku. Tak ada warna lipstik merah yang cantik di bibirnya. Wajahnya pucat, sepucat orang-orang yang berdiri di sekitarnya, para tante dan om yang entah muncul darimana. Suasana pagi semakin terang, semakin kelam. Tidak ada suara dan gelak tawa papa yang memecah udara. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=214&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } --></p>
<p><!-- 		@page { margin: 0.79in } 		P { margin-bottom: 0.08in } -->Hari ini begitu canggung. Mama tak berhenti mengeluarkan airmata walau sesekali tersenyum sedih padaku. Tak ada warna lipstik merah yang cantik di bibirnya. Wajahnya pucat, sepucat orang-orang yang berdiri di sekitarnya, para tante dan om yang entah muncul darimana.</p>
<p>Suasana pagi semakin terang, semakin kelam. Tidak ada  suara dan gelak tawa papa yang memecah udara. Tadi, ia pergi sebelum matahari muncul. Tergesa-gesa diiringi pekikan tangis yang membangunkan aku dari tidur. Kira-kira sejam kemudian ia datang bersama beberapa orang. Ia melewatiku tanpa sapa dan membawa-bawa wajahnya ke segala penjuru rumah tanpa senyuman.</p>
<p>Saat semua orang termangu-mangu dengan wajah sedih dan bingung, seseorang duduk di sampingku. Tidak begitu kuperhatikan, sebelumnya. Hanya seorang kakek yang capek berdiri dan ingin duduk saja, mungkin. Pikiranku penuh dengan perasaan tersingkir sejak bangun tadi. Tak ada sapaan, tak ada pelukan ‘selamat bangun tidur’, bahkan tak ada teriakan mama yang menyuruhku cepat-cepat mandi dan berganti baju. Kukira harusnya aku gembira, ternyata tidak. Aku kesal.</p>
<p>Kakek di sampingku menghela nafas panjang berulang-ulang. Makin lama-makin berat seperti gaya Kakek Arto jika sedang berpura-pura sakit. Ah! Aku menoleh dengan cepat. Kakek Arto!</p>
<p lang="sv-SE">Ia mendesah lagi dan menyandarkan punggungnya ke sofa.</p>
<p>”Tetaplah duduk seperti itu, Pipe, agar aku bisa melihat garismu. Patuhi ucapanku agar kau bisa membuat semua orang di dalam rumah ini tidak bersedih,”Kakek Arto berbicara padaku dengan kalimat tegas yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Entah kenapa aku merasa ia tidak benar-benar melihat padaku. Karenanya kudengarkan dengan patuh kata-kata yang diucapkannya setelah lagi-lagi ia mendesah panjang.</p>
<p lang="sv-SE">”Kuyakin kau telah terbangun sejak dini hari tadi. Dan berjalan ke sana-kemari dengan bingung. Kau lihat orang-orang yang bersama dengan ayahmu? Pilihlah salah satu dari mereka. Sebutkan namanya dan inginkan kehidupannya,”</p>
<p>”Pipe!”Kakek Arto menyapu ujung piyamaku pelan,”inginkan kehidupannya,”</p>
<p>Aku tidak begitu mengerti  dengan ucapan Kakek Arto tapi seperti biasa kulakukan saja, apa susahnya. Lagipula, ia orang pertama yang menayapaku pagi ini.</p>
<p>Begitu aku ingin melakukan apa yang sepertinya diperintahkan Kakek Arto, seorang laki-laki bertubuh tinggi besar dan berwajah masam melihat ke arahku hanya beberapa saat yang tidak lama sebelum ia menolehkan wajahnya dipanggil oleh seseorang.</p>
<p>”Pak Tian! Pak Bastian Akhtar?”sapa seseorang.</p>
<p>Aku mengulang menyebut namanya dan tanpa tahu untuk apa, aku ’menginginkan kehidupannya’.</p>
<p lang="sv-SE">Kemudian aku tidak ingat apa-apa lagi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pembacadongeng.wordpress.com/214/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pembacadongeng.wordpress.com/214/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pembacadongeng.wordpress.com&amp;blog=4460010&amp;post=214&amp;subd=pembacadongeng&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pembacadongeng.wordpress.com/2010/01/07/rasya-ode-ruh-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/05187f37bc3627ad1a7c40d68ab4bee5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">elbintang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
