
Putri Api
Princess of Fire (Putri Api)
“Kamu harus benar-benar yakin untuk melakukan ini semua, Michael,”
“Aku yakin, mom. Trust me,”
“And what the hell next? you’ll die?
“Mom, kau mengumpat,”
“Mengapa tidak kita biarkan saja dia yang menemukan, kau?”
“…maka mungkin saja Gabe yang akan mencarinya,”
“…”
“Im not gonna die, mom. Not now. Not in your limitted,”
” i know that…”
***
Angin membawa jerjak hitam beterbangan. Asap meliuk menjauh memisahkan diri dari benda-benda yang kini tergenang dalam basah. Geretakan suara kayu yang menjelma arang dan letupan api kecil dari bara yang luput dihujani air semalaman terdengar seperti ketukan kematian yang menang. Belasan tahun lamanya orang-orang tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Tidak juga seminggu yang lalu.
Seminggu yang lalu…
Betapa cepatnya hari berganti pergi.
”Tubuhmu kedinginan, Sofika,”sapaan Desta disertai kalungan sweater rajutan yang menyebarkan kehangatan membuat gadis itu tersadar. Pagi yang baru saja mencium kaki langit masih membawa angin basah yang menggigilkan tubuhnya.
Ia mengangguk tanda terima kasih tanpa berpaling. Rambutnya yang sepinggang terurai menutupi kedua sisi wajahnya. Hanya menyisakan mata dan segaris hidung yang menatap jauh satu arah.
Bangku ayunan bergetar pelan menerima tambahan beban tubuh Desta. Sepasang kaki panjangnya yang dibalut celana seragam abu-abu menjejak kuat di tanah menahan ritme ayunan yang kacau. Setelah stabil, ia memberi hentakan agar bangku berayun lagi. Berirama.
”Bagaimana kondisi di sini?”tanya Sofika setelah keheningan yang panjang. Desta menatap Sofika gusar dalam beberapa detik kemudian mengalihkan pandangannya ke arah kota yang mulai bangun.
”Oke, basa-basi,” Desta mendesah dengan jengkel, ”…mmh, aku harus mulai dari mana? Tante Emi sehat, kau juga tahu itu, dia yang selama seminggu ini merawatmu. Kakek masih bugar walau ia harus menggunakan banyak ramuan dan seribu cara untuk menenangkan dirimu saat ditemukan. Kehidupan di sini berjalan seperti kota Bogor yang kau kenal,”
Sofika menelengkan kepalanya ke arah Desta, rambut hitam kecokelatan miliknya dijepitkan ke telinga, ”Keadaanmu?”
”Seperti yang kau lihat, tapi kau pandai membuatku jengkel, Sofi,”
Sofika menggembungkan pipi, menutup mata dan menghembuskan udara dalam mulutnya keras-keras, ”Kejadiannya cepat sekali, Eta,”
Sebuah bola air berputar sekitar sepuluh senti sejajar mata Sofika. Besarnya tidak lebih dari bola pimpong. Ia sedang mengingat detail kejadian tujuh hari yang lalu.
”Mereka memang harus melakukannya dengan cepat,”ujar Desta,
Mata Sofika membuka antisipatif,”Jangan bilang selama ini kau memata-matai kami!”
”Baru dalam tiga bulan terakhir,”tukas Desta cepat. ”Aku mendapatkan panggilan dari segel kalian,”
”Itu lebih cepat…”keluh Sofika tercekat di tenggorokannya, ”Kalau aku berhati-hati, aku bisa merasakan keberadaanmu,”katanya parau
”Kau sudah berhati-hati dan sangat setia pada sumpah,”
”Sumpah yang tidak berguna. Lihat apa yang terjadi pada kita! tidak bisa saling menolong, menghabiskan waktu dengan hidup terpisah selama sepuluh tahun yang menyakitkan dan ha! ternyata harus kembali berhadapan dengan kumpulan gerombolan terkutuk,”Sofika beranjak ke bawah pohon Ketapang tua. Ia menjauh agar tangisnya tidak terdengar Desta. Tangisan tidak berdaya tidak patut didengar oleh siapa saja. Maka ia meminjam rintik air pada udara yang basah. Hujan yang ringan menyamarkan isakan pedihnya.
Desta bergeming menunggu emosi Sofika mereda.
”Mari kita coba, Eta!”seru Sofika tiba-tiba.
Titik-titik hujan yang membungkus dirinya menderas ke arah Desta berupa jarum es yang ganas.
Sebelum gerakan yang serupa serangan itu mengenai Desta, selarik sinar hijau dari samping kiri membuat Sofika terjengkang keras. Tidak jatuh. Udara menahannya dengan lembut. Membentuk semacam matras di bawah tubuhnya.
Sofika terkesiap melihat siapa yang membuat dirinya terjengkang.
”Itu tadi tidak sopan, Pak Tua,”tegur Desta pada sosok hijau bertubuh kurus dengan wajah bulat merah seperti tomat.
