h1

el Vittae

Januari 3, 2009

Selamat datang di tempatku. Silahkan menjelajah dan meninggalkan jejak. Setiap kunjungan adalah serbuk-serbuk kebahagiaan yang memberikan kesuburan pada tanah mimpi di sini. Kegembiraan adalah perayaan-perayaan yang dituai dari rangkaian diskusi dan jalinan komentar. Semoga cinta selalu membersamai. amien.

———————————————————————————-

Mari menghidupkan mimpi, menambah energi di bumi (elbintang)

h1

DI HALAMAN BELAKANG OCEAN-DREAM

Desember 29, 2014

Ia ingat setahun yang lalu pernah ke sini. Wafa berjalan menyusuri jalan setapak. Di belakangnya mengikuti Alya, sepupunya.

“Mainnya dekat-dekat saja, ya Fa!” Auntie Stef menjulurkan kepalanya dari jendela besar. Ia mengangguk. Lalu sadar mungkin Auntie Stef tidak bisa melihat anggukannya. Jadi ia menjawab sambil setengah berteriak,”Iya, Auntie Stef.”

“Pake sandal, Fa?” Ia menghentikan langkahnya. Itu suara Amah Ju.

Wafa berbalik. “Tunggu di sini,”perintahnya pada Alya. Sebelum sempat Alya menjawab, ia berlari menuju pintu samping. Hampir saja ia bertabrakan dengan Amah Ju.

“Hei! Mau ke perbatasan?”bisik Amah Ju. Wafa tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepala penuh semangat.

“Hati-hati.” Amah Ju mengalungkan botol minum. Ia melirik tas Wafa lalu tertawa kecil.

“Hati-hati,” ulang Amah Ju.

Wafa mengiyakan sambil cepat-cepat berjalan ke belakang. Sebelum hari semakin panas.

Itu dia! Tanah perbatasan. Setengah berlari ia menuju pagar kawat perbatasan.

“AH!” Alya terpekik kagum. Wafa tersenyum lebih lebar.

Di sana ada sebuah taman kecil. Tidak jauh dari kawat perbatasan.

“Indahnya!” takjub Alya belum reda. Wafa mengangguk-anggukkan kepalanya setuju.

Wafa melepaskan sandalnya dan duduk bersila di atas rumput tebal. Dari tas ia mengeluarkan sekop kecil, kotak kecil berisi kukis. Lalu ia melepaskan botol minuman yang bergantung di bahunya.

“Kau membawa Coki?”tanya Wafa pelan.

Mulut Alya terlihat berkedut. Isak tertahan membuat tubuhnya gemetar.

Wafa menepuk-nepuk pelan punggungnya. Berusaha menghibur. Ia menahan diri agar tidak menangis.

Alya mengeluarkan Coki dari tasnya. Kini ia sesegukan lebih jelas.

“Unh….” Seguk Alya menatap Wafa.

“Khatthannya nnnnggghak bholeh…unh…nangiiisss!…unhhunhhh…”Alya memegang wajah Wafa yang sudah basah.

“Hhhabisnyha sedih,”bisik Wafa cepat-cepat menghapus airmatanya.

Coki, Kelinci berbulu kuning milik Alya. Sebelumnya Coki sakit mata. Lalu besoknya ia mati. Begitu cerita Alya. Ia menangis sejak pagi-pagi sekali begitu tahu. Wafa mendengarnya jadi ikut sedih. Ia ingat tiga ikan mas koki miliknya. Lalu ia ingat kebun ini. Kebun ajaib miliknya. Tidak bisa dibilang begitu juga, sih. Kebun ajaib ini ada di belakang Restoran Ocean Dream milik Auntie Stef. Teman dekat Amah Ju. Jadi, kebun ajaib ini milik Auntie Stef. Tapi Wafa yang menemukan kebun ini. Paling tidak, sebelumnya, Wafa tidak pernah mendengar cerita tentang kebun ajaib ini. Lalu, setelah bercerita ke Amah Ju, kebun ini menjadi rahasianya. Begitu kata Amah Ju. Wafa bisa memilih siapa saja yang ia percaya untuk dibawa ke kebun ajaib. Wafa percaya pada Alya. Lagi pula sepupunya itu sangat sedih. Mungkin saja kebun ajaibnya bisa menghibur.

“Tiga pohon tomat ini dari tiga ikan mas koki yang kau kubur?”tanya Alya sambil memegang buah tomat merah. Merah dan segar. Besarnya hampir sebola pimpong. Wafa tersenyum, mengangguk. “Iya,”jawabnya.

“Kau boleh memakannya.”

Alya tersenyum. Lalu menatap Coki yang terbaring di atas rumput hijau.

“Setelah kita kuburkan Coki, bagaimana?”tanya Alya.

“Baik.”

Wafa mengambil sekop tangannya. Menyerahkan satu pada Alya. Lalu mereka berdua sibuk menggali.

“Mari letakkan Coki di sini,” pinta Wafa dengan pelan. Suaranya terdengar murung.

Alya membungkus Coki dengan kain cokelat. Tangannya gemetar, isaknya kembali terdengar. Ia meletakkan Coki pelan ke lubang yang telah mereka gali.

“Coki cantik ya?” Wafa memandang lama-lama kelinci kuning itu.

“Bhuukaaanh. Coki cakep. Dia, laki-laki,”jawab Alya di antara isaknya.

Wafa menganggukkan kepalanya.

Gadis itu lalu meletakkan plastik di atas pipi Coki. Lalu mulai menutupnya dengan tanah.

Setelah semua tanah kembali rata. Keduanya menangis pelan-pelan.

“Berdo’a Wafa,”ucap Alya. Wafa kembali mengangguk.

Keduanya menunduk dan menangkupkan kedua telapak tangannya menghadap ke langit. Berdoa.

“Alya!”panggil Wafa. Ia lebih dulu selesai berdo’a.

“Aku lapar,”terangnya sambil menawarkan kukis ke arah Alya.

“Menurutmu apakah Coki akan menjadi pohon tomat juga?” tanya Alya sambil menikmati kukis.

Wafa menggelengkan kepala.

“Tidak.”

“Lalu akan jadi apa?” tanya Alya lagi.

“Aku tidak tahu.” Wajah Wafa terlihat berpikir.

“Pohon Tomat itu dari ikan mas koki milikku. Bunga macis ungu itu dari burung Auntie Stef. Bunga putih itu dari katak kamar mandi. Rumput hijau ini dari belalang dan ulat pohon yang mati,” terang Wafa.

“Jadi kita tidak tahu apa yang akan tumbuh besok?” tanya Alya.

Wafa menganggukkan kepalanya. Alya menopangkan kepala di antara kedua lututnya.

“Apa yang kita lakukan sekarang?” Alya bertanya lagi setelah diam sebentar.

“Kau mau merasakan enaknya tomat ikan mas koki, kan?”tawar Wafa. Ia tersenyum lebar pada Alya. Gadis itu menganggukkan kepalanya.

Wafa memetik dua buah tomat. Menyerahkan satu pada Alya dan satu untuk dirinya sendiri.

“Setelah makan, kau boleh menyiram kebun. Aku mau mencari binatang yang mati di sekitar sini,” ucap Wafa.

“Waaa…tomatnya enak sekaliiii.”Alya mencium tomat yang sudah digigitnya. Wafa tertawa geli.

Tomatnya memang enak. Manis, berair dan sedikit asam. Segar.

Tiap menggigitnya, Alya berdecak nikmat. Mereka berdua terkikik geli setiapnya.

Sore menjelang dan waktunya pulang ke Ocean Dream.

“Sampai berjumpa besok, Coki,” pamit Alya.

“Sampai berjumpa besok, teman-teman,”pamit Wafa.

Beriring sambil berlari kecil mereka melalui ilalang yang belukar.

Besoknya, pagi cepat sekali datang. Wafa dan Alya bangun sebelum Amah Ju mengetuk pintu kamar. Mereka menginap di Ocean Dream. Seminggu sekali Amah Ju menginap di sini.

“Kebun ajaib!”pekik Alya girang. Wafa tersenyum lebar. Mereka berdua bergantian mandi setelah selesai sholat subuh.

Amah Ju tersenyum saat melihat mereka sudah duduk rapi di meja makan.

“Pergi pagi-pagi mengunjungi teman-teman?” tanya Amah Ju. Wafa dan Alya mengangguk penuh semangat. Amah Ju tertawa kecil.

“Auntie Stef belum bangun. Jadi kalian hanya bawa makan siang dan minum. Tidak ada kukis.”Ujar Amah Ju.

Wafa mendesah kecewa. Kukis buatan Auntie Stef enak sekali. Amah Ju menepuk kepala Wafa pelan.

“Dan pulang lebih cepat. Sore kita balik rumah,”tambah Amah Ju mengingatkan. Alya dan Wafa mengangguk-anggukkan kepala.

Setelah sarapan dan memasukkan makan siang ke dalam tas, Wafa dan Alya bergegas ke halaman belakang.

“Hati-hati,” pesan Amah Ju.

Melewati pohon mangga. Menuju pekarangan yang dipenuhi belukar. Wafa melangkah di depan. Seperti kemarin. Alya dibelakangnya mengikuti. Keduanya berlari-lari kecil dalam diam. Jantung mereka berdetak lebih cepat.

Lalu di sana! Kebun ajaib yang mereka tuju terlihat.

Kedua gadis itu berhenti berlari. Pelan-pelan keduanya mendekat. Keduanya merasakan debar-debar ingin tahu. Lalu mereka melihatnya!

Mata keduanya bersinar penuh takjub. Wafa mengibaskan kepalanya dengan cepat. Alya mengerjapkan kedua matanya. Lalu keduanya berdecak kagum. Berlari mendekat. Tangan keduanya menyentuh, memegang dan sekali lagi berseru girang. Wafa tersenyum lebar. Alya tertawa kecil. Ia memeluk Wafa. Matanya basah. Keduanya saling bertatapan dan berseru girang hampir bersamaan, “Pohon Lobi-lobi!”

-elbintang@2014-

h1

PERTEMUAN

Desember 29, 2014

Akhirnya mereka bisa bertemu. Setengah jam lagi. Berbagai skenario pernah mereka bincangkan berdua tentang pertemuan pertama ini. Tidak sengaja berada dalam satu pesawat, bertemu di toko buku bahkan rebutan tempat parkir mobil. Koreksi. Bukan pertemuan pertama sebenarnya. Tatap muka pertama. Setelah pertemuan hati.

Ah, jika saja tidak mengalaminya, ia tidak percaya bahwa jejaring sosial tanpa tatap muka bisa membuat hubungan sangat personal. Iya. Pertemuan pertama mereka di sosial media.

Perempuannya selalu salah mengeja kata dan ia menjadi seseorang yang merasa terganggu dengannya. Semacam mesin edit otomatis saja. Beberapa kali. Kalau ia tak sempat melihat kesalahan itu, ada saja orang yang sengaja mengirimkan padanya, hingga ia harus mengoreksinya. Iseng. Lalu menjadi kebiasaan.

Rutinitas pekerjaan kantornya hampir tiap hari tak ada yang istimewa. Begitulah yang namanya rutinitas. Ada satu atau dua kali dalam sebulan ia mendapatkan masalah baru yang perlu dipelajari dari dasar-dasar peraturan dan percabangannya. Selebihnya, waktu hampir-hampir bosan dihabiskan dengan game, saling meledek dengan siapa saja di twitter, path atau sebut saja sosial media lainnya. Orang-orang yang dikenalnya dekat atau sekadar selewatan. Bertemu perempuannya menjadikan hari-hari berbeda. Sesuatu yang pantas ditunggu.

Ketertarikan mereka geliat yang paling senyap dalam diam. Ia menjadi pandai merangkai kata. Tak bisa menahan meletakkan harap pada abjad untuk saling bertukar rasa. Ia menjelma pujangga. Mungkin. Teman-teman banyak menyebutnya demikian. Walau banyak lagi dari mereka yang tahu bahwa ia tak lebih dari seorang yang –maaf- doyan kentut. Perempuannya tak ambil pusing soal itu.