”Yang Mulia Zola, tapi gadis liar ini menyerang dengan tiba-tiba,”jawabnya lirih namun terdengar muak. Lak-laki yang dipanggil Desta ’Pak Tua’, menundukkan kepalanya takzim, memberi hormat.
”Gadis liar?” mata Sofika melebar, berusaha berdiri dan di saat yang sama ia membenci Desta karena membuat matras udara yang sangat membal. Dengan susah payah, ia akhirnya bisa berdiri.
Setelah tegak ia memandang Desta bingung,”Yang Mulia Zola?”ucapnya pelan tak percaya. Desta tidak membantahnya.
Sofika menatap Desta dengan wajah mengeras. Aliran dingin mengigit tulang belakangnya. Perasaan sakit yang hampir sama dengan sepuluh tahun yang lalu menderanya. Ia merasakan kesendirian yang suram hingga membuat tulang-tulang rusuknya berderak saling merapat. Jantungnya memompa aliran darah tak beraturan. Matanya mengatup kuat hingga bergetar. Kegelisahan dan kesedihan yang dirasakan selama seminggu ini meledak menjadi amarah. Aliran air mengikuti keinginan Sofika, menggelegak keluar dari celah tanah yang semakin lebar. Sedangkan udara di sekitar mereka menggantung pengap. Seperti berada di tungku raksasa.
Terdengar suara Pak Tua tersedak. Aliran air mengelilingi tempatnya berdiri, uap panas mulai terasa di telapak kakinya yang telanjang. Wajah kekanak-kanakan miliknya gelisah, ia memiliki beberapa bakat, namun membebaskan diri dari kurungan air panas hanya bisa dilakukan dengan melumpuhkan pemilik kekuatan air. Itu artinya ia…pasrah.
”Kau boleh tetap di tempatmu, Pak Tua. Aku sudah lama tidak melihat Sofika merebus orang hidup-hidup,”
Hampir seperti api unggun yang disiram oleh air, suara Desta yang halus menarik keluar Sofika dari kondisi emosi yang meluap-luap. Ia membuka mata dan menyadari kekuatannya lepas kontrol. Dengan konsentrasi merasakan denyut emosinya dan memenangkannya, seketika uap panas menghilang ke kedalaman tanah. Udara yang tersekap pengap, buyar dan aliran air, mengering.
Hembusan lega terdengar keras dari Pak Tua, kedua kakinya telah melepuh oleh lumpur panas namun, untuk sesuatu yang tidak bisa diterima, sebelum menjauh pergi, Pak Tua itu terkekeh-kekeh geli. Membuat Desta ingin sekali mendorongnya dengan angin puting beliung.
Sofika membiarkan tubuhnya merosot ke tanah. Ia merasakan kelelahan yang sangat. Kali ini lengan Desta menangkapnya dan membiarkan Sofika duduk bersandar di bahunya.
”Kau memikirkan angin puting beliung, tadi,”ujar Sofika dengan nada senang. Nafasnya memburu karena kelelahan dan ingin tertawa. Ia melirik ke arah Desta, membuat cengiran lebar dan berubah gugup,”…ekhm, maaf, Yang Mulia Zola…” dengan canggung Sofika berusaha membuat dirinya duduk tegap. Desta memutar bola matanya.
Kira-kira tepat di hitungan kesepuluh, terdengar suara air tumpah berikut teriakan gusar yang keras disertai serapah yang banyak. Desta menatap Sofika dan langsung menyadari apa yang telah terjadi. Gadis berwajah senyum itu mengirimkan air dingin untuk mengguyur, Pak Tua. Itu bisa membuat orang kalap bukan main.
Desta menahan senyum. ”Kau…,”tegurnya menggigit tawa. Sofika membuat cengiran lebih lebar.
”Kau menciptakan musuh, Sofi”geleng Desta menatapnya hangat. Wajah Sofika memerah.
”Ia menertawakanku, tadi”bantah Sofika yang disambut gelak Desta yang pecah.
“Ia terkutuk nomor 2,”ingat Desta di sela-sela tawanya.
”Dan kau nomor 1, sekarang…”bisik Sofika resah.
“Kapan, Eta?”berlawanan dengan keinginannya, Sofika bersandar di bahu Desta.
”Apa?”
Sofika mendorong bahu Desta halus dan menggeser tubuhnya agar bisa melihat wajah Desta,”dilantik, apalagi?”
”Kecuali,” lanjutnya. Dan terdiam untuk berkonsentrasi,”kalau kau tidak bermaksud demikian,”
”Yaaa, kalau kau masih memanggilku Sofi, tentunya aku punya harapan untuk tidak dilantik, kan?”sambungnya cepat dengan tidak yakin.
Desta menatapnya dalam beberapa detik lebih lama, kemudian mengangguk sekali.
“Kau tidak akan dilantik”ucapnya tegas.
Sofika merasa hatinya lega.
Hanya beberapa saat.
Setelahnya, tanpa tahu mengapa, ia menjadi gusar dan berderap pergi. Membawa angin yang menyimpan dingin di setiap hembusannya.
Hari memang masih pagi, desah Desta mengiringi.
edited May 28th