Dari auto edit, ia menjadi penikmat teks dan segala macam yang dibicarakan perempuannya. Masalah perbatasan, kehidupan masyarakat terasing, soal trafficking, penanganan buruh migran wanita hingga apakah pilihan yang enak antara susu atau santan kental untuk gabin panggang. Perempuannya pembuat cerita keseharian yang menarik. Dan ia terpilin, terpesona. Sejauh itu, mereka tak pernah menggunakan ruang privat di sosial media. Friend Zone. Jelas itu maksud perempuannya. Baginya? Batasan yang perlu dilanggar. Jelas.

Kebersamaan membuat mereka dekat. Jarak sekadar meteran.

Lalu ada yang namanya telpun.

Hari mereka dimulai dengan dering dini hari. Membincangkan agenda yang akan dilalui hingga nanti di jelang malam. Suara perempuannya lekat seperti lelehan cokelat. Ia mencandu. Menginginkan untuk bertemu. Tawanya membuat perempuannya tertawan. Dia mendamba. Mereka merindu, menjadi ingin berhadapan, saling bermuka-muka. Sama kuat.

Lalu disinilah ia. Mereka berjanji bertemu di Ocean Dream. Resto-aquarium dengan suasana gedung dan pelataran bergaya Belanda. Selain ada tujuh aquarium dengan jenis ikan yang berbeda-beda, di dindingnya ada foto dan silsilah keluarga. Sepertinya turunan Belanda ini masih ada hubungan luar dengan keluarga keraton. Tapi yang lebih penting dari itu, konon kabar makanannya luarbiasa enak.

“Dimas….?”

Ia perlu menghembuskan nafasnya sebelum membalikkan badan, “My Sweet Chocolate?”

Perempuan di hadapannya tersenyum lebar.

“Kulitnya cokelat, iya. Tapi kalau manis itu sudah pasti,” tawanya lepas. Renyah. Duh benar-benar manis.

Dimas membuka tangannya lebar-lebar, mempersilahkan dilihat dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Perempuannya mengedikkan bahu sebelah. Lalu tertawa lagi.

Perempuannya suka tertawa. Dan ia jatuh lebih dalam. Jauh lebih dalam.

Dimas melepaskan jaketnya.

“Mau berbagi pelukan?”

Mata kecil perempuannya membulat lalu wajahnya tersipu ketika ingat.

Berbagi pelukan.

“Campuran pewangi pakaian, deodorant dan keringat,” ujar perempuannya mengangkat kepala dari baggy jaket Dimas yang didekapnya.

Laki-laki itu tertawa. Ia jadi sangat suka tertawa bersama perempuannya.

“Kau, wewangian pohon yang membuat rindu,”goda Dimas masih sambil menghidu cardigan hijau perempuannya. Mendekapnya dekat jantung. Jiwanya yang setengah.

Mereka telah bertemu. Menjejakkan rindu.

Dimas menghela napas panjang.

Ia melihatnya.

Bening jatuh di sudut mata perempuannya. Lalu dengan cepat dihapus berganti tawa yang pelan.

“Heiii….,”ajuknya lebih seperti bisikan.

“Mau pesan makanannya sekarang?” Seorang pelayan berseragam batik berdiri di samping meja mereka.

Timing yang bagus, bro

Mereka berdua membuka menu hampir bersamaan, membacanya dan keduanya mengangkat kepala saling bertatapan.

“Ah ya.” Dimas melihat menu ditangannya dan berpaling ke pelayan,“Salad buah, risoles keju dan udang goreng tepung, 2 steik iga, 2 chocolate mouse, juice sirsak dan kopi kental tanpa gula. Aku tidak tahu apa nama makanan itu di sini, tapi aku tahu itu semua ada, ya kan?” tanya Dimas ke pelayan dengan penuh percaya diri.

“Benar, Pak,” jawab pelayan itu lalu mengulang kembali pesanan mereka.

Selangkah pelayan itu berbalik arah, meledak tawa dari keduanya.

Nama-nama makanan yang digunakan dalam menu sepertinya berasal dari alat musik daerah. Sampek, Tambo, Karinding, Tehyan, Hapetan, Lado-lado, Saron, Serune Kalee dan lainnya.

“Kita harus sering-sering ke sini biar hapal,” Ucap Dimas di antara tawanya. Perempuannya tersenyum lebar, mengangguk setuju. Hanya sekejap. Bersit sadarnya membawa mendung itu datang. Membuat tawa tak lagi sampai di mata perempuannya.

Dimas mengibaskan sakit yang menghimpit dadanya.

Sejenak mereka menyesap kesunyian. Saling merasakan kehadiran masing-masing. Jiwa bertemu jiwa. Lengkap. Bahkan tanpa perlu kata-kata.

Lalu mereka bincangkan segala hal saat menikmati makanan. Menikmati kebersamaan. Mengungkapkan berbagai ekspresi. Memenuhi ingatan.

Karena mereka tahu, sepanjang-panjangnya waktu, hanya akan sampai di saat ini.

Mereka akan selesai di sini. Senja yang menjadi titik akhir.

Bahkan tidak akan saling mengantar. Walau Dimas tahu, perempuannya akan pulang dengan kereta malam.

“Salam hormat buat Febi,” gumam perempuannya pelan hampir tak tertangkap oleh telinganya. Dimas menganggukkan kepala. Ia tidak sanggup berbicara. Khawatir kata-kata lain yang akan keluar dari mulutnya. Ia menatap perempuannya menghilang di tengah kerumunan persiapan pasar malam di ujung jalan yang mulai ramai.

“Aku titip jiwaku padamu.”

Bisik Dimas pada senja yang mengecat ujung langit sepenuh saga. Ia mengingat percakapan mereka.

“Ketemuan, yuk?”

“Ha? Ogah.”

“Kenapa?”

“Aku takut jatuh lebih dalam lagi.”

“Emang sumur?”

“Kau tahu apa yang aku bicarakan”

“Tapi aku sangat rindu bertemu.”

 “Kalau kita bertemu semuanya berakhir. Mau?”

“Mau.”

“Ha? Berakhir seperti kita tidak pernah kenal sama sekali, Mau?”

“Asal kita bertemu. Apapun. Aku rindu.”

Ia tersenyum pada kerumunan orang. Ia sudah merindukannya lagi.

Dering telpun mengusiknya.

“Ya, Ma?” Duh. Ia masih terbiasa memanggil Mama Febi begitu. Suara lalu lalang membuatnya bergegas membuka pintu mobil dan mengisolasi dirinya dari hiruk pikuk.

“Iya uhm…aku tidak apa-apa.”

Lalu tangis pecah dari seberang.

“Ma, aku benar tidak apa-apa. Let it go. Aku akan hadir di undangan Irwan dan Fe….” Kalimatnya dipotong dengan cepat. Ia mendesah. Mendengarkan beberapa saat lalu menutup teleponnya. Febi dan Irwan. Ia mengira bakal menyebut Febi miliknya seminggu lagi. Siapa yang mengira bola pasangan begitu liar  berputarnya.

Senja tinggal sebaris jauh di balik gedung-gedung.

Dimas mengingat perempuannya. Takdir tak pernah salah. Ia tersenyum. Memutar kunci mobilnya menuju gelap.

“Tunggu penyimpan sebelah jiwaku, sebulan lagi. Selamanya kita.”

Lengan cardigan hijau melingkar di lehernya erat. Berbagi pelukan. Dimas menghidu dalam-dalam. Wangi perempuannya.

Perempuan itu.

Bibirnya membuat garis senyum yang tak sempurna. Duduk menyenderkan kepalanya di jendela kereta yang belum berangkat.

Seminggu lagi Dimas akan menikah. Dia menghela napas penuh-penuh. Sesak meraja. Bukannya tidak tahu. Sejak awal mereka bertemu, masing-masing jelas di mana posisinya dan bagaimana. Lagi pula mereka tidak sedang mencari pasangan. Dimas, maksudnya. Sedangkan dirinya sendiri tidak berpikir untuk membangun hubungan dengan siapa pun.

Hanya begitu saja. Jiwa mereka bertemu pasangan. Dia jatuh  dan patah hati bersamaan.

Dering Muioi Per Te membuat terhenyak. Hatinya berdegup tak beraturan. Lalu ingat bahwa dering itu telah di set publik. Bibirnya melepaskan desis kecewa.

“Ya, Bu? Saya sudah di kereta.” Dia mendengarkan suara ibunya. Lalu tersenyum setengah. Perih di dasar hatinya.

“Iya, Bu, undangan ke Bude Atiek dan keluarga di Jakarta sudah dititipkan. Nggih, Bu.”

Dia menutup mata setelah menyelesaikan percakapan.

Dia tak pernah mengira akan membersamai kehidupan yang baru. Sebulan lagi. Padanya tak ada getar aliran jiwa. Tak ada buncah degup yang merindu. Walau begitu, lelaki itu mampu membuatnya nyaman. Baginya begitu pun sudah cukup. Takdir tak pernah salah, harapnya. Dia memeluk jaket baggy erat. Berbagi pelukan. Bulir bening lepas dari sudut matanya.

-2014@elbintang-

h1

The BUMI

Maret 18, 2013

dihapus

h1

E.

Februari 14, 2012
h1

CSC

Februari 13, 2012

sementara disimpan^_^

h1

SURGA BUKU SURGA

Februari 12, 2012

Hari ini Bu Sofia masuk bersama awan-awan berwarna oranye dan pink yang melayang-layang di sekitarnya. Kemudian menebar ke seantero kelas sembilan.

“Rasanya manis dan segar!” seru Bima yang menjumput segenggam awan oranye di tangannya.

“Bu Sofiaaa,” teriak Laras. “Awan pink punyaku kok rasanya duren?” protesnya melepehkan awan pink dari mulutnya.

Awan itu berubah bentuk.

“Aysss, awannya menjadi kuda putih yang gagah,” seru Laras takjub.

Salah satu teman cowoknya melompat menaiki kuda itu dan pakaiannya berubah menjadi ksatria. Wajah Laras merona merah saat ksatria itu menatapnya. Teman-temannya yang lain bertepuk tangan menggoda.

Lalu tiba-tiba selarik api melesat melalui sekumpulan awan oranye-pink. Suasana kelas menjadi hening.

“JANGAN GANGGU MAMA!” Sebentuk awan pink berubah menjadi anak kecil dengan tato Rangda di keningnya. Matanya mengeluarkan api.

Kuku-kuku jemari Nisa menancap tegang di tangan Tia.

“Kekuatannya belum terkendali. Apa ia akan dibunuh?” tanya Galang tatapannya mengarah pada bocah yang mengeluarkan api.

“Mengapa harus dibunuh?” balas Tia bertanya sambil berbisik. Ia tidak menghiraukan tangannya yang dicengkeram Nisa. Sementara, sang bocah kini mengejar seorang wanita yang berlari sekuat tenaga di depannya.

“Dia sudah membunuh tim sihir pemerintah,” jawab Galang sesekali menghindar dari larikan api yang kesasar.

“Naik ke pelangi…” seru anak-anak lain memberitahu sosok perempuan yang sedang dikejar bocah bermata api.

“Pelangi? Mana pelangi?”

Gerald naik di atas bangku dan menarik sebentuk awan oranye yang berubah menjadi lengkung pelangi.

Jembatan yang menghubungkan segala yang di langit dengan semua yang di bumi.

“Ayo naik!” ajak Gerald penuh semangat.

Jalan pelangi seperti bubur, lunak dan hangat. Tapi tidak akan membuat satu orang pun terjungkal atau jatuh. Setiap ada anak yang naik, lebar jalannya bertambah. Aroma manis-pedas-menyegarkan tercium sepanjang lengkung pelangi.

“Berhenti!” suara lembut seperti lonceng kecil terdengar.

“Berhenti-berhenti-berhenti-berhenti…” suara itu jadi sangat ribut hingga membuat mereka akhirnya berhenti.

“Peri yang nakal!” kekeh Ayu, begitu ia melihat awan-awan berubah menjadi tubuh-tubuh sangat kecil serupa lebah.

Para peri menjawab dengan tawa yang terdengar seperti sebuah lagu.

“Kami butuh…”

“Bantuan kalian…”

“Hanya kalian…”

“Para penunggang pelangi…”

Ayu dan teman-temannya mendengarkan para peri yang berbicara sambung-menyambung. Para peri  itu ingin Ayu dan teman-teman, membantu mereka menyampaikan pesan, pada dua hobit pemegang cincin bertuah.

“Penyihir Sauron…”

“Akan segera bangkit…”

“Pasukan mereka…”

“Akan melewati jalan Frodo…”

“Itu nama salah satu hobit…”

“…”

Yah, intinya, para peri ingin mereka pergi melintasi hutan tadah hujan, melewati tebing jurang, untuk menyampaikan pesan pada dua hobbit itu.

“Bagaimana caranya?” tanya Ayu tidak mengerti.

“Pakai pesawat?” usul Gerald. Semua mendenguskan kata percuma.

“Pakai awan…”hampir bersamaan semua mencetuskan dan baru menyadari sesuatu.

Awan-awan Bu Sofia, semuanya telah menghilang.

Di bawah mereka, membentang hutan yang sangat lebat, berpohon besar-besar dan tinggi.

“Apakah kalian akan meminjamkan serbuk sihir?” tanya Fadel pada seorang peri yang menggunakan mahkota bunga-bunga di kepalanya.

“Betul sekali…”

“Tapi serbuk kami…”

“Hanya cukup…”

“Untuk lima orang…”

Lagi-lagi para peri berbicara dengan sambung-menyambung.

“Tenang saja,” potong Gerald. “Yang lain akan terbang dengan balon-balon gas dan menunggangi kuda dan naga.”

Gemuruh tanda setuju membuat ombak pelan pada lengkung pelangi.

Fadel memimpin rombongan yang diselubungi serbuk ajaib para peri. Gerald menunggangi naga terbang dan Ayu tertawa-tawa bahagia di atas balon gas yang mulai bergerak.

“Mula-mula kita akan berhadapan dengan Kapten Mata-Satu,”

Lalu tiba-tiba semuanya lenyap. Gelap meliputi semua pandangan.

Tepuk lima yang diulang dua kali membuat suara bak dengungan lebah.

“Anak-anak sudah waktunya istirahat.” Suara itu terdengar mendahului pijar nyala lampu.

“Baiklah, tapi besok, buku Peter Pan tetap giliranku, Bunda,” pinta Fadel menarik tubuhnya beringsut naik ke kursi roda.

“Aku punya bubuk ajaib dari peri. Besok aku dan teman-teman akan terbang bertemu Kapten Mata-Satu,” sambungnya dengan senyum lebar.

Setiap anak bergegas membereskan masing-masing bawaannya menuju kamar.

Gerald melangkah mantap dengan tongkat. Kini ia dapat memperkirakan jarak antara ruang duduk dan pintu. Jarak antara gerak kursi roda Fadel dan langkah Bunda yang menggendong Ayu.

Seolah mengingat sesuatu, tangan Gerald menggapai ke arah gadis itu. Menyentuh kepalanya. Bunda berhenti untuk memberi Gerald dan Ayu kesempatan.

“Tadi aku naik naga. Binatang hebat. Cukup menyatukan keinginanku dan hatinya, ia bisa melesat ke tempat yang kutuju,” cerita Gerald bersemangat. Tangannya menarik lengan baju Ayu yang kosong.
“Aku juga hebat,” ungkap Ayu tersenyum.

“Zepelin sengaja membuat balon gas untuk orang-orang sepertiku. Biar bunda tidak capek-capek menggendong,” kerlingnya. Dibalas bunda dengan kecupan di kepala.

“Bunda,” panggil Bima di pintu kamarnya. Suaranya mulai berbentuk walau masih samar.
Tangan Bima bergerak berbicara.

[Hari ini kelas kami punya usul. Ada satu do’a di malam nanti. Semoga yang bikin buku selalu bahagia dan penuh berkah Allah. Hari-hari bersama mereka seperti mencium bau surga]

Bunda meletakkan lima jarinya di bibir lalu telunjuk dan jari tengahnya menyentuh dagu sekilas, kemudian menegaskannya dengan anggukan.

[Usul diterima]

Bagaimana menurutmu Sofia? mereka keren, kan? Bunda melirik sosok penjaga perpustakaan yang terlihat dari kaca jendela. Sosok yang selalu siap menerima gerutuan dan celoteh anak-anak spesial itu berkostum dewi awan hari ini.

Manekin itu mengedipkan matanya sebagai jawaban.

Eh?

h1

Butterfly effect – Jika Kalian Tahu Siapa

Januari 1, 2012

Semua kami berjejer merapat atas-bawah, berdiri-duduk, di kursi-melantai. Penuh. Sebenarnya tidak juga. Hanya kami harus menempel di dinding untuk menyisakan ruangan yang lumayan luas untuknya. Sudah hampir setengah jam ia berjalan hilir mudik untuk mempersiapkan segalanya. Tak ada satu pun yang boleh membantu. Limpi di sebelahku mencubit-cubit pahanya. Ia berusaha menahan diri tidak berlari menjulurkan kaki dan tangannya untuk menawarkan mengangkat sesuatu atau menjelma menjadi sesuatu. Dorta dan lainnya tadi terlihat tenang dengan biskuit kemasan yang mereka makan pelan-pelan.

Kini kemasannya seolah berisi cerita dongeng paling menarik karena berpindah-pindah dan dibaca dengan penuh perhatian. Yah, tidak ada yang ingin melewatkan detail cerita dongeng paling menarik, kan? Hal itu akan menjadi aib karena tidak ada yang perlu disampaikan pada anak-cucu selain cerita dongeng paling menarik yang kau baca. Tentu kemasan biskuit yang berwarna biru-kuning-merah seperti warna isi printer tidak berisi cerita dongeng paling menarik. Tapi membaca-mengedarkannya dan menunggu kemasan itu sampai di tangan, lumayan cukup mengalihkan dari apa yang sedang terjadi di tengah-tengah ruangan.

”Baiklah.”

Suara itu berhasil membuat semuanya sejenak berhenti bernafas. Memusatkan perhatian ke arahnya. Dan serentak membuat cengiran pemandu sorak.

Ia tersenyum lega dengan wajah merona.

“Sims ala sims ala bim!”

Ketukkan tiga kali di atas roti isi yang sebesar piring makan. Kepulan asap keluar dari tongkat berujung bintang. Mula-mula tipis kemudian menjadi lebih pekat. Lingkaran paling depan terdekat tersedak asap dan terbatuk-batuk. Beberapa menit diperlukan untuk menghilangkan asap. Semuanya kembali menahan nafas. Roti isi sebesar piring itu masih di sana. Menatap balik ke arah kami. Ah, hanya kiasan.

“Sims ala sims ala bim!” Ia mengulangnya sekali lagi.

Kali ini tidak hanya asap tapi ada bunyi letupan yang menyertai. Batuk-batuk terjadi lagi. Perlu beberapa menit lagi.

Roti isi sebesar piring itu benar-benar bebal.

Ia mulai menggigit-gigit kuku. Titik-titik keringat membuat dahinya mengkilap basah.

“Sims ala sims ala bim!” Ia belum menyerah.

Batuk semakin ramai, bersahut-sahutan dengan letupan yang sepertinya tidak akan berhenti.

Pertama kali yang terlihat adalah senyum lebar dan tetesan air matanya. Lalu ada Dorta, Limpi, Numan, Feti dan aku. Di sana. Di tengah-tengah ruangan. Berpegangan tangan, membungkuk dan memberi hormat layaknya pemain opera.

”Ap-a…” Sebelum selesai ujaran protes, para makhluk jelmaan menghilang dengan bunyi yang mengingatkan pada jagung yang dipanggang.

Semuanya bertepuk tangan. Si pesulap melompat-lompat liar. Limpi berlari ke tengah mengambil roti isi sebesar piring dan membagi-bagikan pada semuanya. Kecuali aku. Rasanya menjijikkan memakan sesuatu yang dapat menjelma menjadi sosok sepertimu.

”Itu tadi keren sekali,”ujar Dorta. Tubuh besarnya mengambil separuh bagian tempat duduk.

”Merapal tiga kali dan membuat jelmaan yang tidak bisa bernapas lebih dari lima menit. Itu kemunduran untuk ukurannya,” sela Limpi dengan mulut meneteskan minyak keju dari roti yang sedang dimakan. Ia baru selesai membagikan roti isi yang diambilnya dari dapur. Melihat tempat duduknya dikuasai Dorta ia mengalah dan duduk di lantai.

”Ia juga tidak melayang seperti biasanya,” sambung yang lain.

”Menjadi Ibu Peri tidak harus selalu melayang,”jawab Limpi cepat

”Akhir-akhir ini, ia juga selalu terlihat gemuk. Padahal ia paling bosan dengan model itu-itu saja.” Limpi mengangguk setuju. Dorta memutar kedua bola matanya.

”Apakah dia sakit? Tadi kulihat dahinya mandi keringat.”

”Jangan bercanda! Tidak ada Ibu Peri yang bisa merapal saat sakit,”tukas Limpi cepat. Beberapa suara dan anggukkan menyetujui.

”Tapi untuk apa ia membuat jelmaan kalian berlima?”

Nah. Itu juga yang menjadi pertanyaanku pada Ibu Peri. Ah, maksudku pada si tukang sulap. Selain membuat jelmaan adalah ilmu sihir tingkat tinggi yang dapat mengancam jiwa. Jiwa si tukang sulap, tentunya. Juga melakukan sihir-sihir semacam itu bisa menarik perhatian Kalangan Atas. Dan tidak ada yang ingin didatangi oleh salah satu dari mereka saat ini. Tidak aku atau Dorta atau Numan yang sedang memberi tanda yang entah apa pada kami.

”Aku ingin kau ukur lagi,” tepuk Dorta di bahuku. Ia memegang pinggangnya yang bertambah besar. Ia baru makan jadi wajar saja kalau menjadi besar.

”Caw, kau akan tampil lagi Dorta? Sebagai apa? Boneka beruang yang lucu itu?”

Dorta tertawa. ”Aku tidak akan bisa lebih lucu lagi kalau Limpi menghidangkan kita makanan-makanan yang enak setiap hari.”

Limpi tersenyum lebar.

”Caw, Limpi…aku ingin menanyakan resep kripik pisang keju yang kemarin itu…”

Dan semua hampir bersuara bersamaan menuntut perhatian Limpi dengan resepnya.

Cicit dan tubuh Limpi tenggelam di tengah kerumunan.

Tepat guna. Dorta dan aku pergi dalam diam.

Numan menantikan kami dengan kaki yang tidak berhenti mengetuk lantai. Mungkin ada lagi lagu baru yang harus kami pelajari jika ketukan kakinya menemukan bunyi yang indah.

”Cepat sedikit,” ujarnya menyambar tangan Dorta. Langkah kaki Numan terlalu cepat untuk diimbangi. Dorta berlari-lari kecil di sampingnya.

Kami berhenti di depan pintu berwarna merah emas. Dorta belum sempat mengatur nafasnya ketika pintu itu terbuka dan mengisap, memaksa kami untuk masuk.

Lalu ada laki-laki yang hanya kami kenal dari foto. Duduk di sebelah tempat tidur Ibu Peri dengan wajah yang muram. Siapa dia tidak ada yang pernah bertanya pada Ibu Peri. Anaknya, bapaknya, suaminya, ekhm, apakah pasangan itu disebut sebagai suami untuk peri? Ternyata ada banyak yang kami tidak ketahui tentang peri. Terlebih lagi tentang orang ini. Entah apa wajah dan postur tubuhnya selalu begini atau seperti Ibu Peri kami.

Perempuan itu bisa tampil dengan sosok gendut yang menggelung rambut pirang madunya rapih ke atas. Memamerkan leher katanya. Apanya yang perlu dipamerkan! Atau sosok ramping dipenuhi tulang dengan rambut pirang ikal sepinggang. Atau sosok indah yang berlekuk-lekuk dengan kaki jenjang dan rambut pirang sebahu yang halus acak. Yah, satu hal yang selalu sama, ia selalu berambut pirang. Entah pirang kemerahan, pirang madu, pirang jerami, pirang emas, segala pirang yang bisa membuat salon-salon berebut ingin tahu bagaimana caranya. Ia marah besar saat aku menyarankan ia tampil sesekali dengan rambut hitam bergelombang. Seperti seseorang dalam mimpiku. Bukannya aku ingin jatuh cinta pada Ibu Peri, tapi apa masalahnya sih? Ia toh selalu berganti-ganti bentuk tubuh, kulit dan wajah. Tetap saja kami mengenalinya sebagai Ibu Peri. Tak akan tertukar, sumpah!

”Mendekatlah ke ranjang, Ibu ingin meminta bantuanmu.” Laki-laki yang entah siapa itu menatapku. Maksudnya meminta bantuanku? Aku perlu didorong keras oleh entah Dorta atau Numan. Kakiku harus mencengkram kuat lantai hingga terdengar seakan menggoresnya. Tubuhku terlalu besar untuk sebuah ranjang peri. Bisa-bisa Ibu Peri tumpah dari ranjangnya akibat senggolan lututku.

Tapi tetap saja aku menyenggolnya. Tidak sengaja. Sungguh. Hanya saja. Sebentar. Udara di sekitarku terasa berkurang hingga tidak cukup lagi kuhirup. Sebentar. Mengapa Ibu Peri tertidur dengan sosok seperti itu? Satu dari yang kami ketahui, peri tidur dengan sosok aslinya. Dadaku sesak. Peri hanya tidur jika masanya hampir habis. Itu dua hal. Kepalaku berdenging. Setelah menyenggol ranjang Ibu Peri yang ternyata sangat kuat, tubuhku terduduk ke belakang.

Banyak kata yang ingin aku ucapkan. Tidak ada satu pun yang tepat untuk menjadi awal aku bersuara. Laki-laki yang-entah-siapa perlu mengeluarkan tongkat sihirnya ke arahku. Otak dan jantungku bergerak selaras, akhirnya. Ia membantuku seimbang.

”Ibu Peri membutuhkanmu,”ulang laki-laki itu..

Curang. Ibu Peri ternyata memiliki rambut yang lebih gelap dari malam. Ia cantik sekali dengan sosok aslinya.

Ibu Peri memanggil namaku pelan. Aku beringsut memanjangkan kepala. Wajahku terasa panas melihat sosoknya seperti itu. Juga merasa sesuatu jauh di dalam dadaku mulai berdarah. Rasanya perih.

”Tidak!” suaraku lebih keras dari yang kumaksudkan. Ibu Peri meminta hal yang tidak mungkin kulakukan.

Numan menampar belakang kepalaku. Dorta membelalakkan matanya yang telah penuh airmata. Pendamping laki-laki, begitu saja ia kusebut, diam tanpa ekspresi apa-apa.

”Aku bukan Kel.”

Laba-laba itu menjulurkan kakinya dari atas kepalaku. Aku bersin-bersin. Tidak berhenti hingga salah satu dari Numan atau Dorta berbelaskasihan mengangkat turunan dewa iseng itu dari atas kepalaku.

”Kau membantu atau kita berlima diminta bertemu Kalangan Atas,” erang Numan.

”Tentu Ibu Peri yang akan mendapat hukuman yang berat. Di masa akhirnya, kau tahu,” sungut Dorta menambahkan dengan cepat.

”Kenapa bukan Kel saja? Ia sudah belajar sulap sejak memerankan Ibu Peri?”

”Apa kau tidak bisa liat pantat besarku dan semua tangan-kaki yang kumiliki?” tuntut Kel geram. Ia tidak menyebut kemampuan sulapnya yang payah.

Otakku berputar. Tidak mungkin musibah ini terjadi pada diriku. ”Kita tidak akan dituntut karena membantu tugas Kalangan Atas. Kalau Kel tidak merupa Ibu Peri akhir-akhir ini, teman-teman bisa jadi gila. Kekacauan besar-besaran akan terjadi.” Semua mendengarkanku. Bahkan Ibu Peri membuka matanya yang sejak tadi tertutup. Kecuali saat ia berbicara denganku tadi.

”Kalangan Atas tidak bisa menghukum yang berbuat baik. Betul, kan?”tatapku pada si laki-laki pendamping.

”Tidak juga. Kau tahu hukum alam yang bernama butterfly effect?”

Dengusanku mengangkat ujung selimut Ibu Peri. Inginnya kukatakan tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia sebutkan. Tapi daripada begitu, ”Kau tidak dapat memastikan hal itu,” elakku.

”Tentu saja ia bisa,” Numan lagi-lagi menamparku. Kali ini di bagian telinga. Walau aku selalu kalah jika berkelahi dengannya tetap saja rasanya aku ingin sekali mengajaknya berkelahi saat ini.

”Dia…anggota Kalangan Atas,”desis Dorta. Pelan namun cukup membuat jantungku berhenti. Persendianku melemas dan mataku berharap bisa berkedip. Cerita dongeng memberitahu kami bahwa paling tinggi kekuasaan sesuatu paling sederhana tampilannya. Kecuali pengarangnya norak. Si laki-laki pendamping ralat Si anggota Kalangan Atas ini berpenampilan seperti cerita-cerita dongeng itu. Sangat sederhana.

”Tidak ada jalan keluar. Mari kita lakukan.”

Turunan dewa sialan. Dorta memelukku. Numan membungkuk takzim, lagi-lagi sikapnya yang aneh itu. Anggota Kalangan Atas mengangguk padaku. Ibu Peri, sosok Ibu Periku tersenyum.

Baiklah. Mau bagaimana lagi?

Lalu hari-hari kami penuh dengan agenda-agenda tersembunyi. Teman-teman tidak curiga saat kami beritahu bahwa kami akan berlatih merupa dengan Ibu Peri. Semua dibagi dalam kelompok-kelompok. Ya, pada prakteknya kelompok-kelompok itu berlatih dengan Kel. Aku, Dorta dan Numan berlatih dengan si anggota Kangan Atas, kami belum diberitahu siapa namanya atau sebutannya. Bahwa sebelumnya dalam dongeng nenek moyang kami pernah melakukannya itu sungguh mempermudah. Bedanya, oh seandainya mereka tahu apa yang akan kami lakukan. Tepatnya yang akan aku lakukan. Entah apa yang akan terjadi dengan butterfly effectnya si anggota Kalangan Atas itu.

Waktu berjalan seakan sudah bertahun-tahun yang tidak ingin kuakhiri dengan hari ini. Hanya saja bukan seperti itu maksud bumi berputar, bukan?

Kami diantar ke atas sebelum kelompok-kelompok yang sudah dilatih Kel. Apakah perlu kuingatkan Kel merupa Ibu Peri jika berhadapan dengan teman-teman? Ya, itu dia. Menuju ke arahku dengan cara melayang. Oh, aku belum pernah melihatnya setinggi itu. Ia merapal. Lalu sekelompok teman-teman berubah menjadi kuda gagah rupawan. Merapal lagi. Mengubah labu menjadi kereta. Numan merupa kusir yang tangkas dan berwibawa. Boneka beruang Dorta telah bersamaku. Lalu Ibu Peri membuat sentuhan-sentuhan memukau untuk perhiasan kuda, perhiasan kereta, gaun yang cemerlang tidak ada duanya hingga sepatu kaca. Semua berlangsung lancar. Bahkan aku bisa merasakan hembusan nafas lega dari boneka beruang Dorta. Dan garis lega di pipi Numan.

Kami pergi menuju pesta. Ya, apa kau bisa mengingat cerita dongeng yang seperti ini? Laju kereta sangat nyaman di jalan berbatu. Memang beda jalan menuju istana dan jalan di daerah pedesaan. Walau bebatuannya berasal dari sungai yang sama. Aku hampir tertidur saat suara Numan memberitahuku telah sampai.

Aku menuruni kereta dibantu Numan. Seolah aku seorang yang tua renta. Bahkan anak-anak akan senang hati melompat dari kereta yang setinggi ini. Numan mengingatkan diriku untuk tersenyum. Butterfly effect. Aku memperbaiki peranku.

Tersenyum. Bersuara merdu dan mengagumkan setiap orang. Sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana caranya aku mengenal dua orang saudara dan ibu tiriku di tengah-tengah para gadis cantik-cantik dan berkilau seperti ini? Ternyata mudah. Mata adalah jendela hati, kata manusia. Dari mata mereka kulihat kekosongan hati. Kuputuskan tidak perlu menyapa mereka. Lagipula mereka tidak mengenal diriku, kan?

Denting piano menghentikan acara minum-makan dan kelompok-kelompok bergosip. Seseorang dengan pakaian penuh tanda jasa mengumumkan acara dansa. Lalu mulailah laki-laki yang tidak begitu tampan berdansa di tengah-tengah ruangan dengan putri yang dipilihnya. Dialah pengeran. Setiap dua baris lagu, pangeran mengulurkan tangannya atau memindahkan pasangan dansanya ke laki-laki yang siap sedia di sampingnya. Begitu terus yang terjadi. Lagunya berganti namun tetap saja waktu pergantiannya tiap dua baris. Lalu tepat jam dua belas kurang sepuluh menit, pangeran menuju jajaranku. Dua baris-berganti. Ia menatapku. Dua baris-berganti. Pangeran tersenyum padaku. Mengapa ilmu sihir anggota Kalangan Atas itu tidak bisa mengubah jiwaku menjadi jiwa putri? Aku merinding melihat senyum pangeran itu. Dua baris-berganti. Masih dua putri lagi. Aku ingin pergi menghindar. Dua baris-berganti. Putri di sampingku menatap sang pangeran dengan kerlip memuja.

Dua baris telah lewat. Oh? Kali ini aku yang panik. Apa yang terjadi? Apakah wajahku dipenuhi bulu-bulu? Dua baris lagi. Para ibu mulai mendesah kecewa. Ibu di belakangku menahan kikik bahagia. Mungkin ibu sang putri yang sedang berdansa lebih dari dua baris dengan sang pangeran. Waktu terus berjalan. Hingga jam dua belas tinggal beberapa menit lagi. Aku mendongak melihat jam besar itu. Ada sesuatu yang kulupa.

”Tidak kali ini.”Suara berat dan wajah senyum sang pangeran terpisah beberapa senti saja dari wajahku.

”Apa?” tanyaku kaget.

Ia mengulurkan tangannya untuk berdansa. Aku menerimanya setengah linglung. Berusaha mengingat sesuatu yang ada hubungannya dengan jam.

”Tidak pergi lagi dariku, Putri,” ujarnya dengan senyum kemenangan.

Dentang jam besar itu membuatku terkejut. Pangeran menatapku lama.

”Ah, ternyata aku melakukannya dengan benar.” Ia mengangkat sebelah tanganku dan memutar tubuhku pelan. Ada yang mengatakan begitu cara pangeran menyatakan telah memilih sang putri pasangan hidupnya.

Aku berputar.

Jam berdentang hingga kali yang ke duabelas.

Aku menyadarinya. Kel! Ia lupa merapal sampai batas kapan aku merupa.

Semua orang bertepuk tangan memberi selamat pada pangeran.

Kel! Oh, Kel!

Lalu orang yang memakai beragam tanda jasa itu mengumumkan hal yang paling menjijikkan sedunia.

Pangeran boleh mencium pasangannya.

Oh, jika saja ia tahu.

Pangeran memeluk tubuhku erat. Kel! Dasar turunan dewa yang tidak berguna!